Produksi
Bioetanol
Oleh Achmad N Hidayat - Nawapanca
Engineering http://www.migas-indonesia.com
TEKNOLOGI
Teknologi produksi bioethanol berikut ini diasumsikan menggunakan
jagung sebagai bahan baku, tetapi tidak menutup kemungkinan
digunakannya biomassa yang lain, terutama molase.
Secara umum, produksi bioethanol ini mencakup 3 (tiga) rangkaian
proses, yaitu: Persiapan Bahan baku, Fermentasi, dan Pemurnian.
Persiapan Bahan Baku
Bahan baku untuk produksi biethanol bisa didapatkan dari berbagai
tanaman, baik yang secara langsung menghasilkan gula sederhana
semisal Tebu (sugarcane), gandum manis (sweet sorghum) atau
yang menghasilkan tepung seperti jagung (corn), singkong (cassava)
dan gandum (grain sorghum) disamping bahan lainnya.
Persiapan bahan baku beragam bergantung pada
bahan bakunya, tetapi secara umum terbagi menjadi beberapa
proses, yaitu:
- Tebu dan Gandum manis harus digiling untuk
mengektrak gula
- Tepung dan material selulosa harus dihancurkan untuk memecahkan
susunan tepungnya agar bisa berinteraksi dengan air secara
baik
- Pemasakan, Tepung dikonversi menjadi gula melalui proses
pemecahan menjadi gula kompleks (liquefaction) dan sakarifikasi
(Saccharification) dengan penambahan air, enzyme serta panas
(enzim hidrolisis). Pemilihan jenis enzim sangat bergantung
terhadap supplier untuk menentukan pengontrolan proses pemasakan.
Tahap Liquefaction memerlukan penanganan sebagai
berikut:
- Pencampuran dengan air secara merata hingga
menjadi bubur
- Pengaturan pH agar sesuai dengan kondisi kerja enzim
- Penambahan enzim (alpha-amilase) dengan perbandingan yang
tepat
- Pemanasan bubur hingga kisaran 80 sd 90 C, dimana tepung-tepung
yang bebas akan mengalami gelatinasi (mengental seperti Jelly)
seiring dengan kenaikan suhu, sampai suhu optimum enzim bekerja
memecahkan struktur tepung secara kimiawi menjadi gula komplek
(dextrin). Proses Liquefaction selesai ditandai dengan parameter
dimana bubur yang diproses menjadi lebih cair seperti sup.
Tahap sakarifikasi (pemecahan gula kompleks
menjadi gula sederhana) melibatkan proses sebagai berikut:
- Pendinginan bubur sampai suhu optimum enzim
sakarifikasi bekerja
- Pengaturan pH optimum enzim
- Penambahan enzim (glukoamilase) secara tepat
- Mempertahankan pH dan temperature pada rentang 50 sd 60
C sampai proses sakarifikasi selesai (dilakukan dengan pengetesan
gula sederhana yang dihasilkan)
Fermentasi
Pada tahap ini, tepung telah sampai pada titik telah berubah
menjadi gula sederhana (glukosa dan sebagian fruktosa) dimana
proses selanjutnya melibatkan penambahan enzim yang diletakkan
pada ragi (yeast) agar dapat bekerja pada suhu optimum. Proses
fermentasi ini akan menghasilkan etanol dan CO2.
Bubur kemudian dialirkan kedalam tangki fermentasi
dan didinginkan pada suhu optimum kisaran 27 sd 32 C, dan
membutuhkan ketelitian agar tidak terkontaminasi oleh mikroba
lainnya. Karena itu keseluruhan rangkaian proses dari liquefaction,
sakarifikasi dan fermentasi haruslah dilakukan pada kondisi
bebas kontaminan.
Selanjutnya ragi akan menghasilkan ethanol sampai
kandungan etanol dalam tangki mencapai 8 sd 12 % (biasa disebut
dengan cairan beer), dan selanjutnya ragi tersebut akan menjadi
tidak aktif, karena kelebihan etanol akan berakibat racun
bagi ragi.
Dan tahap selanjutnya yang dilakukan adalah destilasi, namun
sebelum destilasi perlu dilakukan pemisahan padatan-cairan,
untuk menghindari terjadinya clogging selama proses distilasi.
Distilasi
Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari beer (sebagian
besar adalah air dan etanol).
Titik didih etanol murni adalah 78 C sedangkan air adalah
100 C (Kondisi standar). Dengan memanaskan larutan pada suhu
rentang 78 - 100 C akan mengakibatkan sebagian besar etanol
menguap, dan melalui unit kondensasi akan bisa dihasilkan
etanol dengan konsentrasi 95 % volume.
Prosentase Penggunaan Energy
Prosentase perkiraan penggunaan energi panas/steam dan listrik
diuraikan dalam tabel berikut ini:
Prosentase
Penggunaan Energi |
| Identifikasi |
Proses Steam |
Listrik |
| Penerimaan bahan baku, penyimpanan, dan
penggilingan |
0 % |
6.1 % |
| Pemasakan (liquefaction) dan Sakarifikasi |
30.5 % |
2.6 % |
| Produksi Enzim Amilase |
0.7 % |
20.4 % |
| Fermentasi |
0.2 % |
4 % |
| Distilasi |
58.5 % |
1.6 % |
| Etanol Dehidrasi (jika ada) |
6.4 % |
27.1 % |
| Penyimpanan Produk |
0 % |
0.7 % |
| Utilitas |
2.7 % |
27 % |
| Bangunan |
1 % |
0.5 % |
| TOTAL |
100 % |
100 % |
Sumber:
A Guide to Commercial-Scale Ethanol Production and Financing,
Solar Energy Research Institute (SERI), 1617 Cole Boulevard,
Golden, CO 80401
PERALATAN PROSES
Adapun rangkaian peralatan proses adalah sebagai
berikut:
- Peralatan penggilingan
- Pemasak, termasuk support, pengaduk dan motor,
steam line dan insulasi
- External Heat Exchanger
- Pemisah padatan - cairan (Solid Liquid Separators)
- Tangki Penampung Bubur
- Unit Fermentasi (Fermentor) dengan pengaduk
serta motor
- Unit Distilasi, termasuk pompa, heat exchanger
dan alat kontrol
- Boiler, termasuk system feed water dan softener
- Tangki Penyimpan sisa, termasuk fitting
- Tangki penyimpan air hangat, termasuk pompa
dan pneumatik
- Pompa Utilitas, Kompresor dan kontrol
- Perpipaan dan Electrikal
- Peralatan Laboratorium
- Lain-lain, termasuk alat-alat maintenance
|