Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 
   
 

Counter Stats
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   

PRIMADONA MINYAK JARAK : Menjaga Rakyat dari Kemiskinan dan Krisis BBM

 


Oleh: Wijanarko S.*
Kepala Bidang Pengembangan Kesempatan Kerja Keluarga Miskin Menkokesra

Pemerintah segera meluncurkan kegiatan industri minyak jarak sebagai ganti minyak tanah, minyak bakar, dan minyak industri. Kelak juga minyak solar, karena saat ini persediaan dunia semakin tipis dan harganya pun terus meningkat. Dibanding penggunaan briket batubara, gas bumi atau sumber lainnya, minyak jarak lebih sederhana, murah, tidak akan habis. Juga menghidupkan ekonomi rakyat perdesaan, dan menjanjikan berbagai produk turunan yang akan membuahkan lapangan kerja.

Pada saat ini tengah disiapkan pembibitan pohon jarak seluas 2.500 hektar di Jawa dan NTT untuk disebarluaskan ke 10 juta hektar lahan kritis. Pemerintah bertekad, target sebesar itu dapat digarap selama lima tahun. Kalau kegiatan ini berjalan mulus, maka akan menambah pendapatan bagi sekitar 20 juta penduduk perdesaan, dan akan lebih banyak lagi karena berbagai kegiatan sertaan yang akan muncul sebagai dampaknya.

Biji jarak pagar (jatropha) telah cukup lama diuji di kampus, dan memang sangat layak untuk menggantikan BBM. Belakangan, pakar ITB yang selama ini telah sangat gencar mempromosikan minyak jarak, mendapat sambutan baik dari Kementerian Kesra, dan sepakat akan mengembangkan perkebunan jarak menjadi primadona untuk reboisasi hutan dan sekaligus menanggulangi kemiskinan.

Selama 3 tahun terakhir, minyak jarak telah diujicoba sebagai pengganti minyak bakar/solar di pabrik gula. Bahkan di India, menurut pakar jarak ITB, Dr.Ir. Robert Manurung, minyak jarak ini telah diadopsi sebagai minyak bakar mesin kereta api, sehingga saat ini mereka telah menanam jarak di sepanjang bantaran rel kereta api 24.000 km.

Oleh masyarakat perdesaan, jarak pagar ini telah sangat dikenal oleh orang-orang tua kita, biasanya ditanam sebagai pagar rumah, di kebun atau makam. Dulu, di Jaman Jepang, rakyat memang dipaksa untuk menanam pohon jarak itu untuk dibuat minyak kapal dan senjata. Sekarang, oleh petani taman di Jakarta, jarak dijadikan bahan kawinan dengan pohon lain, seperti pohon batavia dan beringin putih. Oleh masyarakat juga dimanfaatkan untuk obat tradisionil sakit perut. Bahkan dilaporkan oleh Kadin UKM, jarak terbukti sangat meningkatkan produktivitas ayam petelor, serta mengindikasikan adanya manfaat yang lebih hebat daripada Viagra yang harus diimport dengan harga mahal.

Namun untuk industri BBM diperlukan penanaman jarak secara besar-besaran. Saat ini pemerintah sedang mencermati pemanfaatan lahan kritis, lahan gundul, bantaran sungai, pinggiran jalan tol, serta rel kereta api. Tentu saja tanah lain yang tidak produktif untuk tanaman pertanian dapat ditanami jarak oleh masyarakat secara pribadi, kelak akan ada penampung yang membelinya.

Besarnya cakupan lahan perkebunan jarak untuk menghasilkan BBM alternatif, tentu mengundang peranserta masyarakat perdesaan karena dapat meningkatkan pendapatan. Mereka dapat menjadi petani jarak dengan pendapatan sekitar Rp 360.000,- setiap bulan, jika punya garapan seluas 1 hektar atau sebanyak 2500 pohon, hanya dengan menjual biji jarak ke pabrik. Kalau mereka bergabung dalam koperasi, maka juga akan mendapat tambahan pendapatan dari keuntungan hasil usaha (deviden).

