Aliansi Martua Sitorus alias Thio Seng Hap dengan Kuok Khoon Hong telah menciptakan Wilmar International Ltd. Perusahaan ini didirikan pada 1991. Kuok Khoon Hong, yang juga keponakan konglomerat Malaysia Robert Kuook bersama Sitorus menjadi pengendali utama Wilmar.
Berdasarkan riset yang dilakukan perusahaan konsultan Belanda Profundo, Bersama Kuok, Martua Sitorus melalui Wilmar Holdings Ltd memiliki saham Wilmar International sebesar 83,8%. Martua Sitorus merupakan orang terkaya ke-14 di Indonesia, versi Forbes Asia, dengan kekayaan sekitar US$ 475 juta.
Wilmar International Holdings Ltd yang berkedudukan di Virgin Islands, Inggris, juga memiliki saham di Archer Daniels Midland Company, sebuah perusahaan yang tercatat di New York Stock Exchange. Di samping itu, mereka menguasai China National Cereals, Oils & Foodstuffs Corp, pengolah hasil pertanian terkemuka di Cina.
Belum lama ini, Wilmar melakukan back door listing di bursa Singapura dengan cara reverse take over dengan Ezyhealth Asia Pacific senilai US$ 1,29 miliar. Aksi tersebut melibatkan penjualan bisnis alat-alat kesehatan milik Ezyhealth kepada CEO, Sin Keng Choo, seharga US$ 5 juta. Ezyhealth kemudian berubah menjadi Wilmar International. Selanjutnya, Ezyhealth akan membeli bisnis minyak sawit milik Wilmar.
Perusahaan yang bermarkas di Singapura tersebut bergerak di bisnis perkebunan kelapa sawit, pengolahan minyak sawit mentah (CPO), ekspor importir CPO, minyak nabati, inti sawit, dan specialty fats serta biodiesel. Bisnis terbesar adalah minyak kelapa sawit yang kini memiliki lebih dari 350 hektare (ha) perkebunan. Wilmar berencana meningkatkan kebun sawit hingga 500 ribu ha sampai 1 juta beberapa tahun mendatang dengan komitmen investasi US$ 500 juta.
Untuk menjalankan bisnis kebun sawit, Wilmar telah mendirikan lebih dari 36 perusahaan, antara lain PT Agrindo Indah Persada, PT Musi Banyuasin Indah, PT Agro Masang Perkasa, dan PT Selatan Jaya Permai. Kebun sawit berlokasi di Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Riau, dan Sumatera Barat.
Sedangkan bisnis inti sawit dilakukan lewat empat anak usahanya, yakni PT Bukit Kapur Reksa, PT Karya Prajona Nelayan, PT Sinar Alam Permai, dan PT Mekar Bumi Andalas. Lokasi usaha terletak di Riau, Kuala Tanjung (Sumut), Palembang, dan Padang. Kapasitas produksi dari empat pabrik tersebut mencapai 800,000 ton per tahun dan akan dinaikkan menjadi 1,5 juta ton di masa mendatang. Dengan kapasitas sebesar itu, Wilmar menjadi produsen inti sawit terbesar di Indonesia.
Kapasitas produksi pengelahan CPO kini mencapai 3,3 juta ton per tahun. Selain mendapat pasokan dari kebun sendiri, perusahaan masih membeli dari perusahaan kebun lain di Indonesia. Beberapa perusahaan lokal yang memasok CPO ke Wilmar yakni Astra Agro Lestari, Ivo Mas Tunggal, dan PP London Sumatera Indonesia Tbk.
Untuk bisnis minyak nabati, usahanya dijalankan lewat PT Karya Putrakreasi Nusantara yang berlokasi di Medan. Produk ini banyak digunakan oleh industri makanan, detergen dan kosmetik sebagai bahan baku.
Selain itu, Wilmar kini menjadi pemegang saham mayoritas di PT Cahaya Kalbar Tbk, produsen bahan baku minyak dan kakao.
Martua menjabat sebagai komisaris utama. Sedangkan Hendri Saksti yang juga menjabat sebagai dirut Cahaya Kalbar kini dipercayai mengendalikan seluruh bisnis Wilmar di Indonesia. Sebelumnya, bisnis dikendalikan oleh Martua.
Selain Wilmar, Martua mendirikan Grup Karya Prajona Nelayan (KPN) pada 28 Oktober 1978. KPN merupakan salah satu pemain besar di industri CPO nasional yang mempunya terminal CPO. Terminal tersebut dibangun senilai Rp 15 miliar di Sabak, Jambi. Bidang bisnis yang ditekuni KPN meliputi perkebunan sawit, minyak goreng dengan Sania dan Fortune, ekspedisi,dan pupuk. (est/gie/kp)
Tanggal Tayang :10-10-2006
Sumber :Investordaily