Sejauh Ini Layak
( jatropha ekspedisi 2)
   
   
   
   
   
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 
   
 

Counter Stats
   
   
   
   
 

Sejauh Ini Layak ( jatropha ekspedisi 2)

Tak sanggup menahan rasa, ahli kimia dari Universitas Groningen Belanda, Prof Dr Ir HJ Heeres, meminta waktu berbicara di depart para pejabat Provinsi Nusa Tenggara Barat, pertengahan Juni 2006 lalu. Siang itu, tim ekspedisi minyak jarak murni yang menempuh perjalanan kurang dari separuh perjalanan dijamu Gubernur NTB, Lalu Srinata.

Siang itu, Prof Erick, demi-kian ia dipanggil, sebenar-nya tidak dijadwalkan memberi sambutan. "Saya hanya mau katakan, ini momentum bersejarah untuk penggunaan energi terbarukan. Mungkin 50 tahun mendatang, anak cucu ki-ta akan mengingat peristiwa bersejarah ini; mobil bergerak menggunakan bahan bakar mi­ nyak jarak murni hampir tanpa hambatan," kata dia.

Sebuah pencapaian yang se- belumnya sempat diragukan. Ya, memang sempat diragukan. Bahkan, oleh penemu formula pemurnian minyak jarak Prof Robert Manurung. Apalagi para agen tunggal pemegang merek (ATPM), yang dari awal enggan mensponsori ekspedisi. Alasan-nya, mesin mobil akan macet pada jarak tempuh 500 kilometer.

Bila itu yang akan terjadi, jelas kampanye buruk sekaligus kerugian dari sisi bisnis. Sebuah pertimbangah, yang menurut informasi, disesali kemudian hari karena ekspedisi ternyata berhasil finis dan diterima langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta, 20 Juni 2006 lalu.

Ekspedisi yang digelar Maja lah National Geographic Indone sia (NGI) bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), dan PT BioChem Prima International-didukung pula PT PLN, itu, menempuh jarak total sekitar 3.300 kilometer. Mulai dari Atambua-Denpasar-Ban-dung-Jakarta, menggunakan Mitsubishi L 200 kabin ganda transmisi manual.

Uji coba ini oleh NGI disebut sebagai ekspedisi pertama di dunia dalam penggunaan minyak jarak murni pada kendaraan bermotor. Penggunaan sebelumnya, lebih pada mesin diesel statis, seperti pada generator set

Akan tetapi, seperti ditulis dalam buku Melawan Ketergantungan pada Minyak Bumi (Effendi Syarief, Insist, 2004), uji coba pernah dilakukan di Jerman oleh pabrik mobil Volkswagen. Jarak yang ditem- puh 18.623 km atau total 341 jam, dan 220 jam di antaranya menggunakan minyak jarak pa- gar. Metodanya, menggunakan dua tangki dan alat pemanas.

Kedua uji coba bertujuan sama, membuktikan performa minyak jarak pagar yang lebih ramah lingkungan sebagai energi alternatif pengganti BBM fosil. Adapun keunggulan di Indonesia , ada semangat menyejahterakan petani dan mengangkat kawasan tertinggal.

Jalannya ekspedisi

Sejak start dari Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT), hing-ga Kupang, praktis tidak ditemui hambatan berarti sepanjang per­jalanan. Uji coba menggunakan tiga komposisi kendaraan, ma-sing-masing 100 persen minyak jarak murni, 50 persen dicam-pur solar, dan 100 persen solar. Tujuannya, memperoleh per-bandingan performa pada mesin diesel.

Jarak 273,9 kilometer Atambua-Kupang berlangsung lancar. Lintasan berada di perbukitan; lurus dan rata, naik dan turun curam, serta menikung tajam berhasil dilewati rombongan se kitar tujuh jam. Kecepatan rata-rata 70-80 kilometer per jam.



Sebagian anggota rombongan Tim Ekspedisi Jatropha 2006 tengah beristirahat sambil menunggu rombongan di belakangnya di kawasan perbukitan Wolowaru, sekitar 30 kilometer dari Kabupaten Ende, NTT, pertengahan Juni 2006 lalu. Hingga akhir ekspedisi di Jakarta setelah menempuh jarak sekitar 3.300 kilometer, seluruh hambatan berhasil diatasi
Tidak ditemui adanya keanehan pada performa mesin dari ketiga komposisi. Semuanya normal, seperti layaknya mobil berbahan bakar fosil.

Tim baru menemukan keanehan ketika melintasi perbukitan Kelimutu dengan temperatur udara 11 derajat Celsius. Kondisi ini membuat laju kendaraan berbahan bakar seratus persen minyak jarak murni tersendat. Begitupun pada kenda raan 50 persen minyak jarak murni. Jarum indikator stasioner naik turun.

"Pada saat itu minyak jarak terhambat masuk ke mesin karena suhu dingin. Suhu dingin juga menyebabkan mesin tidak mengalirkan air pendingin ke radiator," ucap Prabowo.

Temuan penting yang diperoleh, konverter hams dikembangkan lagi. Dipertimbangkan pula kemungkinan menggunakan konverter pada mobil berkomposisi bahan bakar campuran 50:50.

Seiring naiknya temperatur hingga 19 derajat Celsius, keanehan itu menghilang.

Penyimpangan lain dijumpai ketika melintasi rute Sasando-Watujaji, Kabupaten Ngada, NTT. Seusai melintasi tanjakan, turunan, dan tikungan tajam, bahan bakar 100 persen minyak jarak murni ditemui paling bo- ros (1 liter : 7,4 kilometer).