Pada masyarakat yang telah mengolah lahan produktif untuk pertanian, maka menanam jarak di pinggiran lahan atau di tanah-tanah gersang dapat menjadi sumber pendapatan tambahan. Karena jarak tidak memerlukan perawatan, penyiraman, dan pemupukan, serta tidak disukai ulat atau serangga, maka mereka hanya bekerja memetik buahnya saja. Biji jarak akan dapat dipanen setelah penanaman 6 bulan, dan dapat terus dipanen setiap minggu, selama 50 tahun. Alangkah indahnya, jika dengan bertanam jarak dapat perangi kemiskinan.

Saat ini beberapa Gubernur dan Bupati yang telah berembug dengan team Menko Kesra sangat bersemangat menyambut kehadiran jarak. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudoyono sangat antusias, sehingga mendorong agar segera dapat direalisasikan. Beberapa investor dan lembaga donor juga telah menyatakan kesediaan mereka untuk membiayai program jarak, serta membantu riset dan pengembangannya. Kesepakatan kerjasama (MoU) sedang diproses antara Menko Kesra dengan ITB, RNI dan PLN, serta lainnya akan segera menyusul.

Koordinasi intern pemerintah, sidang kabinet, maupun dengan usahawan, perbankan, lembaga masyarakat, lembaga donor serta pemerintah daerah sedang dilaksanakan dengan membentuk tim teknis. Ujicoba telah dilakukan, dan beberapa daerah telah menyediakan lahan ribuan hektar untuk penanaman dan pabrikasi jarak. Selain di Jawa dan NTT/NTB, Gorontalo dan Kalimantan Barat telah lebar-lebar membuka tangan, juga Tanjung Pinang menyiapkan lahan yang tanahnya telah digali untuk diambil timahnya.

Untuk di Jawa, daerah yang sangat potensial untuk penanaman dan pabrikasi antara lain Serang, Pandegelang, Subang, Purwakarta, Garut, Brebes, Pemalang, Kebumen, Purwodadi, Gunung Kidul, Pacitan, Madiun, Jember dsb. umumnya pada daerah yang banyak lahan gundul dan mengalami kekeringan.

Tanaman jarak bahkan lebih sederhana dan menguntungkan daripada Kelapa Sawit, karena dapat dikelola oleh rakyat secara perorangan tanpa modal yang besar. Jarak pagar ideal tumbuh di daerah yang banyak mendapat sinar matahari langsung atau pada ketinggian 60-600 meter dpl. Namun, di atas 600 m pun juga masih baik, apalagi jika sekaligus untuk dijadikan pakan ulat sutera. Jenis yang paling baik adalah yang telah ada di kampung halaman kita sendiri. Dari hasil ujicoba, tanaman import ternyata malah kalah baik dengan yang telah ada di pagar kita itu.

Jadi, mulai sekarang, petiklah biji jarak sebanyak mungkin. Sebarlah di lahan kosong sekitar rumah, dan biarkan mereka tumbuh dengan baik. Maka, tahun depan anda sudah punya bekal dagangan yang dapat dipanen setiap hari dan akan laku dijual, yaitu: biji jarak kering. Harganya saat ini sekitar Rp. 500 per kilo, namun perhektar atau setiap 2500 pohon dapat menghasilkan 10 ton biji jarak atau Rp. 4,5 juta / tahun.

Siapa yang akan membeli? Kita tunggu saja. Pemerintah telah persilahkan investor untuk membangun pabrik di setiap 1000 hektar kebun jarak mulai tahun 2006 nanti. Itu akan dikelola PLN, dan hasil minyaknya akan mulai dipakai untuk menghidupkan listrik kita.

Mudah-mudahan semua ini memang berkah Yang Maha Kuasa. Bukan sekedar permainan kata, jarak memang benar-benar mempunyai makna: Menjaga Rakyat. Tinggallah sekarang, bagaimana kita mengelola dengan sebaik-baiknya untuk menghidupkan ekonomi rakyat jelata.

Tanggal Tayang : 26-6-2006
Sumber : http://menkokesra.go.id

 
 
   
 
 
Ke Berita Sebelumnya                                     Ke Berita Selanjutnya
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia