Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 
   
 

Counter Stats
   
Izin investasi biofuel capai US$1,33 miliar
 

JAKARTA: Permohonan izin investasi baru di sektor industri bahan bakar nabati (BBN/biofuel) hingga pertengahan November telah mencapai US$1,33 miliar atau Rp12,2 triliun.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), jumlah perusahaan dalam negeri (PMDN) yang telah terdaftar tercatat 31 unit usaha dengan nilai Rp8 triliun, sedangkan perusahaan asing (PMA) yang berjumlah 28 perusahaan nilainya sekitar US$464 juta.

Wakil Ketua Pelayanan Investasi BKPM Achmad Kurniadi mengungkapkan 31 perusahaan PMDN itu a.l. PT Indonesia Renewable, PT Citra Kalbar Sarana, PT Agro Subur Permai, PT Riau Agrotama Plantation, dan PT Guata Samba di kalimantan Timur.

Sedangkan 28 perusahaan PMA itu antara lain PT Gexchange Service, PT Bioenergi Persada, PT Elnusa Indobio Energi, PT Intraline Biofuel Indonesia, dan PT Bio Energi Nusantara.

Menurut Achmad, nilai investasi tersebut masih terbilang kecil dibandingkan potensi pasar yang dapat digarap. Oleh karena itu, pemerintah akan menyiapkan peta investasi nasional di sektor biofuel untuk memperjelas angka potensi pasar, kebutuhan investasi dan skema insentif investasi yang diperlukan. Selain itu, peta investasi lahan dan ketersediaan bahan baku juga perlu dirumuskan agar penanganan investasi di industri yang dianggap memiliki prospek cerah ini dapat tertata dengan baik.

"Sementara ini untuk izin-izin kebun yang tergolong luas kan perlu waktu cukup lama sehingga BKPM baru menerima pendaftaran mereka mendekati akhir tahun," katanya kepada wartawan seusai Workshop Nasional bertema Bisnis Biodiesel dan Bioetanol di Indonesia, kemarin.

Dia menjelaskan pada 2007 para investor tersebut akan mulai merealisasikan pembangunan pabrik biofuel di lahan-lahan yang sudah ditentukan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Harga minyak bumi

Di tempat yang sama, Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian Benny Wachjudi mengatakan harga minyak bumi yang masih sekitar US$56 hingga US$60 per barel dianggap masih ekonomis untuk pengembangan industri ini, meskipun margin yang diperoleh para industriawan diperkirakan tidak sebaik jika harga minyak di atas US$60 per barel.

Mengenai janji insentif kini ditagih oleh para pengusaha, dia menjelaskan bahwa industri bioetanol dan biodiesel dipastikan akan mendapatkan insentif yang telah diamanatkan dalam revisi PP No.148/2000. "Bentuknya investment tax allowance," jelasnya.

Namun, Donny Winarno Vice President PT Molindo Raya Industrial-produsen etanol dalam negeri-menjelaskan kalangan produsen bioetanol mulai mengeluhkan penurunan harga minyak dunia hingga di kisaran US$56 per barel sehingga masyarakat masih enggan beralih ke bahan bakar alternatif karena harganya menjadi kurang kompetitif.

Penurunan harga minyak dunia membuat para produsen bioetanol menjadi tidak dapat bersaing karena ongkos produksi yang dinilai masih terlalu besar. "Harga bahan bakar alternatif ini bisa kompetitif apabila harga minyak mencapai U$60 per barel," katanya.

Menurut dia, keterbatasan pasokan bahan baku berupa tetes tebu (molase) yang hanya sekitar 200.000 ton per tahun membuat industri bioetanol tidak tumbuh maksimal. Apalagi sampai sekarang belum ada ketentuan larangan ekspor atau pajak ekspor tetes tebu. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

Tanggal Tayang : 22-11-2006
Sumber : Bisnis Indonesia

   
 
 
Ke Berita Sebelumnya                                     Ke Berita Selanjutnya
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia