Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 
   
 

Counter Stats
   

Tambang Baru Bernama Biodiesel

 

Banyak perusahaan terjun ke bisnis biodiesel

Setelah mendapat angin segar dari pemerintah, banyak perusahaan memutuskan terjun ke produksi biodiesel. Di atas kertas, peluang pasarnya gede; tapi bukan berarti tanpa risiko.

Saat kondisi ekonomi melesu, industri energi alternatif, seperti biodiesel menjadi oase. Banyak investor baik lokal maupun asing mengadu peruntungan di bisnis ini.

Di atas kertas, peluang meraup untung dari bisnis biodiesel cukup besar. Menurut data pemerintah, kebutuhan solar nasional saat ini diperkirakan mencapai 460.000 barel per hari atau 27 juta kiloliter/tahun. Repotnya, 30% dari total kebutuhan itu masih diimpor. Pemerintah juga menanggung beban subsidi BBM. Normal saja jika pemerintah mendorong penggunaan energi alternatif untuk mengatasi masalah beban BBM. Tahun 2009, target penggunaan biodiesel dipatok sebesar 2% dari kebutuhan solar atau sekitar 720.000 kiloliter.

Untuk memenuhi target pasokan 720.000 kiloliter biodiesel pada tahun 2009 itu setidaknya dibutuhkan 27 pabrik biodiesel skala komersial berkapasitas produksi 30.000 ton/tahun atau setara dengan delapan pabrik skala besar yang berkapasitas 100.000 ton/tahun. Dengan tenggat waktu yang tinggal tiga tahun ini pemerintah memberi jalan lapang bagi investasi baru di industri biodiesel.

Salah satu perusahaan yang sudah jalan adalah PT Eterindo Wahanatama. Lewat anak perusahaannya, Anugerahinti Gemanusa, Eterindo memproduksi biodiesel sejak awal tahun ini. Target produksinya 110.000 ton sampai akhir tahun ini, dan sekitar 70.000 ton di antaranya dipasok ke Pertamina. Tahun depan Eterindo mematok target produksi sebesar 240.000 ton per tahun yang disumbang dari pabrik di Gresik dan Tangerang. Bahan baku yang dipakai adalah minyak jarak. Tapi, sementara ini, sebagian bahan baku diambil dari minyak kelapa sawit.

Perusahaan perkebunan yang serius membidik bisnis biodiesel adalah PT Astra Argo Lestari (AALI). Langkah ini tak lepas dari rancangan diversifikasi usaha. Selain ke biodiesel, AALI juga berniat mengembangkan perkebunan jarak pagar sebagai bahan baku biodiesel. Tahun ini AALI sudah melakukan studi kelayakan dan mulai membangun pabrik.

Pemasaran untuk industri dan pertambangan

Untuk pasokan bahan baku biodiesel, AALI telah mengakuisisi perkebunan sawit seluas 10.000 ha milik PT Borneo Indah Marjaya di Kalimantan, akhir September 2006. Nilainya Rp 5,4 miliar. Di situ AALI bakal menanam pohon jarak yang diperkirakan produktif setelah enam bulan. Namun, produksi optimal dan pasokan tetapnya baru bisa didapat saat usia tanaman mencapai 3-4 tahun. Nantinya AALI bakal membidik pasar industri dan pertambangan sebagai sasaran penjualan biodiesel.

Berbeda dengan AALI, Bakrie Sumatera Plantation (Bakrie) justru sebaliknya. Sejak April silam, dengan menggandeng PT Rekayasa Industri (Rekind), anak perusahaan Bakrie ini menyatakan bakal membangun pabrik biodiesel dengan kapasitas sampai 100.000 ton per tahun di Batam. Total investasinya diperkirakan mencapai US$ 25 juta. "Kita saat ini menghitung kebutuhan peralatan untuk mendapatkan berapa banyak investasinya," tutur Tutik Herlina, Manajer Pengembangan Proyek PT Bakrie Sumatera Plantation.

Untuk proyek kongsian ini, Bakrie dan Rekind membentuk perusahaan bernama PT Bakrie Rekind Bio-Energy. Bakrie mengambil andil 70% saham, dan akan bertindak sebagai pemasok atau penyedia bahan baku berupa CPO. Rekind bakal menjadi penyedia jasa engineering, procurement, dan konstruksi pabriknya. "Operasi pabrik nantinya kita kerjakan bersama lewat anak perusahaan yang kita bentuk," tandas Tutik.

Batam sengaja mereka pilih sebagai lokasi pabrik biodiesel. Maklum, selain infrastruktur sudah lebih lengkap, Bakrie bakal membidik pasar industri di wilayah itu. "Sebagian memang kita pakai untuk memasok kebutuhan industri lokal," ujar Tutik. Tapi, jika harga dalam negeri kurang kompetitif, Bakrie berencana mengekspor biodieselnya. "Kalau harga pasar lokal terlalu banyak subsidi, kita akan melirik ke pasar lain," tuturnya. Diperkirakan, awal tahun 2008 produksi awal biodiesel Bakrie sudah ada di pasar.

Harganya bergantung pada harga minyak dunia

Indofood Sukses Makmur juga bakal terjun ke bisnis ini. Dalam paparan publik dua pekan lalu, Indofood menyatakan akan menambah jumlah pasokan CPO ke pabrik penyulingannya. Caranya, Indofood mengambil alih 60% saham milik Rascal Holdings Limited di tiga perusahaan perkebunan, yakni PT Mega Citra Perdana, PT Mentari Subur Abadi, dan PT Swadaya Bhakti Negaramas. Maklum, CPO dari kebun Indofood sendiri selama ini hanya memasok 50% dari kapasitas pabrik penyulingan mereka.

Selain memenuhi pasokan CPO untuk industri pangan, Indofood mungkin akan memproduksi biodiesel dari kelebihan produksi mereka. Soalnya, mulai tahun depan Indofood berencana menambah 20.000 ha lahan CPO di berbagai lokasi, yaitu Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur, dengan anggaran sekitar US$ 20 juta. Tahun 2015, dengan luas lahan yang mencapai 250.000 ha, diperkirakan kebun kelapa sawit punya Grup Salim itu mampu memproduksi sejuta ton CPO per tahun.

Selain itu perusahaan lain seperti PT Makindo (Gulaku) juga bakal mengembangkan jarak pohon. Lalu ada PT Musim Mas dan Karya Prajona Nelayan yang selama ini dikenal sebagai produsen minyak kelapa sawit. PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) malah sudah mengembangkan tanaman jarak pagar yang diambil residunya untuk proses pengolahan pabrik gula. "Sementara ini kami tak berpikir untuk komersial," ujar Noegroho Soetardjo, Ketua Tim Pengembangan Jarak Pagar RNI.

Untung mengggiurkan otomatis banyak risiko. Seorang petinggi perusahaan swasta distributor BBM impor menyebutkan alasan pihaknya tak masuk ke bisnis biodiesel. Menurutnya, saat harga minyak dunia cukup tinggi seperti sekarang, bisnis biodiesel memang tetap menarik. Tapi, kalau nanti harga minyak dunia sudah kembali ke kisaran US$ 50 per barrel, bisnis biodiesel jadi kurang menguntungkan. Soalnya, orang cenderung memilih solar lantaran lebih murah.

Tapi, menurut Tutik, bisnis biodiesel tak melulu mengacu pada harga minyak dunia, melainkan juga harga CPO. Jika harga CPO tinggi, otomatis biaya produksi biodiesel bakal tinggi juga. Kalau harga jualnya tak menyesuaikan, maka sama saja dengan menjual rugi. Apalagi kalau pemerintah tetap ngotot untuk menerapkan harga subsidi. "Kalau sudah begitu, memang harga biodiesel tak lagi kompetitif," tuturnya.

Yang paling baik, tambah Tutik, harga mestinya mengikuti permintaan pasar. "Jika itu pun masih kurang kompetitif, saya pikir itu bagian dari risiko bisnis," tandasnya.


Tanggal Tayang : 16-11-2006
Sumber : Kontan

   
 
 
Ke Berita Sebelumnya                                     Ke Berita Selanjutnya
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia