Sudah Rp18 triliun dana dikucurkan untuk membiayai agribisnis kelapa sawit dan turunannya.
Bisnis sawit cukup prospektif sehingga perbankan mau mengucurkan dananya untuk agribisnis sawit. Salah satu bank yang sudah membiayai dan siap mengembangkan bisnis pem biayaan kelapa sawit termasuk turun annya, adalah Bank Mandiri.
Walau demikian, menurut Rustam S. Sirait, Senior Vice President Corporate Banking II, Bank Mandiri, tidak semua investor yang berminat investasi di kelapa sawit mempunyai kompetensi yang diperlukan. Karena itu, pihaknya tetap selektif dan hati-hati memilih mi-tra bisnis. Skala usaha yang siap dibia- yai meliputi plasma, skala menengah, dan skala besar.
Benar-benar Siap
Ada beberapa pertimbangan yang mendorong Bank Mandiri terjun dalam pembiayaan kelapa sawit. Menurut Rustam, berdasar analisis dan pertim bangan kompetisi antarproduk, kelapa sawit adalah convertor paling efisien. Karena itu, produk-produknya akan menang dalam berkompetisi dengan substitusinya. Dari segi potensi sum- berdaya pun, Indonesia mutlak unggul lantaran mempunyai areal terluas di dunia.
Dilihat dari prospek pasar saat ini dan ke depan, spektrum penggunaan pro duk kelapa sawit makin lebar. Sebab, melalui serangkaian inovasi teknologi, aneka produk turunan sawit dapat dimanfaatkan untuk memenuhi berba- gai kebutuhan. Selain diolah menjadi minyak makan, sawit dapat disulap menjadi produk biodiesel, pelumas, far masi, kosmetik, plastik, PVC, dan ban.
Demikian juga dari sisi teknologi budidaya dan olahan beberapa produk turunan sawit, Indonesia sudah menguasai. Sebab, riset-riset sawit, salah satunya berbasis di tanah air.
Dari kesiapan SDM perbankan, lanjut Rustam, pihaknya sudah siap. Sudah belasan tahun bank milik negara ini belajar berbagai masalah terkait pengembangan kelapa sawit secara profesional. Dengan demikian, SDM-nya sudah berpengalaman mengelola portofolio bisnis kelapa sawit. "Sekarang kami benar-benar siap untuk ber- bisnis di bidang pembiayaan kelapa sawit dan turunannya," tandas Rustam.
Keseriusan Bank Mandiri dalam membiayai pengembangan agribisnis sawit tampak dari jumlah kucuran kre- dit. Sampai sekarang, jumlah kredit untuk budidaya sampai produksi CPO mencapai RplO triliun. Namun, jika dihitung sampai dengan industri turunannya, nilai kreditnya sekitar Rpl8 triliun.
Tentu, dalam pengucurankredit Bank Mandiri membe-rikan grace period (masatenggang tanpa bayar bunga) yang lamanya bervariasi. Menurut Rustam, bila proyek bersifat pengembangan yang cash flow-nya sudah mampu, mungkin grace period tidak diperlukan lagi. Sebaliknya, untuk proyek baru, grace period bisa diberikan selama 4—5 tahun. la mengaku, sejauh ini pengembalian kredit agribisnis sawit relatif Iancar. Soalnya, persentase kredit macetnya relatif rendah, dibanding sektor lain. s
Dapat Dipenuhi
Menanggapi peluang pengembangan kebun sawit di Indone sia yang masih 4 juta ha atau 250.000 ha/tahun (AGRINA, Edisi 33), Rustam menandaskan tidak ada masalah dari segi pembiayaan. Soalnya, untuk mere- alisasikannya pasti dilakukan bertahap. Demikian dengan pembiayaannya dapat dipenuhi secara bertahap pula. Tapi, pembiayaan ini tetap harus mem- perhatikan asas tepat waktu dan tepat jumlah agar tidak menimbulkan masa lah di kemudian hari.
Rustam menghitung, untuk pemba-ngunan kebun seluas 4 juta ha, dibutuhkan dana sekitar Rpl20 triliun. Perke- bunan seluas itu membutuhkan pabrik pengolahan berkapasitas 20.000 ton tandan buah segar (TBS)/jam. Bila per ton kapasitas membutuhkan biaya investasi Rp2 miliar, total biaya yang diperlukan sekitar Rp40 triliun.
Semua perkiraan perhitungan itu ber- dasarkan kebutuhan biaya investasi saat ini. 'Tapi sekali lagi saya tekankan, kebutuhan dana tersebut dapat dipenu hi secara bertahap dalam jangka waktu relatif lama," urainya.
Tanggal Tayang : 15-8-2006
Sumber :