Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 

Counter Stats
 
   

Dorian, Mengubah Sampah Menjadi Lebih Bernilai

 


D i benak sebagian besar masyarakat Indonesia, sampah adalah sesuatu yang tak berguna sama sekali. Saking tak bergunanya, boro-boro berpikir untuk memanfaatkannya, kita pun bahkan cenderung tak peduli bagaimana membuangnya secara benar. Sarapah, apa pun bentuknya, ki­ ta lempar seenaknya ke jalan, selokan, sungai.

Atas semua kecerobohan itu, alam pun menghukum kita. Gara-gara sampah yang menumpuk di kali-kali, Jakarta kebanjiran cukup dahsyat pada dua pekan lalu. Kerugian yang diderita tak kurang dari Rp 5 triliun.

Perilaku buruk ini tentu sulit diubah seketika. Karena itu, kita hanya bisa berharap ada orang- orang yang memiliki kepedulian lebih pada sampah dan mampu mengelola sampah secara benar. Orang-orang ini kita harapkan menjadi agen-agen perubahan, dari kondisi masyarakat yang tak peduli sampah menjadi peduli.

Untuk itu semua, kita harus berterima kasih kepada Haji Dorian Samoga Naibaho, pemOik PT Interco Bisnis Langgeng, perusahaan dengan bisnis inti pemilahan dan daur ulang sampah yang bermarkas di bilangan Tanjung Uncang, Batam, Riau.

Dorian tak hanya mampu mengelola sampah secara benar, tetapi juga membuat sampah menjadi bernilai melalui proses pemilahan dan daur ulang. Pekerjaan ini dilakoninya bukan hanya sekadar cara mencari nafkah, tetapi dilandasi sejumlah filosofi tentang kehidupan.

"Suatu saat, mungkin tak lama lagi, sumber daya alam akan habis terkuras jika dieksploitasi terus-menerus. Karena itu, proses daur ulang dan pemanfaatan kembali sampah menjadi penting dalam kehidupan kita," kata insinyur teknik sipil dari Universitas Kristen Indonesia ini.

Dengan sentuhannya, sampah-sampah bekas industri di Batam diolahnya menjadi komo-ditas ekspor yang bernilai tinggi. Ditambah keahliaiuiya membaca pasar, tak aneh, bisnis Dorian terus berkembang hingga aset perusahaannya menjadi puluhan miliar rupiah.

J Dorian pun bisa berbangga hati karena bisnis yang dipeloporinya sejak 10 tahun silam di Batam ini telah banyak ditiru orang. Atas segala sepak terjangnya di bisnis penanganan sampah, Dorian pun diberi penghar- gaan dari berbagai pihak, mulai dari UKM terbaik sampai Kalpataru yang merupakan peng-hargaan untuk insan yang berjasa dalam pelestarian lingkungan hidup.

Keluar dari pekerjaan

Ketertarikan Dorian pada sampah muncul pertama kali saat dia mengikuti pendidikan di Amerika Serikat (AS) pada tahun 90-an. Di situ dia melihat proses pemilahan komponen-komponen elektronik berdasarkan bahan-bahan dasarnya, seperti plastik, besi, dan timah. Setelah dipilah-pilah, bahan-bahan tcrsebut menjadi bernilai kembali karena sudah bisa dijual untuk dijadikan bahan baku produk elektronik.

Dengan logika suatu saat sumber daya alam pasti habis, Dorian berpikir usaha ini jelas memiliki prospek yang sangat bagus. Apalagi, belum ada yang melakukan ini di Batam.

Sekembalinya dari AS, keinginan Dorian untuk berwira- swasta semakin besar. Akhirnya jabatan senior manager di hardisk Seagate Technology dengan gaji Rp 8,6 juta per bulan pada tahun 1996 pun ditinggalkannya.

Dorian tak bisa menampik bahwa sejatinya dia sangat berjiwa wiraswasta. Sebab, dia selalu jeli dalam melihat segala peluang usaha. Dia juga kreatif dan inovatif dalam berbisnis. Terbukti kelak kemudian, Dorian selalu menjadi pionir dalam banyak bidang usaha di Batam.

Tahun 1996, Dorian memulai usaha pemilahan sampah elektronik dengan tempat produksi di rumahnya sendiri di bilangan Batam. Modalnya hanya berupa gaji terakhirnya dari Seagate se-besar Rp 8,6 juta.

Dengan gayanya yang lugas dan sederhana, Dorian tak canggung berteman dengan para pengangguran yang kemudian direkrutnya sebagai pengumpul sampah elektronik.

Pengalamannya bekerja di Seagate membuatnya pah am mengenai bahan-bahan dan komponen elektronik, termasuk bagaimana cara memisahkannya berdasarkan jenis bahan masing- masing. Bisnisnya juga diuntungkan dengan berkembangnya Batam sebagai kawasan industri yang banyak menghasikan sampah elektronik.

Kemampuannya dalam berkomunikasi, berteman, dan memiliki basis data yang memadai tentang peta industri di Batam mem­ buatnya semakin mud ah mendapatkan sampah elektronik.

Hebatnya lagi, Dorian bukan pihak yang membayar untuk mendapatkan sampah dari orang yang membuang, tetapi justru pihak yang dibayar oleh si penulik sampah. Penghasilan yang dida- patnya pun berlipat ganda.

Pertama, usahanya berkembang karena hasil yang didapat atas jasa membuangkan sampah, dan kedua dari penjualan sampah. Untuk lebih memberikan hasil yang maksimal, tak jarang Dorian turun sendiri mengumpulkan sampah tersebut.

"Awahiya saya mulai dengan yang paling mudah, yakni memisahkan timah putih yang biasa dipakai untuk perakitan komponen, misalnya di printed cir­cuit board atau PCB," kata Dor-Ian, yang juga pernah bekerja di produsen elektronik General Electric dan Fujitech.

Namun, realitas di lapangan kerap kali tak seindah bayangannya. Di tengah jalan, modal usaha Dorian makin menipis, sedangkan hasil penjualan belum bisa diharapkan.

Beruntung pada saat itu ada peluang untuk mendapatkan kredit, meskipun jumlahnya kecil. Melalui skema Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP) dari Bank Negara Indonesia (BNI) sebesar Rp 5 juta, roda usahanya yang sempat bergerak lamban perlahan mulai membaik.

Dipasarkan lewat internet

Kegemarannya menjelajahi dunia maya melalui internet pun sangat membantunya dalam memasarkan bahan-bahan yang dikumpulkannya. Dia menawarkan hasil olahannya ke berbagai perusahaan daur ulang di luar negeri melalui dunia maya itu.

Maklum, industri perakitan komponen dasar di Indonesia masih sangat mrnim. Alhasil, Dorian berhasil mengekspor ko- moditas hasil olahannya ke Je- pang , Taiwan, dan India.

Seiring perjalanan walctu, usa­ ha Dorian berkembang. Jenis bahan yang diekspomya makin beragam. Dia juga mendaur ulang sampah berbahan plastik menjadi biji plastik untuk di- ekspor ke Inggris.

Di Inggris biji plastik olahan itu dijadikan kantong plastik be­ sar untuk menampung sampah. Omzet penjualan hasil penulahan dan daur ulangnya kini mencapai miliaian rupiah per bulannya.

Tak hanya bergerak dalam bisnis pengangkutan dan daur ulang sampah, Dorian juga me-lebarkan sayapnya ke berbagai jenis usaha, seperti peternakan ayam, pengelolaan pasar induk Batam, minimarket, air minum isi ulang, dan kafe internet Total asetnya kini mencapai pu­luhan miliar rupiah.

"Saya lebih senang menjadi pionir ketimbang mengikuti apa yang telah orang lain lakukan. Berbagai bisnis yang saya geluti saat ini merupakan usaha-usaha pionir di Batam," kata pria yang tampak selalu optimistis ini.

Dalam membangun kerajaan bisnisnya, Dorian selalu bermitra dcngan BNI. Outstanding pin- jamannya di BNI kini mencapai sekitar Rp 7 miliar.

"Hubungan saya dengan BNI berjalan sangat baik. BNI juga sangat memahami kebutuhian sa­ ya. Intinya. BNI memberi kontribusi pada bisnis saya," kata Dorian.

Langkah Dorian tak berhenti sampai di sini. Di benaknya sudah bersemayam rencana yang lebih besar.

Dia ingin membangun pabrik daur ulang produk berbahan bahan besi. Bahan bakunya antara lain berasal dari mobil rongsokan. Sejumlah pabrikan mobil di luar negeri, kata Dorian, siap mene- rima hasil daur ulangnya.

Meskipun hidupnya dipenuhi perhitungan bisnis, Dorian tak lupa memcnuhi tanggung jawab-nya sebagai bagian dari masyarakat. "Dalam rezeki yang kita terima, selalu ada rezeki orang lain. Karena itu, kita harus bersedekah".

Untuk memberikan rasa syukur dalam dirinya. Dorian membangun masjid dan pesantren gratis bernama Fathali Mudin- lah. Pesantren itu khusus untuk nendidik anak-anak fakir miskin, yang kini ada sekitar 150 anak. Selain itu. dari kelebihan hasil usahanya, Dorian pun "memberangkatkan karyawannya untuk berhaji.

Tanggal Tayang : 16-2-2007
Sumber : Kompas

 
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia