KUDUS, KOMPAS - Penggu-naan bio oil sebagai bahan bakar alternatif ternyata lebih efektif daripada biodiesel. Bio oil yang terbuat dari biji jarak dapat menggantikan bahan bakar solar hingga 100 persen. Sedangkan biodiesel hanya sebagai bahan cam-puran solar sekitar 10 persen sampai 20 persen.
Menurut Direktur Pura Group Indonesia, Jacobus Busono, Rabu (3/5) di Kudus, Jawa Tengah, proses pembuatan bio oil lebih mu-dah dan sederhana. Penjelasan diberikan pada kunjungan pene-liti senior bahan bakar terba-rukan, Wardiman Djojonegoro, di Kudus.
Untuk membuat biodiesel di-perlukan proses transesterifikasi yang memerlukan methanol. Aki-batnya, biaya produksi bertam-bah Rp 1.000 per liter.
Untuk membuat bio oil cukup dengan melakukan tekanan pa-nas pada biji jarak, lalu minyak yang dihasilkan disaring. Setelah diproduksi massal, diperkirakan harga bio oil Rp 2.300 per liter.
"Diperlukan adaptor kit pada mesin yang menggunakan bio oil, ketrena flame point bio oil berbeda dengan solar. Adaptor kit temuan Pura Group Indonesia yang di-patenkan akan diproduksi dengan sistem waralaba," kata Jacobus.
DDK HUMAS PURA KUDUS
Harga adaptor kit antara Rp 2 juta-Rp 5 juta. Fungsi adaptor kit sebagai katup pemilih bahan bakar, pengubah kekentalan minyak nabati, dan mencegah masuknya angin pada pompa injeksi. Menurut Jacobus, dengan adaptor kit dalam waktu satu bulan per-usahaan dapat melakukan peng-hematan besar.
Uji coba telah dilakukan ter-hadap tiga mobil diesel milik Pura Group Indonesia, yang menggunakan bahan bakar bio oil dan telah menempuh jarak 45.000 kilometer lebih tanpa masalah. Uji coba selanjutnya akan dilakukan
terhadap 50 truk milik Pura Group Indonesia.
Adaptor kit itu selain dirancang untuk bio oil dari tanaman jarak juga dapat menggunakan minyak biji randu (klentheng), minyak je-lantah dicampur minyak sawit mentah (CPO), maupun minyak solar.
"Mudah-mudahan dalam waktu satu sampai dua tahun minyak jarak dapat diperoleh dengan mudah. Selain itu, harus tersedia stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) minyak jarak dan ketersediaan jarak," ujar Jacobus menambahkan.
Wardiman Djojonegoro me-ngemukakan, sosialisasi tentang penanaman jarak ibarat perso-alan telur dan ayam. Harus ada yang mau mengerami telur sampai menetas.
"Dalam hal ini, harus ada yang memberikan kredit, dan harus ada yang mau membiayai petani supaya mau menanam jarak Ini karena tanaman jarak baru bisa dipanen setelah enarn bulan sampai setahun," ujar Wardiman.
Menurut Wardiman, tanaman jarak berprospek baik, tetapi yang paling penting yaitu adanya do-rongan. Bentuknya berupa penanaman jarak secara massal. Dan perlu political will peme-rintah untuk menyediakan dana dan melakukan sosialisasi. (WAD)
Tanggal Tayang : 7-7-2006
Sumber :
KOMPAS