Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 
   
 

Counter Stats
   
   
   
   
   
   
Investasi BBN Rp 124,2 T Diparaf 9 Januari 2007
 

Ketua Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) Alhilal Hamdi menyatakan, investasi bidang industri BBN senilai Rp 124,2 triliun akan ditandatangani pada 9 Januari 2007.

Menurut Alhilal, beberapa kelompok perusahaan patungan dalam dan luar negeri akan menanamkan modal hingga US$ 10 miliar (sekitar Rp 90,2 triliun, red) untuk pengembangan industri BBN di Indonesia.

“Sumber pendanaan juga berasal dari konsorsium perbankan nasional sebesar Rp 34 triliun, dan disiapkan subsidi bunga kredit bagi petani sawit (plasma) Rp 1 triliun,” ujarnya di Kantor Presiden di Jakarta, Jumat (29/12).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memanggil Tim Nasional Pengembangan BBN untuk mendengarkan laporan pelaksanaan tugas mereka. Presiden didampingi Menko Perekonomian Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro.

Alhilal menjelaskan, produksi BBN nasional bisa mencapai 200 ribu barel per hari, dengan bahan baku kelapa sawit, tebu, singkong, dan jarak. Direncanakan investasi masuk mulai tahun 2007 dan realisasinya hingga lima tahun ke depan.
Alhilal memperkirakan, harga BBN akan lebih mahal dari pada bahan bakar konvensional. Namun demikian, proyek biofuel itu harus tetap dilaksanakan, karena bisa membuka lapangan kerja bagi 3,5 juta orang hingga 2010. Pendapatan mereka juga di atas upah minimum provinsi.

”Harga biofuel US$ 83 per barel, sedangkan harga solar US$ 67 per barel. Sebagian besar BBN itu akan diekspor ke berbagai negara,” kata Alhilal.

Investor terdiri atas lima kelompok usaha patungan CNOOC (Cina)-Sinar Mas, Mitsui-Mitsubishi-Itochu Corp (Jepang), Samsung-IM3-AGB Energi (Korea Selatan), Genting Biofuel (Malaysia), dan perusahaan Singapura-Indonesia. Investor itu akan dibiayai International Finance Corporation (IFC) dari Bank Dunia dan Bank Pembangunan Jerman (QFW).

Sedangkan perbankan nasional yang tergabung dalam konsorium pembiayaan BBN adalah BRI, Bank Mandiri, Bukopin, serta Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Kredit dari perbankan itu disalurkan lewat mekanisme pembiayaan konvensial. Nota kesepakatan kerja sama sudah ditandatangi bersama pejabat Departemen Keuangan beberapa waktu lalu.

Lahan Sejuta Ha

Secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Tengah (Kalteng) Theopillus Y Anggen mengatakan, pengembangan industri biofuel di Kalteng akan dimulai tahun depan. Saat ini Pemprov Kalteng sudah menyiapkan pengembangan perkebunan jagung di eks pengembangan lahan gambut (PLG) sejuta hektare di Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau.

Jika menggunakan jagung jenis Bisi-2, produktivitas akan mencapai 5,8 ton per hektare (ha). Hasil panennya akan digunakan untuk memasok industri biofuel.
Theo menjelaskan, “Pada tahap awal kami akan mengembangkan perkebunan untuk biofuel seluas 50 ribu ha, di antaranya di Lamunti, Maliku, dan Pandebatu,” ungkap Theopillus, seperti dikutip Antara.

Selain itu, lanjut Theopillus, di Pangkuh masih ada 50 ribu ha lahan kering yang cocok untuk perkebunan jagung skala besar. Namun, infrastruktur drainasenya sebagian besar sudah tidak berfungsi lagi. (est)

Tanggal Tayang : 2-1-2007
Sumber : InvestorDailly

 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia