MEDAN - Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Malaysia sepakat mengalokasikan 12 juta ton crude palm oil (CPO) per tahun untuk pembuatan biodiesel. Dengan demikian masing-masing negara mengalokasikan enam juta ton CPO untuk pengembangan bahan bakar nabati dari sawit itu.
"Alokasi CPO untuk kebutuhan biodiesel itu akan dimulai tahun ini juga hingga batas waktu yang belum ditentukan," kata Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono, Selasa (18/7).
Mentan mengakui ketergantungan CPO yang tinggi atas ekspor dikhawatirkan menimbulkan tekanan pada harga jual. Padahal, menurutnya, pertumbuhan areal kelapa sawit di Indonesia terus bertambah.
Alokasi enam juta ton dari total produksi 14,7 juta ton CPO nasional, bagi Indonesia tidak akan mengganggu volume ekspor minyak sawit itu. Mentan memastikan produksi CPO nasional setiap tahun mengalami peningkatan dengan adanya rencana pengembangan areal tanaman sekitar tiga juta hektare lagi.
"Kalaupun terpaksa mengurangi ekspor, tapi pengusaha bisa mendapatkan untung dari menjual biodiesel yang juga menjadi kebutuhan di pasar internasional," tegas Anton.
Sementara Menteri Industri Perladangan dan Komoditas Malaysia Datu Peter Chin Fah Kui mengungkapkan tingginya minat pengusaha Malaysia mendirikan pabrik biodiesel.(ant)
BSP Bangun Proyek Biodiesel
JAKARTA - PT Bakrie Sumatera Plantation (BSP) akan membangun proyek biodiesel berbasis CPO mulai 2007. Diharapkan proyek energi alternatif itu akan beroperasi komersial setahun kemudian
"Awal 2007 kita akan melakukan peletakan batu pertama dan tahun 2008 beroperasi dengan kapasitas 60 ribu ton per tahun," kata Direktur Utama BSP Ambono Juniarto di Jakarta, Senin (17/7).
Ia kenaikan harga minyak dunia akan mendorong percepatan proyek biodiesel di Indonesia dan mendongkrak harga CPO baik di dalam maupun luar negeri. Menurutnya, proyek biodiesel yang paling bisa dipercepat produksinya adalah biodiesel berbasis CPO, karena produksi CPO cukup besar di Indonesia.
Ambono memperkirakan kenaikan permintaan CPO untuk biodiesel maupun kenaikan harga CPO di dalam negeri akan mulai terjadi pada akhir 2006 atau awal 2007. Ia berpendapat penggunaan CPO untuk biodiesel meningkat, karena produksi jarak (jatropa) belum banyak.
"Jadi CPO sebagai perantara, nanti kalau jarak mulai banyak (produksinya), maka akan lari ke jarak," ujar Ambono. (ant)
Tanggal Tayang : 9-11-2006
Sumber : Sinar Harapan