Oleh bambang Dwi djanuarto Bisnis Indonesia
JAKARTA: Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman menyatakan sudah ada 11 investor yang siap membangun pabrik bioetanol dan biodiesel di Indonesia dengan kapasitas 50.000 kiloliter hingga 150.000 kiloliter per tahun.
Tiga perusahaan di antaranya sudah mempersiapkan diri melakukan pemba-ngunan konstruksi pabrik bioetanol di daerah Lampung yang diperkirakan akan selesai dalam waktu setahun ke depan dengan kapasitas ketiganya mencapai 300.000 kiloliter per tahun.
"Itu data yang kami dapat dari BKPM [Badan Koordinasi Penanaman Modal], investasi yang dibutuhkan untuk tiap pabrik paling tidak RpSOO miliar itu baru bangun pabriknya, belum beli lahan," katanya usai Workshop Prospek Usaha dan Potensi Pembiayaannya oleh Perbank-an di Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan meski saat ini penggu-naan biodiesel dan bioetanol sebagai bahan bakar masih kurang agresif di Indonesia namun sudah ada off taker (pem-beli tetap) yang siap menyerap produksi mereka.
Diproyeksikan hasil produksi ketiga pabrik tersebut akan diekspor mengingat penggunaan di dalam negeri masih kecil, namun sejumlah pabrik minuman keras juga sudah siap menerima pasokan dari ketiga pabrik ini.
"Untuk melakukan diversifikasi energi memang dibutuhkan kebijakan secara nasional, bayangkan jika Pertamina me-wajibkan SPBU mereka menjual bioetanol dan biodiesel tentu penyerapannya akan semakin cepat," tuturnya.
Peluang besar
Kusmayanto membandingkan dengan Thailand dimana sudah ada lebih dari 8.000 SPBU (stasiun pengisian bahan bakar untuk umum) yang menjual biodiesel dan bioetanol sehingga di negara tersebut tidak terjadi ketergantungan terha-dap BBM.
Peluang mengembangkan biodiesel dan bioetanol sangat besar di Indonesia , kata Menristek, sebab saat ini ada sekitar 10 juta hektare lahan kritis yang tidak ter-manfaatkan.
"Coba kalau 10 juta lahan tersebut di-tanami pohon untuk bahan biodiesel atau etanol maka dari setiap satu juta lahan akan dihasilkan enam ton biodiesel, sehingga jika 10 juta lahan dapat diman-faatkan akan menghasilkan 60 juta ton biodiesel. Inilah era yang disebut Green GoM,"jelasnya.
Sementara Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah dalam sambutan-nya mengakui peluang besar yang dimi-liki Indonesia dalam jangka panjang kare-na memiliki sumber daya alam yang luar biasa.
"Tapi saat ini kita punya persoalan jangka pendek yang mencekam yang ha-rus kita selesaikan dengan kerja keras."
Namun , dia menyatakan hal itu lebih baik dibandingkan dengan Singapura yang saat ini tidak memiliki persoalan jangka pendek tapi memendam persoalan jangka panjang karena tidak memiliki sumber daya alam.
Tanggal Tayang : 5-7-2006
Sumber :
bisnis.co.id