Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 
   
 

Counter Stats
   
   
   
   
   
   
   
   

Metamorfosis Limbah Tetes Tebu

 

Limbah yang identik dengan kotor , mencemari, dan tak berharga,tak berlaku pada tetes tebu—limbah pengolahan gula.Molase,begitu nama limbah itu,justru diperebutkan berbagai industris, mahal Contah paling gresr molase sebagai bahan biopre mium sehingga banyak mobil melaju kencang. Balsem, bedak, pasta gigi, dan obat batuk juga memerlukan olahan molase. Dari bangun hingga hendak done tetes tebu selalu dibutuhkan

Molase merupakan limbah pabrik gula pasir yang tak lagi dapat dikristalkan Menurut I Erlies Sartini dari PT Molindo Raya Industrial produsen bahan bakar nabati kadar gula molase masih tinggi, 55%. Bentuknya cairan, mirip kecap dengan aroma khas. Molindo yang berdiri sejak 1965 mengolah molase dari beberapa pabrik gula di Jawa Timur. Setiap hari perusahaan yang  didirikan  oleh  Iswan  Rustanto  itu menghasilkan 150.000 liter etanol atau hasil olahan molase. Tiga tahun terakhir selama 365 hari perusahaan itu nonstop mengolah molase.

Artinya, tak ada hari libur. Padahal, di Indonesia pabrik gula menggiling tebu hanya 6 bulan terkait dengan pasokan bahan baku. Tebu Saccharum offitinarum siap panen pada umur minimal 12 bulan. Agar perusahaan tetap dapat mengolah molase pada setengah tahun berikutnya—ketika pabrik gula berhenti menggiling—Molindo harus menyimpan 90.000 ton molase sebagai cadangan. Harga beli molase saat ini Rp700/ kg.

Cadangan molase itu tersimpan dalam beberapa tangki berkapasitas 5.000—16.000 ton. Rendemen pengolahan hanya  27—28%.   Ketika hendak  diolah,molase disaring dengan penyaring berukuran 1 mess. Tujuannya untuk membuang kotoran. Menurut Indra Winarno MS, presiden komisaris Molindo, kualitas etanol hasil pemrosesan molase yang disimpan selama 6 bulan tetap bagus. Perbedaannya, "Kadar asam amino turun hanya 1%," ujar Indra.

Tak terbatas

Tetes tebu berubah menjadi etanol melalui dua proses yaitu fermentasi dan destilasi atau penyulingan. Fermentasi dengan bantuan cendawan Sacharomyces cereviceae. Erlies menuturkan, untuk memfermentasi 6.000 ton molase, misalnya, perlu 30% cendawan. Lama fermentasi 40 jam. Tahap berikutnya destilasi untuk memurnikan etanol hingga berkadar 96%. Dengan prinsip dehidrasi, Molindo memurnikan lagi etanol itu hingga berkadar 99,95%. "Di Indonesia baru Molindo yang mampu menghasilkan etanol itu," ujar Indra Winarno.

Nah, etanol berkadar 99,95% itulah yang mengisi tangki-tangki mobil dan motor sebagai biopremium atau premium nabati. Ketimbang premium, biopremium jelas lebih unggul. Seiain dapat diperbarui, bahan bakar nabati itu juga meningkatkan kinerja mesin kendaraan sekaligus tanpa polutan.

Saat ini Molindo memasok 2 SPBU di Malang dan Jakarta. Total pasokan mencapai   15.000 liter  per hari.Molindo menjual biopremium melalui Pertamina Rp5.000 per liter. Dari penjualan biopremium saja, Molindo menangguk omzet Rp75-juta sehari.

Jauh sebelum biopremium ramai digunakan, 4 tahun silam Indra memanfaatkannya untuk bahan bakar mobil BMW dan 8 mobil operasional perusahaan. Semula campuran biopremium itu memang hanya 5%, kemudian terus ditingkatkan hingga kini mencapai 15%. Sementara etanol berkadar 95% itu menjadi rebutan industri domestik dan mancanegara. Kebutuhannya? Sama seperti biopremium, permintaan etanol, "Tak terbatas," ujar Indra mantap. Produsen rokok, parfum, bumbu masak, pasta gigi, dan obat batuk hanya beberapa yang membutuhkannya.

Gas cair
Dari pengolahan molase, Molindo tak cuma memetik etanol. Selama proses fermentasi menghasilkan gas di lapisan atas tangki. Gas itu didinginkan dan diolah menjadi  cairan  yang  dibutuhkan  antara lain oleh industri minuman berkarbonasi, pembekuan bahan pangan, pengolahan tembakau, industri karoseri, dan pengelasan. Dalam sehari Molindo menuai 45 ton gas cair.

Adapun limbah dalam proses pengolahan etanol tak dibuang begitu saja. Sebab, limbah pengolahan molase amat korosif lantaran BOD (Bio Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) tinggi sehingga mencemari air tanah. Oleh karena itu Molindo memekatkan limbah dengan evaporator. Kemudian mengabutkan limbah pekat ke dalam tanur pembakaran bersuhu 800°C sehingga bahan organik dalam limbah terbakar habis.

Abu hasil pembakaran itu ternyata mengandung kalium sehingga diolah menjadi pupuk. Indra, alumnus pascasarjana Universitas Brawijaya itu menghasilkan 10.000 ton pupuk per hari. Dengan sistem pengolahan seperti itu buangan limbah Molindo nihil.

Limbah tetes tebu ternyata dapat diolah menjadi etanol yang menjadi campuran beragam produk. Bahkan, limbah pengolahannya pun masih mendatangkan keuntungan. Pasar membutuhkannya dalam jumlah besar. Itulah sebabnya, Indra terus mengepakkan sayap bisnis Molindo. Perusahaan itu mendirikan pabrik pengolahan baru di Pacitan dan Kediri, keduanya di Jawa Timur, serta di Sekampung Udik, Lampung. (Sardi Duryatmo)

Tanggal Tayang : 28-5-2007
Sumber : Trubus

 
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia