Pendahuluan
Tak hanya Indonesia yang dipaksa berpikir
untuk mengabil langkah strategis, berjangka panjang, berkesinambungan,
di seputar masalah kebijakan energi. China yang mengonsumsi
minyak 6,5 juta bph pada tahun 2004 dan diperkirakan memakai
10,5 juta bph pada tahun 2020, sedang melalukan “revolusi”
energi. Juga AS, negeri-negeri Eropa, dan sejumlah negara
Asia seperti Jepang, Thailand, dan India.
Kalau
tidak direm, konsumsi minyak oleh bangsa Indonesia bisa melonjak
tajam. Ada pakar yang mencatat prediksi kebutuhan BBM dalam
negeri pada tahun 2010 sekitar 1,6 juta bph. Kebutuhan ini
ekivalen dengan minyak mentah 2 juta bph.
Apa yang dicatat oleh sang pakar memang belum
terjadi, tetapi kalau trend konsumsi BBM oleh bangsa ini tidak
direm, kemungkinan krisis energi minyak tidak mustahil terjadi.
Karena kebutuhan energi adalah bersifat kebutuhan primer dan
selalu beriringan dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan perkiraan
tingkat pertumbuhan ekonomi Nasional yang terus dipacu dan
terus membaik, maka tingkat konsumsi energi akan ikut terdongkrak.
Energi memang tak hanya minyak bumi. Namun kalau
melihat pola konsumsi minyak bumi yang masih dominan, maka
gerakan klimaks konsumsi BBM dalam negeri tidak gampang distop.
Dengan teori berpikir seperti ini kita bisa menerima
angka prediksi kalau impor minyak mentah Indonesia akan melonjak
di atas 400 ribu bph. Padahal saat ini “hanya”
sekitar 0,400 juta bph.
Menutupi demand minyak bumi yang terus melonjak
dengan opsi menaikkan tingkat produksi crude Nasional untuk
dalam kondisi sekarang tidaklah gampang, untuk tidak mengatakan
tidak mungkin. Faktanya booming minyak bumi di negeri kita
seperti tahun medio 1970-an dan awal 1980-an agaknya belum
terbayangkan terjadi lagi.
Tingkat produksi Nasional terus melorot sejak
2000. Bahkan sempat menyentuh sedikit di bawah satu juta bph,
walaupun kemudian berusaha didongkrak menggenapkan lagi ke
angka satu juta bph, dan ditargetkan 1,3 juta bph pada tahun
2006 ini.
Penemuan cadangan baru memang sempat memberikan
harapan, bahwa posisi net oil importer akan bisa diperbaiki,
dan kembali mengekspor. Tapi dengan berpikir realistis bahwa
karakteristik energi fosil pada akhirnya harus habis, bangsa
Indonesia tetap saja harus mempersiapkan diri mengantisipasi
kondisi memilukan, minyak bumi habis dari perut bumi kita.
Menemukan kembali giant field minyak mentah kita?
Kepala kita akan menggeleng sebagai jawaban. Kenyataannya
sejak ditambang secara komersial pada tahun 1885 oleh bangsa
asing dan dimanfaatkan mereka hingga 1945, sumber minyak bumi
di perut Nusantara sudah “lelah.”
Ironisnya kita masih berboros-boros ria dengan
BBM yang murah (gara-gara harga subsidi). Sebagian dari komponen
bangsa ini seperti tidak menyadari potensi masalah besar di
sektor energi sedang dihadapi. Sehingga opsi menurunkan subsidi
BBM secara bertahap gencar dipolitisasi. Ditentang, dikritik,
dan dihujat. Padahal menurunkan subsidi secara bertahap sudah
diputuskan Pemerintah dan DPR melalui UU No. 5 Tahun 2000
tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas).
