Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 
   
 

Counter Stats
   

Asian Agri Investasi Biodiesel Rp 350 Miliar

 


PT Asianagro Agungjaya, anak usaha Asian Agri Group (di bawah Grup Raja Garuda Mas—RGM), sedang membangun satu unit pabrik biodiesel dengan kapasitas produksi 200 ribu ton per tahun. Pabrik baru itu menelan investasi sebesar Rp 350 miliar.

“Pembangunan pabrik biodiesel itu diharapkan selesai akhir 2007 sekaligus mulai berproduksi secara komersial,” ujar Direktur Asian Agri Riadi Didik Tjahjanto kepada Investor Daily di sela buka puasa bersama PT Riau Andalan Pulp and Paper di Jakarta, Senin (9/10).

Pabrik biodiesel pertama Asian Agri Group itu berlokasi di Dumai, Provinsi Riau. Perseroan mengklaim sudah mampu memproduksi biodiesel dengan tingkat kemurnian 100%. Artinya, produk itu langsung bisa dipakai mobil tanpa perlu mencampurnya dengan solar dari minyak bumi.

Menurut Riadi, secara bertahap, kapasitas produksi biodiesel Asianagro Agungjaya akan dinaikkan sehingga total menjadi 400 ribu ton per tahun. Untuk pabrik kedua, dengan kapasitas 200 ribu ton, rencanannya berlokasi di Marunda, Jakarta Utara.

Dengan total kapasitas produksi 400 ribu ton per tahun, Asian Agri menargetkan masuk lima besar pemain biodiesel terbesar di Indonesia.

Mengenai bahan baku produksi berupa minyak sawit mentah (CPO), Riadi menyebutkan, Asian Agri akan memanfaatkan produksi CPO sendiri, yang saat ini mencapai 800 ribu hingga 1 juta ton per tahun.

Namun, perseroan secara bertahap akan menyiapkan lahan/kebun kelapa sawit yang khusus menghasilkan bahan baku biodiesel.

Untuk itu, perseroan akan memanfaatkan insentif program biodiesel nasional, seperti dijanjikan pemerintah, antara lain kredit dengan bunga rendah (10%) untuk kegiatan ekspansi lahan dan program peremajaan (replanting) tanaman kelapa sawit. Insentif bunga ini berlaku selama masa pembangunan kebun.

Asian Agri Group kini menguasai lahan dengan tanaman sawit sudah berproduksi seluas 150 ribu hektare (ha) tersebar di sejumlah lokasi di Provinsi Riau dan Jambi. Dalam budidaya kelapa sawit, perseroan antara lain melibatkan petani lokal melalui pola perkebunan inti-plasma.

Menurut Riadi, tahun ini Asian Agri berekspansi ke Kalimantan melalui penguasaan lahan seluas 50 ribu ha, tepatnya di Kalimantan Tengah. Ekspansi tersebut disertai pula dengan pendirian sejumlah pabrik minyak kelapa sawit (PMKS).

Tentang pasar biodiesel di dalam negeri, Direktur Asian Agri Eddy Lukas menyebutkan, pihaknya masih menunggu kejelasan mengenai penetapan harga beli oleh pemerintah (semacam harga pembelian pemerintah/HPP untuk komoditas beras—red) atas produk biodiesel berikut siapa pihak yang resmi ditunjuk menjadi pemasar di dalam negeri.

Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Oleokimia Indonesia (Apolin) Kris Hadisubroto meminta pemerintah memperlakukan produk biodiesel seperti halnya produk solar (bahan bakar minyak—BBM) dari minyak bumi, atau perlakuan setara (equal treatment), termasuk menyangkut subsidi dan besaran angkanya.

Kris yakin produksi biodiesel nasional, yang tahun 2007 diproyeksikan mencapai sekitar 500 ribu ton, tidak akan mengganggu pasok minyak sawit mentah (CPO) nasional. Dari proyeksni produksi CPO tahun 2007 sebanyak 15 juta ton, biodiesel akan memanfaatkan sekitar 40%-nya atau setara 4 juta ton.

Musim Mas

Dari Medan, Antara melaporkan, PT Musim Mas juga sedang membangun pabrik biodiesel dengan kapasitas 100 ribu ton per tahun di Kawasan Industri Medan (KIM) II, Medan, Sumatera Utara.

Menurut juru bicara PT Musim Mas, Julius, pabrik itu dijadualkan rampung awal 2007. "Hasil produksi bisa dipasarkan di dalam maupun ekspor. Pemasaran diperkirakan tidak bermasalah karena pangsa pasar di dalam dan luar negeri cukup bagus,” katanya.

Julius mengungkapkan, perseroan tidak akan kesulitan memperoleh bahan baku berupa CPO. Untuk bisa menjadi biodiesel, CPO harus diolah lagi menjadi RBD palm oil.

Perusahaan selain membeli tandan buah sawit (TBS) dari kebun swasta lainnya, juga memiliki kebun sendiri antara lain di Provinsi Riau sehingga pengadaan bahan baku tidak terlalu tergantung pada pasar.

Selain CPO, PT Musim Mas juga memproduksi aneka produk industri lanjutan minyak sawit, seperti oleokimia, sabun mandi, dan minyak goreng.

Pada 2007, Sumatera akan memiliki tiga pabrik biodiesel dengan total kapasitas 260 ribu ton per tahun. Tiga pabrik itu masing-masing PT Musim Mas, PT Karya Projona Nelayan (KPN), dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (wy)


Tanggal Tayang :13-10-2006
Sumber : Insvestor Dailly

   
 
 
Ke Berita Sebelumnya                                     Ke Berita Selanjutnya
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia