Oleh: Ir Alhilal Hamdi
Menakertrans RI 1999-2001
Staf Khusus Menko Kesra – sekarang
Sesudah distribusi BBM kembali normal, dalam sebuah acara di depan Presiden beberapa waktu lalu, pimpinan Pertamina menyampaikan BBM (bahan bakar minyak) alternative murah yang dapat diproduksi dengan biaya di bawah Rp 2.000,- per liter, terbuat dari biji
minyak Jarak Pagar (Jatropha Oil). Salah seorang menteri memberikan pendapat, bahwa minyak Jarak Pagar memang dapat dipakai, hanya biaya produksinya masih tinggi, dua kali lipat dari angka Pertamina.
Pembicaraan tersebut menggambarkan besarnya perhatian terhadap pengganti BBM fosil. Lebih dari sepuluh juta kiloliter setahun minyak tanah dikonsumsi masyarakat miskin yang daya belinya tak kunjung membaik. PLN – sepertiga operasi pembangkit listriknya memakai 12 juta kiloliter solar/diesel dan minyak bakar – masih disubsidi karena tak bisa menaikkan harga setrumnya. Ditambah lagi, angkutan darat dan laut yang mengkonsumsi solar 26 juta kiloliter dan 20 juta kiloliter bensin.
Dengan angka-angka tadi, setiap hari Rp 356 milyar dikucurkan untuk subsidi harga. Siapa yang tidak was-was bila jumlah konsumsi terus meningkat dan harga minyak mentah, sebagai bahan baku BBM, sudah tidak lagi murah. Pada sisi lain, penggunaan energi alternative masih minim, seperti: energi angin, tenaga surya, biomassa dan panas bumi.
Alat transportasi berbahan baker hybrid (bensin dan baterai) masih pada tahap dini, dan bahan bakar kendaraan hidrogen terlalu mahal biaya produksinya 2. Pencairan batubara
menjadi fasa cair, sehingga mudah dipakai sebagai bahan bakar, belum menarik perhatian, karena dalam bentuk batuan asli sudah sangat menguntungkan industri petambangan. Namun kembali, isu yang penting dari minyak Jarak Pagar, sebagai BBM alternatif, sebenarnya tidak terletak pada angka biaya pokok produksi mana yang benar. Jelas, minyak Jarak Pagar dapat mengganti BBM, hanya sayangnya komoditi tersebut sekarang tidak tersedia di pasar, kendati Pertamina bersedia membayar di muka seluruh bijih atau minyak Jarak Pagar.
Sehingga, isu utamanya adalah kapan biji tanaman Jarak Pagar dapat dipanen dalam skala besar-besaran. Tidak seperti ”bio-diesel” – campuran solar dan minyak kelapa sawit – atau ”bio-fuel” – campuran ethanol dan bensin – bahan bakunya merupakan komoditi pasar siap pakai.
Energi Hijau terbarukan
Sekurang-kurangnya, ada dua pilihan dalam proses produksi minyak Jarak Pagar diukur dari hasil olahan, investasi dan biaya pengolahannya. Pilihan pertama, mengolah biji Jarak Pagar secara mekanik dengan memeras bijih untuk mendapat Straight Jatropha Oil (SJO) 3. Minyak jenis SJO ini – dengan biaya produksi di bawah Rp 2.000,- per liter – sudah dapat mengganti minyak tanah untuk menyalakan kompor dapur. Atau, mengganti minyak baker untuk memanaskan ketel uap air yang menggerakkan turbin-turbin pembangkit listrik. Tidak ada bedanya, karena yang diperlukan ialah panas, apakah dengan membakar kayu, arang, batubara, bagas, minyak tanah, minyak bakar atau SJO.
Meski SJO mempunyai panas jenis lebih rendah dari minyak diesel, namun kehadiran oksigen dalam molekul SJO membuat pembakaran lebih sempurna. Pilihan kedua, mengolah SJO melalui proses esterifikasi yang rumit, dan karenanya mahal pada investasi maupun bahan imbuhan serta katalis untuk memacu reaksi kimia. Hal ini, menyebabkan biaya pokok produksi ester SJO dua kali lipat SJO. Pada dasarnya, dari sisi mutu, ester-SJO hanya berbeda pada titik nyala dan derajat kekentalan 4. Namun, karena ester SJO murni bersifat sangat reaktif, maka direkomendasikan sebagai bahan imbuhan terhadap minyak solar/diesel atau SJO 5.
Berbagai uji coba telah dilakukan di Indonesia guna menggantikan peran, sebagian atau seluruh BBM fosil. Yang dilakukan oleh ITB bersama Mitsubishi Research Institute membuktikan bahwa SJO murni mampu menggerakkan pembangkit listrik dan juga kendaraan 6. Bus-bus BPPT sebagian diujicoba dengan bio-fuel serta bio-diesel.