Bangsa AS saja sudah dikukuhkan oleh UU energi
mereka, US Energy Act 2005, untuk mengurangi pemakaian bensin
sebesar 1,0 juta bph pada tahun 2015 (Kompas, 20/8/05). Bahkan
diberitakan, atas perintah Presiden Bush, program-progam khusus
di Departemen Energi AS dikonsentrasikan untuk mengganti lebih
dari 75 persen impor minyak AS dari Timur Tengah pada tahun
2025 (Kompas, 5/5/06).
Ada langkah-langkah cerdas yang dilakukan oleh
bangsa-bangsa lain. Mereka seperti mengerti kapan bersatu
padu mengatasi masalah besar bangsa, kapan mereka berseberangan
secara politik dengan pemerintah. Perahu bocor diatasi bersama.
Konflik kepentingan di atas perahu bocor hanya akan menenggelamkan
seluruh penumpang perahu.
Sementara China membangun energy security melalui
investasi besar-besaran di proyek eksplorasi dan pengembangan
di berbagai negara lain. Negeri tirai bambo ini membentuk
“balatentara” untuk melaksanakan misi ini, yaitu
membentuk tiga BUMN minyak skala besar pada tahun 1980-an.
AdaThe China National Offshore Oil Corporation
(CNOOC), The China National Petrchemical Corporation (Sinopec),
dan The China National Petroleum Corporation (CNPC). Ketiga
BUMN ini menjadi lokomotif Chinauntuk memenuhi security of
supply energi minyaknya.
Braziladalah contoh lain betapa negeri itu berhasil
mengembangkan bioethanol dengan memanfaatkan sari tebu. Dan
ketika sejumlah negara menjerit dan berteriak karena masalah
eneri, negeri Samba ini tersenyum dengan energi alternatifnya.
Indonesiasebenarnya boleh dikatakan melakukan
langkah cerdas. Strategi menghidupkan bahan bakar dari unsur
hayati non fosil berarti memanfaatkan kelebihan alamnya yang
kaya dengan unsur-unsur hayati. Tidak mustahil, dari pengembangan
biodiesel berbahan dasar CPO saja membuka kemungkinan negara
ini menjadi produsen CPO terbesar di dunia, menyalip Malaysiayang
kali ini sebagai produsen CPO terbesar di dunia.
BUMN-BUMN bidang perkebunan, yaitu PTPN diperkirakan
akan hidup subur karena CPO-nya selain diekspor bisa dijadikan
bahan dasar biodiesel. Tak mustahil, Indonesiamelalui Pertamina
kelak akan mengekspor biodiesel ke negeri-negeri yang membutuhkan
energi besar seperti China, AS, dan India.
Ini adalah mimpi dan optimisme kita. Tak ubahnya
mimpi para pendiri bangsa ketika beberapa puluh tahun sebelum
proklamasi sudah tersenyum dengan imajinasi mereka memiliki
negeri yang merdeka bebas dari penjajahan. Bukankah mereka
berhasil mewujudkan mimpinya?
Oleh karena itu, maaf, untuk program besar seperti
Kebijakan Energi Nasional yang ditetapkan awal 2006 tak seharusnya
“dikoyak-koyak” lagi oleh publik, seperti nasib
kebijakan mengurangi subsidi BBM (melalui penentangan public
atas kenaikan harga BBM). Perahu kita di sektor energi sudah
berlobang. Mari kita tutupi lobang itu bersama-sama tanpa
melihat perbedaan aliran politik dan faham.
Kebebasan berpendapat yang “liar”
sebagai konsekuensi alam demokrasi sudah saatnya untuk kita
letakkan secara arif agar urusan urgen dan strategis, yang
menyangkut program keselamatan bangsa pada masa depan, tidak
berantakan oleh kekuatan kita sendiri. Demokrasi yang tetap
memperhatikan kepentingan lebih besar yang bersifat strategic
problem solving bangsa.
