Sweden Bio Energy, perusahaan energi dari Swedia, menyiapkan dana sedikitnya Rp 1,3 triliun untuk mengembangkan bahan bakar nabati (BBN) alias biofuel di Indonesia. Dana tersebut dialokasikan untuk pembebasan lahan senilai Rp 400 miliar dan pembangunan pabrik pengolahan BBN senilai Rp 900 miliar.
Ketua Tim Nasional Pengembangan BBN Al Hilal Hamdi mengatakan, dalam waktu dekat Sweden Bio Energy akan membuka lahan untuk pengembangan BBN di Nusa Tenggara Timur pada lahan seluas 100 ribu hektare. Di tempat yang sama, perusahaan tersebut akan membangun pabrik pengolahan BBN berkapasitas 350 ribu ton per tahun.
“Komitmen investor asal Swedia tersebut merupakan bagian dari 50 perusahaan yang berminat dalam pengembangan biofuel di Indonesia,” ujar Al Hilal usai pelepasan Biofuel Expedition Road Show kendaraan BBN dengan rute Manado-Jakarta di kantor Departemen Enegeri dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta, Senin (23/7).
Pemerintah memperkirakan kebutuhan dana untuk pengembangan biofuel sampai 2010 mencapai sekitar Rp 200 triliun. Namun, kebutuhan itu dana yang disiapkan oleh pemerintah hanya sebesar Rp 13-15 triliun, sedangkan sisanya sekitar Rp 185 triliun diperoleh dari pendanaan swasta.
“Dana ini digunakan untuk mencapai target energi mix (campuran, red) pada 2009-2010 untuk BBN ini yang sebesar 5%. Kami optimistis pada 2010 pemakaian 5,25 juta ha lahan pengembangan BBN dapat tercapai,” kata Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, kemarin.
Menurut Purnomo, apabila target energi mix 2010 tercapai, rencana pemerintah mengurangi pemakaian BBM akan menghemat devisa negara. Selain itu, target program tersebut, yaitu menciptakan lapangan pekerjaan dapat tercapai.
Al Hilal Hamdi mengakui pihaknya kewalahan memfasilitasi tingginya minat investor dalam pengembangan BBN di Indonesia. Ia mengungkapkan, komitmen dari perusahaan swasta ini sudah dipertegas melalui penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang dilakukan pada Januari 2007.
Sebelumnya diberitakan, sejumlah perusahaan meminati proyek BBN. Selain Sweden Bio Energy, perusahaan yang ‘membidik’ proyek biofuel adalah perusahaan asal Tiongkok CNOOC sekitar US$ 5 miliar, Genting Biofuel US$ 3 miliar, dan Indomal yang berinvetasi senilai US$ 1 miliar.
Selain itu, perusahaan migas asal Inggris yakni BP Plc melalui joint venture D1 Oils Plc mentargetkan pengembangan BBN di atas lahan seluas 1 juta ha. “Mereka mengembangkan di Afrika, India, dan Indonesia. Tapi, paling besar di Indonesia,” jelas dia.
Purnomo mengatakan, pemerintah akan mengurangi pengembangan BBN dari kelapa sawit untuk mencegah kenaikan harga bahan makanan dari kelapa sawit seperti minyak goreng. Selanjutnya pemerintah akan mendorong pengembangan BBN melebar ke berbagai macam bahan baku. “Kami ingin mendorong agar pengembangan biofuel tidak hanya terfokus pada kelapa sawit,” kata dia.
Terkait penetapan target 5,25 juta hektare lahan pengembangan BBN, Purnomo mengatakan, itu tidak hanya untuk tanaman kelapa sawit, sehingga pengembangan BBN tidak akan mendorong kenaikan harga bahan makanan dari kelapa sawit. “Jangan orang mengambil keuntungan dari pengembangan BBN untuk menaikkan harga minyak goreng,” ujarnya.
Menurut Purnomo, pengurangan pemanfaatan kelapa sawit untuk BBN, tidak akan berpengaruh pada pengembangan BBN. Alasannya, pengembangan BBN tidak hanya tergantung dari kelapa sawit, tapi berbagai variasi tanaman. Tanaman jarak pagar (jathropa curcas) untuk biodiesel serta tebu, aren dan singkong untuk bioethanol.
“Kalau ini dilakukan dengan baik, diversifikasi biofuel tidak akan memberikan tekanan pada pemanfaatan kelapa sawit untuk bahan makanan dan bahan bakar,” jelas Purnomo. (jad)
Tanggal Tayang : 30-7-2007
Sumber :Investor Dailly