Universitas Trisakti memakai minyak jelantah, merupakan sisa minyak goreng, berhasil menggerakkan mobil 7. Semua usaha tersebut membangkitkan harapan, bahwa BBM alternatif dengan sumber terbarukan, memiliki peluang menggantikan BBM fosil yang berasal dari jazad renik yang terkubur seratusan juta tahun lalu. Bio-diesel telah diproduksi dan dipasarkan BPPT. Namun, dengan harga jual sekarang Rp 6.000 per liter, biodiesel ini baru dilirik pasar bila minyak mentah mencapai US$ 90 per barrel 8. Minyak jelantah, sulit mencapai skala komersial mengingat kendala pengumpulannya dari limbah dapur rumah tangga, kedai dan restoran. Pilihan yang paling masuk akal tinggal pada minyak Jarak Pagar (SJO) dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut:
Pertama, tanaman Jarak Pagar bias hidup dan tetap produktif meski ditanam di tanah kritis dan tandus, seperti daerah NTT. Tumbuh dengan bagus di dataran rendah maupun pegunungan 9. Jarak Pagar tidak memiliki hama dan mulai berbuah pada usia 5 bulan sesudah ditanam, serta dapat dipanen terus menerus hingga usia 50 tahun.
Kedua, meningkatkan penghasilan petani sebanyak Rp 5 juta rupiah per tahun per hektar 10. Dalam tiga tahun, menghijaukan 10 juta hektar atau separuh luas lahan kritis Indonesia,menciptakan sepuluh juta keluarga petani produktif yang berpendapatan Rp 50 triliun per tahun.
Ketiga, mampu menghemat devisa sebesar US$ 17,2 milyar per tahun 11 dari penggantian 40 juta kiloliter per tahun minyak solar, diesel, minyak tanah dan minyak bakar. Bahkan, sangat berpotensi mendulang devisa, bila produksinya melewati kebutuhan dalam negeri.
Keempat, memberikan sumbangan besar bagi penghijauan lahan-lahan kritis. Penggunaan SJO juga menurunkan kadar emisi NOx, SOx dan CO. Oleh karenanya, dengan pengembangan Energi Hijau, Indonesia patut memperoleh insentif ”debt-swap” dari negara maju.
Agenda aksi penting
Kita tidak bisa terus terpaku pada masalah rutin tahunan, siapapun presiden yang memerintah, seperti pembahasan alot subsidi BBM dengan DPR. Atau, menaikkan harga BBM untuk menambal APBN yang berujung pada kenaikan tarif listrik, angkutan dan barang, tanpa ada agenda jangka panjang ke depan. Beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan adalah: Pertama, memasyarakatkan penanaman Jarak Pagar “segera” dan secara meluas serta merancang mekanisme pasar yang adil antara industri pengolah SJO dan petani.
Kepemilikan koperasi petani di industri SJO akan memperkuat basis ”kepercayaan” antar pelaku utama, menghindari munculnya industri ”tanpa kebun”, juga berarti nilai tambah pada industri bakal dinikmati petani 12. BUMN perkebunan, kehutanan dan pertambangan terbuka harus menjadi penggerak di kawasan masing-masing. Kedua, memperluas penggunaan bahan bakar non BBM bagi pembangkit listrik, seperti: air, panas bumi, batubara, gas serta SJO. Penghematan BBM dilakukan juga melalui pengembangan moda angkutan massal darat sebanyak mungkin digerakkan tenaga listrik. Ketiga, pentingnya menambah cadangan devisa dalam masa “transisi ekonomi” minyak mahal. Tambahan devisa segera, dapat diperoleh dengan memperpanjang jangka waktu pembayaran bagian/hak perusahaan Kontraktor Bagi Hasil migas (KBH), dari 60 hari menjadi satu tahun. Tentu, perusahaan KBH migas harus
diberi kompensasi tingkat bunga memadai. Mulai saja dari Exxon-Mobil yang sedang berunding dengan Pemerintah untuk perpanjangan kontrak wilayah Blok Cepu. Atau, bila seluruh kontrak migas direvisi, terdapat potensi sekitar US$ 2 milyar untuk memperkuat
cadangan devisa Indonesia yang sekarang US$ 30-an milyar. Harga minyak mentah dunia akan naik terus. Kalaupun terjadi penurunan harga, hanyalah gejala sementara. Tidak perlu berlama-lama membuat perdebatan berapa dekade lagi cadangan minyakbumi atau batubara akan habis. Kita perlu mencari penyelesaian masalah mendatang dalam zaman kita sekarang.
Selamat datang Energi Hijau!