ARTI PENTING BIODIESEL
Opsi mengalihkan konsumsi energi dari jenis energi
fosil yang tidak bisa diperbarui (unrenewable energy) ke jenis
energi hayati non fosil yang bisa diperbarui (renewable energy)
bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Karena asumsi yang
ada sudah tak terbantahkan, yaitu energi fosil akan habis
pada saatnya.
Cukup aman, karena jenis energi terbarukan ini
memiliki sumber daya energi yang secara alamiah tidak akan
habis dan dapat berkelanjutan jika dikelola dengan baik. Sebutlah
misalnya, panasbumi, biofuel, aliran sungai, panas surya,
angina, ombak laut, dan suhu kedalaman laut.
Dari sederet jenis energi yang terbarukan itu
Pertamina bergerak di dalam salah satunya, yaitu panasbumi.
Nah, sekarang Pertamina bergerak lagi ke energi yang terbarukan
jenis yang lain, yaitu biofuel. Salah satu biofuel yang digarap
Pertamina adalah biodiesel, yaitu bahan bakar diesel yang
terbuat dari unsur hayati-nabati non fosil.
Seperti diketahui, biofuel itu ada yang dibuat
dari minyak nabati seperti minyak kelapa sawit atau CPO (Crude
Palam Oil) dan minyak pohon jarak pagar atau CJCO (Crude Jatropha
Curcas Oil), dibuat dengan proses transesterifikasi. Proses
ini pada dasarnya merupakan proses yang mereaksikan minyak
nabati (CPO atau CJCO) dengan methanol dan ethanol dengan
katalisator soda api (NaOH atau KOH).
Dari hasil proses transesterifikasi CPO itu akan
dihasilkan metil ester asam lemak murni (FAME). Lalu FAME
tersebut di-blending dengan solar murni selama 10 menitan,
menghasilkan biodiesel yang siap pakai. Itulah biofuel jenis
biodiesel! Biodiesel penggunaannya adalah untuk menggantikan
solar.
Kalau untuk kebutuhan minyak goreng, CPO tidak
mengalami transesterifikasi, melainkan mengikuti proses pemurnian,
sehingga warna keruh CPO itu menjadi “terang-benderang.”
Itulah minyak goreng!
Biodiesel memiliki keunggulan komparatif dibandingkan
dengan bentuk energi lain. Lebih mudah ditransportasikan;
memiliki kerapatan energi per volume yang lebih tinggi; memiliki
karakter pembakaran yang relatif bersih; dan ramah lingkungan.
Kelemahannya tak cocok dipakai untuk kendaraan
bermotor yang memerlukan kecepatan dan daya, karena biodiesel
menghasilkan tenaga yang lebih rendah dibandingkan solar murni.
Bioethanol
Jenis biofuel lain adalah bioethanol. Dibuat
dari tanaman yang mengandung gula dan pati seperti tebu, singkong,
sagu, dan sorgum. Bahan-bahan ini yang diubah menjadi ethanol.
Bioethanol itu yang berhasil dikembangkan Brazildengan memanfaatkan
tetes tebu. Bioethanol digunakan untuk menggantikan bensin.
Bioethanol bisa digunakan dalam bentuk neat 100
persen (E-100). Atau di-blending dengan bensin (E-XX).
Biomass
Sedangkan biofuel yang sudah banyak dipraktekkan
oleh sementara lapisan masyarakat di daerah peternakan adalah
biogas. Bahannya adalah limbah cair, limbah kotoran ternak,
dan bahkan kotoran manusia. Bentuknya adalah gas. Bisa menggantikan
minyak tanah.
Sebenarnya biogas ini ada yang memasukkan ke
dalam keluarga biomassa yang menurut Ensiklopedi Nasional
Indonesia adalah massa tumbuhan dan kotoran hewan yang dapat
memberikan energi, baik dengan dibakar langsunbg, maupun setelah
diubah menjadi bahan lain yang pembakarannya lebih mudah.
