Jakarta, Kompas - Target penggunaan biodiesel di Indonesia hingga tahun 2025 mencapai 5 persen atau sekitar 4,6 juta kiloliter dari total penggunaan minyak solar. Dengan target itu, maka paling tidak harus dibangun 42 pabrik biodiesel dengan berbagai kapasitas. Suatu peluang bisnis yang menarik.
Kepala Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Soni Solistia Wirawan, Rabu (8/3) di Jakarta, menegaskan, berdasarkan skenario optimis, maka pada tahun 2025 terdapat 42 pabrik biodiesel dengan kapasitas 30.000 ton hingga 300.000 ton per tahun.
Menuju target itu, pada tahun 2007 sudah ada pabrik percontohan dengan kapasitas 3.000 ton per tahun. Sedangkan secara komersial pada tahun 2009 paling tidak penggunaan biodiesel sebanyak 2 persen atau sekitar 90.000 ton dari seluruh penggunaan minyak solar.
Sementara itu Nurhan Ergeun dari Energea, produsen biodiesel dari Austria, mengatakan, pengalaman Energea bermula tahun 1997 mulai dari percobaan, mencari investor, hingga penyelesaian pembangunan pabrik pada tahun 2002.
Energea berbahan baku minyak nabati, minyak goreng bekas, dan lemak hewan. Di samping biodiesel, mereka juga menghasilkan produk samping gliserin dan potasium sulfat.
Perusahaan ini sukses mengembangkan pabrik biodiesel berkapasitas 40.000 ton hingga 250.000 ton per tahun di beberapa negara, seperti di Spanyol, Australia, dan Amerika Serikat.
Ergeun mengatakan, prospek bisnis biodiesel akan terus cerah di masa mendatang. Berdasarkan prediksi pasar Uni Eropa, akan terjadi lonjakan permintaan biodiesel di sejumlah negara, seperti Perancis dari 700.000 ton tahun ini menjadi 2,25 juta ton pada tahun 2011, Jerman dari 600.000 ton menjadi dua juta ton, dan Spanyol dari 500.000 ton menjadi lebih dari 1,5 juta ton.
Secara umum permintaan biodiesel Eropa akan terus naik. Permintaan biodiesel oleh Eropa pada tahun ini sekitar 5,9 juta ton, namun pada tahun 2010 mencapai 13,45 juta ton.
Ketua Forum Biodiesel Indonesia Tatang H Soerawidjaja mengatakan, Indonesia memiliki sumber bahan baku biodiesel yang melimpah. Ia menyebutkan antara lain jarak, minyak sawit, kelapa, dan kapok.
Banyak kajian dan penelitian yang harus dilakukan untuk mengeksploitasi sumber-sumber itu agar bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel, kata Tatang. (MAR)
Tanggal Tayang : 29-6-2006
Sumber : Harian KOMPAS