Lahan seluas 15 hektar itu dipenuhi biji dan setek jarak pagar (Jatropha curcas). Jumlah 250.000 setek itu sedang diupayakan bertambah 500.000 buah lagi selama musim hujan ini.
Saya kerja dengan biaya sendiri. Karyawan 20 orang ini saya upah Rp 20.000 per hari per orang. Semua saya korbankan karena ingin sukseskan jatropha di NTT. Tanaman ini dapat tum- buh di lahan kritis yang men- dekati 2,5 juta hektar. Lahan itu terabaikan sampai hari ini oleh pemerintah," kata Ory Octavianus, Kepala Perwakilan Badan Penerapan Pengkajian Teknologi Nusa Tenggara Timur (NTT), di Kupang, akhir Desember lalu.
Ketika ditemui di lokasi pembibitan jarak di Kelurahan Noel-baki, Kabupaten Kupang, Ory tengah bermandi keringat. Putra Rote-Ndao, NTT, ini harus bekerja keras mengejar musim hu jan yang menurut perkiraan Badan Meteorologi dan Geofisika hanya berlangsung tiga bulan di sana . Sebanyak 250.000 bibit itu sudah dipesan PT PLN Wilayah NTT. Sedangkan 500.000 bibit yang sedang diupayakan ditanam musim hujan ini akan cuma-cuma diberikan kepada ma-syarakat untuk ditanam di lahan kritis.
Sosialisasi
Menurut Ory, selama ini kegiatan penghijauan yang bersifat proyek pemerintah hampir sebagian besar gagal. Umumnya petani tidak suka kegiatan bersifat proyek sebab bibit tanaman yang dibagikan kepada petani sebagian besar sudah rusak atau tidak sesuai dengan keinginan petani. Mereka kecewa proyek hanya menguntungkan pimpin- an proyek atau kontraktor.
la berupaya menyosialisasikan kepada petani fungsi jarak terkait dengan iklim dan lahan NTT, serta keuntungan bagi petani. Pekerjaan ini tidak mudah karena petani ingin tahu berapa harga atau keuntungan yang ba- kal mereka terima.
Pria kelahiran 18 Oktober 1957 di Kupang itu sangat optimistis jarak dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Secara alamiah sudah ada sekitar 120.000 hektar jarak tumbuh sporadis di sejumlah kabupaten di NTT dan selama ini bijinya terbuang begitu saja.
Agar minyak jarak dapat digunakan untuk bahan bakar solar alternatif, bahan bakar kompor sumbu, dan kepentingan lain dalam keluarga, harga buah jarak di tingkat petani tidak boleh lebih dari Rp 5.000 per kilogram.
Menurut Ory, petani belum sependapat dengan harga tersebut karena, menurut mereka, terlampau rendah.
Suami dari Ismayawati, guru SMP di Serpong, Tangerang, Banten, serta ayah dari Roni Octavianus (lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) dan Dena Octavianus yang ma- sih di SMAN 1 Serpong ini ber-usaha meyakinkan, apabila jarak ditanam dalam jumlah besar serta produktivitas biji tinggi dan berkualitas, petani akan mendapat keuntungan besar.
Pada musim hujan ini, setiap pekan Ory mengeluarkan uang sekitar Rp 3 juta per minggu untuk belanja bibit setek dari batang atau cabang, dan biji jarak dari masyarakat. Ory rela mengeluarkan dana pribadi dari sebagian gajinya, gaji istrinya sebagai guru, ditambah bantuan dari saudara-saudara Ory untuk memenuhi cita-cita memajukan kampung halamannya.
Setiap hari 2-3 truk masuk ke lokasi pembibitan membawa setek batang dan cabang jarak. Be lum termasuk membayar gaji 20 karyawan, biaya makan-minum, membeli kantong plastik untuk bibit, pupuk, air, dan seterusnya.
"Instansi pemerintah yang berwenang di bidang ini tidak peduli pada ajakan saya. Pada- hal, saya tahu mereka kesulitan mendapatkan bibit unggul. Da lam setiap pertemuan mengenai jatropha mereka keluhkan itu, tetapi tawaran kami selalu di-tolak dengan berbagai alasan. Mungkin mereka takut tersaingi karena proyek tadi," katanya.
Bibit unggul
Ory menilai NTT memiliki bibit unggul lokal jarak dan dapat dikembangkan dengan sistem setek dan biji. Dia menjelaskan teknik menanam jarak dengan kloning akar yang menjamin tingkat kematian bibit rendah, sementara hasil tinggi.
"Proses seperti ini saya jamin 99 persen hidup," kata Ory, sarjana Administrasi Niaga dari Universitas Nusa Cendana dan lulusan setingkat strata 2 di Pu- sat Penelitian Ilmu dan Tekno logi di Serpong.
Sistem kloning akar ini baru diuji coba di Amerika Serikat, tetapi di Indonesia, Ory bersama rekannya telah mengembangkan sejak tahun 2005 di Kalimantan, Sumatera, NTB, dan NTT. Sudah 90 orang dilatih Ory mengenai sistem perbanyakan ini.
Jarak dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian 0-1.000 meter dpi, suhu 18-30 derajat Celsius, di tanah kurang subur tetapi berdrainase baik, dan keasaman (pH) tanah 5,0-6,5. Panen dapat dilakukan sejak tanaman berusia lima bulan, produktivitas stabil setelah satu tahun, 1 hektar lahan dapat menghasilkan 10-25 ton biji.
Kandungan minyak pada biji jarak 42-45 persen, tetapi yang dapat diperas 30-35 persen. Mi nyak itu dapat dipakai langsung atau diproses menjadi biodiesel.
Apabila 1 hektar menghasilkan 10 ton biji, maka 10.000 hektar menghasilkan 100.000 ton biji kering. Jika 3 kilogram menghasilkan 1 liter minyak, maka 100.000 ton menghasilkan 33.000 ton minyak per tahun. Di luar itu, masih ada ampas yang dapat digunakan untuk bahan bakar dan pupuk.
"Mengembangkan jarak di NTT tidak rugi. Hanya orang harus berpikir positif, kerja ke- ras, bersedia bekerja sama de-ngan orang lain, dan bersedia berkorban. Jika semua orang NTT mau kerja dan memanfa- atkan musim hujan sebaik mungkin, kita tidak perlu min- ta-minta lagi," katanya.
Menurut Ory, NTT masih memiliki dua jenis tumbuhan de-ngan kandungan minyak nabati tinggi, yakni pohon lontar dan gewang.
Tanggal Tayang : 24-1-2007
Sumber : Kompas