Jadi, biogas diperoleh dari bahan biomassa hasil
peragian oleh mikroorganisme tanpa adanya oksigen. Contoh
bahan biomassa yang sering dipakai adalah kayu atau limbah
kayu, produk atau limbah pertanian, ganggang, eceng gondok,
kotoran ternak, dan lain-lain.
Burhani Rahman (Kompas, 8/6/05) menulis, bahwa
bahan bakar ini dibuat dari limbah kotoran ternak, bahkan
tinja manusia. Bahan-bahan itu dicampur dengan potongan jerami,
sekam, dan daun-daunan sortiran sayur, dan lain sebagainya.
Biogas cocok dikembangkan di daerah-daerah yang
memiliki biomassa melimpah, terutama di sentra-sentra produksi
padi dan ternak di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan,
Bali, dan lain-lain.
Kembali ke soal biodiesel. Arti penting pemanfaatan
biodiesel antara lain menyangkut kebutuhan solar untuk transportasi
yang terus meningkat. Tahun 2006 ini saja sudah mencapai 12,438
juta kiloliter. Sehingga dengan pengembangan biodiesel, maka
impor solar akan sedikit demi sedikit bisa dikurangi. Ada
penghematan devisa negara.
Ketika laju konsumsi BBM sulit direm, maka mensubstitusi
BBM dengan biofuel akan memperingan beban impor BBM. Di tengah
melonjaknya harga crude sampai 74 dolar AS per barel (per
akhir April 2006), penghematan impor BBM akan sangat berarti
bagi kondisi cash flow Pemerintah. Karena ketika volume impor
BBM dan crude meningkat, maka beban keuangan Negara pun semakin
dibuat cekak.
MENGURANGI KONSUMSI
BBM
Pengembangan biodiesel oleh Pertamina menempati
posisi strategis dalam memperkuat implementasi kebijakan Pemerintah
untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak fosil. Perpres
No. 5 Tahun 2006 menargetkan peningkatan pemanfaatan gas bumi
lebih dari 30 persen. Saat ini masih kecil, sekitar 26,5 persen
terpakai.
Demikian batubara, harus melonjak tingkat konsumsinya
ketimbang gas bumi sekalipun. Perpres menetapkan konsumsi
batubara harus menjadi lebih dari 33 persen. Sekarang batubara
baru dipakai orang Indonesia hanya 14,1 persen saja.
Intinya energi alternatif masih begitu rendah
tingkat konsumsinya, dan arah kebijakan Pemerintah adalah
meningkatkan volume pemakaian non BBM tersebut.
Panasbumi yang begitu melimpah ditargetkan harus
melebihi lima persen. Sedangkan energi terbarukan lainnya
(biomasssa, nuklir, tenaga air skala kecil, tenaga surya,
dan tenaga angin) diharapkan menjadi lebih dari lima persen.
Dan terakhir, bahan bakar lain yang berasal dari
pencairan batubara ditargetkan harus menjadi lebih dari dua
persen.
Ada empat kebijakan utama Pemerintah untuk mencapai
keamanan pasokan energi dalam negeri serta berbagai sasarannya.
Dari mulai penyediaan energi; pemanfaatan energi; penetapan
harga energi ke arah harga keekonomian; maupun pelestarian
lingkungan dengan menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Salah satu contoh dari kebijakan pemanfaatan
energi adalah melalui diversifikasi energi, yaitu penganekaragaman
penyediaan dan pemanfaatan berbagia sumber energi dalam rangka
optimalisasi penyediaan energi.
Dalam kerangka diversifikasi energi lah pengembangan
biodiesel dilakukan oleh Pertamina. Tinggal bagaimana bentuk
insentif dari Pemerintah agar para pelaku pengembangan penyediaan
dan pemanfaatan biofuel tidak merugi dan tetap bergairah.
“Pemerintah dapat memberikan kemudahan dan insentif
kepada pelaksana konservasi energi dan pengembang sumber energi
alternative” (Pasal 6 Perpres No. 5 Tahun 2006). |