Pura Group Indonesia, produsen mesin, mulai memproduksi mesin biodiesel dengan total investasi US$ 15 juta. Ekspansi bisnis terbaru grup ini ditopang biaya riset yang mencapai 5% dari pendapatan tahun lalu yakni Rp 1,7 triliun.
Demikian disampaikan CEO Pura Group Indonesia Jacobus Busono usai menerima kunjungan Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian (Deperin) Benny Wachjudi di Jepara, Rabu (11/4).
"Total investasi Pura Group untuk divisi mesin jatropa sekitar US$15 juta. Riset untuk produksi mesin sudah dirintis tiga tahun lalu," paparnya.
Dia menerangkan, biaya riset produksi mesin itu dialokasikan 5% dari pendapatan (turnover) total grup yang membawahi 24 divisi usaha ini. total turnover Pura Group pada 2006 mencapai Rp 1,7 triliun. "Pendapatan yang kami peroleh diinvestasikan lagi ke research and development. Kalau tidak, perusahaan ini tidak hidup," katanya.
Menurut dia, produksi mesin biodiesel Pura dipicu program pemerintah tentang bahan bakar nabati (BBN) sehinggake depan, biodiesel cukup prospektif perkembangannya.
Selain memproduksi mesin biodiesel, lanjut dia, Pura Group juga mengembangkan mesin pembuat es serpih (ice flakes). mesin ini berguna untuk mengawetkan ikan dan sayuran, sehingga berguna bagi
kapal nelayan di tengah laut. "Sistem pengoperasiannya mudah dan hanya butuh air sebagai bahan baku. jadi berguna bagi nelayan di tengah laut. Bahkan, Carrefour di seluruh Indonesia sudah pakai mesin itu," ucapnya.
Pura Group, kata dia, juga berencana memproduksi pelapis kaca atau solar window film. Menurut dia, produk ini akan menyaingi produk serupa dari luar negeri. "Seperti Vcool itu lho, tapi produksi kami namanya Bcool. Kami sudah dapat banyak order dari Singapura dan Asia Tenggara karena harga kami cukup murah," tuturnya.
Rudiyanto, kepala Koordinator Pura Group Indonesia, menambahkan, mesin pengolah biodiesel itu mulai biji jarak sampai minyak olahan tanpa proses kimia. Mesin biodiesel Pura berkapasitas produksi dua ton per hari dan sudah dipatenkan. "Untuk riset lebih lanjut, kami akan kirim tiga orang ke Jerman karena di sana ada mesin yang lebih bagus yang bisa ditiru," katanya.
Dia menerangkan, harga untuk mesin hasil produksi Pura mencapai Rp 800 juta sampai Rp 1 miliar untuk output satu ton refined minyak jarak per proses. "Kami juga punya mesin untuk skala IKM dengan harga Rp 3 juta per unit dengan kemampuan cakupan 4 hektare kebun jarak atau 10 ribu pohon. Kalau mesin besar bisa 1.000 hektare kebun jarak," ucapnya.
Benny Wachjudi menjelaskan, pengembangan mesin biodiesel ini masih tergolong skala kecil. Pemerintah tentu terus membantu promosi dan pemasaran hasil produksi dalam negeri ini. "Kalau impor mesin terus, kita tidak akan pernah jadi negara industri," katanya