Oleh: Agus P. Sari,
Managing Director EcoSecurities Indonesia, perwakilan di Indonesia dari EcoSecurities, sebuah perusahaan environmental financing untuk CDM terbesar di dunia
Pengembangan JarakPagar untuk diolah menjadi bio-fuel memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai proyek clean development mechanism (CDM, mekanisme pembangunan bersih) seperti diatur dalam Protokol Kyoto. Peserta Workshop “Memanfaatkan Kesempatan Bisnis Bio-Fuel melalui CDM” yang diselenggarakan oleh Masyarakat Energi Hijau Indonesia, EcoSecurities, Pelangi, dan Perspectives Climate Change pada tanggal 21-22 November 2005 menjadi saksi penandatanganan “Letter of Commitments” antara EcoSecurities, perusahaan keuangan pengembang CDM terbesar di dunia, dengan 11 perusahaan Indonesia pengembang bio-fuel jarak termasuk kelompok perusahaan Rajawali (RNI). Pidato sambutan oleh tiga menteri yang hadir dalam Workshop tersebut juga mendukung pengembangan bio-fuel JarakPagar ini melalui CDM. Perusahaan milik negara seperti PLN juga sudah memberikan komitmen untuk membeli bio-fuel dari industri biodiesel untuk menggantikan penggunaan diesel di pembangkit listriknya.
CDM adalah sebuah mekanisme dalam Protokol Kyoto yang membolehkan negara-negara berkembang untuk membantu negara-negara maju dalam memenuhi jadwal penurunan emisi gas-gas rumah kaca. Seperti tertuang dalam Protokol Kyoto, sambil mendukung pembangunan berkelanjutan di negara berkembang itu sendiri dan membolehkan negara berkembang ikutserta dalam pencapaian tujuan dari Konvensi Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change, UNFCCC).
Melihat besarnya sumbangan pengembangan JarakPagar pada pengentasan kemiskinan dan rehabilitasi lahan kritis di Indonesia, bukan tidak mungkin bahwa proyek CDM yang dikembangkan di Indonesia ini mendapat status sebagai “Gold Standard CDM”, yaitu CDM berkualitas tinggi dengan sumbangan pada pembangunan berkelanjutan yang sangat besar.
Kemungkinan pemanfaatan CDM untuk membantu mengembangkan bio-fuel JarakPagar adalah berdasarkan kenyataan sebagai berikut. Pertama, bio-fuel JarakPagar (seperti energi terbarukan lainnya) tidak mengeluarkan emisi gas-gas rumah kaca yang penyebab perubahan iklim utamanya karbon dioksida (atau, emisinya dianggap netral karena pada saat tumbuh, tanaman JarakPagar tersebut menyerap dan menyimpan karbon dioksida dari udara, sehingga dianggap netral)
Kedua, pengembangan bio-fuel dari JarakPagar di Indonesia masih dianggap memiliki peluang tinggi. Meskipun, hal ini masih memerlukan:
a. kebijakan mengenai standardisasi kualitas bio-fuel di Indonesia;
b. pengembangan pasar bio-fuel;
c. kampanye luas untuk penerimaan konsumen.
Pembakaran setiap kilogram (kira-kira setara dengan satu liter) petro-diesel akan menghasilkan emisi karbon dioksida sebanyak kira-kira 3 kilogram. Penggunaan bio-fuel sebagai substitusi petro-diesel dengan demikian akan menurunkan emisi sebanyak ini pula: untuk setiap liter penggunaan bio-fuel dapat di-“claim” penurunan emisi karbon dioksida sebanyak 3 kilogram.
Jika diasumsikan untuk setiap hektar (ha) lahan pertanian JarakPagar dapat menghasilkan sekitar 5,000 liter bio-fuel setahun, dan jika diasumsikan bahwa seluruh bio-fuel yang dihasilkan dapat diserap pasar, maka setiap hektar penanaman JarakPagar akan menurunkan emisi karbon dioksida sebesar 15 ton. Jika “harga” sertifikasi penurunan emisi (Certified Emission Reduction) yang berlaku sekarang, berkisar pada US$5 per ton, dipergunakan sebagai asumsi, maka akan dihasilkan $75 per hektar — sekitar Rp 750.000. Ini adalah jumlah yang sangat signifikan utamanya jika dibandingkan dengan jumlah investasi yang dibutuhkan untuk bertani JarakPagar yang sekitar Rp 1,5 juta per hektar.
Jika seluruh pendapatan dari CDM ini diberikan kepada petani, maka setengah dari modal yang dibutuhkan sudah dapat dipenuhi melalui CDM ini — dana yang bukan hutang. Tambahan lagi, jika lahan kritis yang dipergunakan untuk bertanam jarak ini dipinjamkan oleh pemerintah (karena sekaligus untuk merehabilitasinya), maka akan lebih banyak lagi pendapatan yang didapat oleh petani. Untuk setiap liter bio-fuel — penurunan 3 kg atau 0.003 ton — akan ada pendapatan tambahan sebesar Rp 150.
Petajalan (Roadmap) pengembangan bio-fuel di Indonesia memiliki target bahwa pada akhir 2006 diharapkan akan ada 100,000 ha pertanian JarakPagar, dan pada akhir tahun 2009 10 juta ha. Ini berarti ada pemasukan sebesar $7,5 juta, atau sekitar Rp 75 miliar per tahun pada tahun 2006, dan sebesar $750 juta, atau Rp 7,5 triliun per tahun pada 2009.
Jika kebun JarakPagar ini menggunakan pupuk, maka akan ada nitrogen yang dikeluarkan dalam bentuk dinitrogen oksida (N2O) yang adalah sebuah gas rumah kaca yang lumayan kuat, dan dengan demikian maka akan ada penyesuaian besarnya sertifikasi yang bisa diberikan, dikurangi dengan pelepasan nitrogen ini. Itu sebabnya, kebun JarakPagar yang menggunakan pupuk organik akan mendapat lebih banyak sertifikasi CDM ketimbang yang menggunakan pupuk kimiawi.
Kuncinya sekarang adalah bagaimana supaya manfaat CDM yang lumayan besar ini bisa dinikmati oleh para petani dan masyarakat miskin, mengingat sertifikasi baru bisa diberikan pada saat bio-fuelnya dibakar — jadi sudah jauh di titik distribusi, ketimbang pada saat JarakPagarnya ditanam. Ini dapat diupayakan dengan perjanjian di awal pengembangan proyek CDM JarakPagar ini.