Hasil "investigasi" menunjuk-kan, pemborosan disebabkan pe- rilaku sopir yang rajin meng- injak pedal gas dan AC yang terus dihidupkan. Sementara, dua mobil uji yang dijadikan pembanding bergerak lebih san-tai dan sebagian besar perjalanan tanpa AC.

Setelah mengevaluasi dan sepakat menggunakan standar pe rilaku dan penggunaan AC yang sama, perbedaan konsumsi bahan bakar berbeda tipis saja. Saat itu, seratus persen minyak jarak murni masih lebih boros dibandingkan dua mobil lainnya.

Akan tetapi, berdasarkan perhitungan konsumsi bahan bakar rata-rata setelah rute Atambua-Denpasar menunjukkan, paling boros adalah mobil berbahan bakar campuran 50:50, yakni 1 liter berbanding 8,8 km. Seratus persen minyak jarak mur ni 1 liter berbanding 9 km, se- dangkan seratus persen solar perbandingannya, 1 liter untuk 9,2 km.

Sementara, penghitungan konsumsi bahan bakar dari atambua-Bandung (3.200 km) sebagai berikut; mobil berkomposisi 100 persen minyak jarak nurni menghabiskan 312,75 liter, pada komposisi campuran 50:50 sebanyak 325,5 liter, se- langkan seratus persen solar 286,5 liter. Perjalanan Jakar- :a-Bandung (165 km) belum di- litung.

Converter-pengontrol-mikro

Salah satu yang memungkin- an uji coba ini berjalan lancar idalah penggunaan konverter pengontrol-mikro. Konverter memiliki tiga fungsi, masing-masing pengencer minyak jarak murni untuk menyamai kekentalan minyak solar, berperan dalam proses pembilasan saat mesin dimatikan, serta menyaring kotoran sekaligus memisahkan air, bila ada yang masuk ke dalam tangki minyak jarak. Konverter dipasang tepat sebelum pompa injeksi bahan akar.

Sedangkan pengontrol-mikro nicrocontrollef merupakan pegendali kinerja konverter. Da- im uji coba lalu, pengon- •ol-mikro dipasang di dashboard. Keduanya merupakan satu kesatuan.

Beberapa fungsi vital pengontrol-mikro; mendeteksi temperatur cairan pendingin yang ma- suk ke mesin serta temperatur minyak jarak, sebelum kemudian secara otomatis memindahkan katup bahan bakar dari solar ke minyak jarak atau sebaliknya.

Alat itu juga memutuskan apakah mesin dapat dihidupkan langsung dengan bahan bakar minyak jarak, bila temperatur minyak jarak sudah memenuhi syarat. Selain itu, mengatur agar mesin tetap hidup untuk me- mastikan pembilasan saluran bahan bakar untuk mengganti minyak jarak dalam saluran ba­ han bakar.

Setelah pembilasan selesai, pengontrol-mikro akan memati-kan mesin secara otomatis.

Pada uji coba lalu, hanya mobil berbahan bakar seratus per­ sen minyak jarak yang menggunakan konverter dan pengontrol mikro. Tangki minyak jarak dipasang di bak belakang.

Setiap kali mesin dihidupkan, katup bahan bakar solar-lah yang terbuka. Setelah panas, pe­ ngontrol-mikro secara otomatis membuka katup minyak jarak murni. "Secara umum, pada temperatur 19 derajat Celsius minyak jarak murni sudah bisa dipakai," kata teknisi Agraprana sekaligus perancang konverter, Prabowo Kartoleksono.

Untuk alat itu, tim mekanik yang terdiri dari teknisi dari Agraprana membuat tiga prototipe. Satu konverter membutuhkan anggaran belasan juta rupiah.

Setelah produksi massal, har- ga per unit konverter plus pe­ngontrol-mikro dipatok antara Rp 6-7 juta. Bahkan, bisa lebih rendah lagi.

Mengenai ke'kentalan minyak jarak murni, Prof Robert Manurung mengakui bahwa masih butuh pengembangan sehingga menyamai kekentalan solar. "Justru dari uji coba inilah kami

dapat mengembangkan peneli- tian berikutnya," kata dia. la ya- kin bahwa mencapai tahap ter- sebut hanya soal waktu.

Diakuinya, penyiapan perse- diaan minyak jarak murni se­ belum ekspedisi terbilang sing- kat. Akibatnya, pemurnian yang dilakukan tanpa tambahan zat aditif itu kurang sempurna. Se- kalipun demikian, secara umum performa kendaraan bisa dika- takan berjalan baik.

Performa baik juga dibuktikan PT Trakindo Utama yang meng- uji coba minyak jarak pada me­ sin diesel 20 kVA. Selama se-bulan, mereka menguji secara simultan. Hasilnya, energi alter-natif itu dapat menggantikan so­lar meskipun kualitasnya masih harus dikembangkan lagi.

Keyakinan serupa diungkap- kan Direktur PT Wartsila Indonesia Teuku Ruswir dalam Festival Jatropha di Sanur, Bali . Wartsila merupakan perusahaan pembuat mesin diesel skala besar.

Berbagai masukan pun dite- rima, di antaranya permintaan perpanjangan uji coba hingga ra- tusan ribu kilometer untuk me-nambah keyakinan. Mengenai hal itu, Prof Robert Manurung menyatakan bahwa hal itu akan dilakukan sekaligus memecah-kan persoalan yang ditemui.

Akan tetapi, seperti diungkap- kan Prof Erick di depan pejabat Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), semua permintaan itu tidak mengubah cikal bakal peristiwa bersejarah yang akan selalu dikenang; bah­ wa minyak jarak murni dapat digunakan sebagai sumber peng-gerak mesin dinamis.

Mengutip Prabowo, sejauh ini penggunaan minyak jarak murni, layak!

 

 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia