JAKARTA — Pengembangan biodiesel dari mi-nyak kelapa sawit dapat mengganggu pasokan minyak sawit mentah (CPO) untuk industri mi-nyak goreng domestik dan pasar ekspor CPO,
"Pengembangan biodiesel dari minyak sawit baru bisa dilakukan dari hasil perluasan kebun sawit pada tahun-tahun mendatang," ujar Dirjen Perkebunan Departe-men Pertanian (Deptan) Achmad Manggabarani usai membuka te-mu koordinasi kehumasan Deptan di Cirebon, Sabtu pekan lalu.
Achmad menjelaskan, dalam lima tahun ke depan pemerintah menargetkan perluasan dan pere-majaan sawit 1,5 juta hektare (ha). Dari angka tersebut 150 ribu ha untuk peremajaan sawit hingga tahun 2009, dan 1,350 juta ha untuk perluasan sawit oleh masyarakat di wilayah yang selama ini mengganggu perkebunan inti dan plasma. Diproyeksikan, masing-ma-sing keluarga akan memperoleh empat ha kebun sawit, dua kali lipat dari standar saat ini dua ha untuk satu kepala keluarga (KK).
Menurut Achmad, produksi CPO Indonesia sekitar 14 juta ton
per tahun, dengan 4 juta ton untuk pasokan bahan baku industri minyak goreng domestik dan 10 juta ton diekspor. Dengan program perluasan dan peremajaan sawit, pada 2007-2008 produksi CPO diperkirakan naik mencapai 16 juta ton.
Achmad mengatakan, investor yang hendak mendirikan pabrik biodiesel minyak sawit harus mempunyai jaminan ketersediaan CPO untuk bahan baku . Namun, berbeda dengan s'yarat pendirian pabrik pengolahan CPO, pabrik biodiesel tidak wajib mempunyai kebun sendiri atau menjalin kemitraan dengan petani sawit.
Menurut Direktur PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Rama Prihandana, biodiesel minyak sawit masih lebih rnahal ketim-bang harga solar bersubsidi Rp 4.300 per liter.
Berdasarkan perhitungan Kepala Divisi Bahan Bakar Minyak (BBM) PT Pertamina (Persero) Djaelani Sutomo, harga biodiesel dari bahan baku minyak sawit di pasar Rp 4.600 per liter.
Rama menilai, biodiesel yang lebih tepat untuk dikembangkan di Indonesia biodiesel minyak jarak. Selain tidak mengganggu pasokan bahan baku untuk industri makanan dan ekspor, harga biodiesel minyak jarak juga jauh lebih murah. Berbeda dengan tanaman sawit yang baru bisa dipanen setelah empat hingga lima tahun, jarak sudah mulai berbunga pada umur lima bulan.
Untuk jenis jarak pagar, setiap ha tanaman bisa menghasilkan 4.300 liter minyak jarak per
tahun, dengan asumsi tiga kilogram (kg) biji kering menghasilkan satu liter minyak jarak mentah (crudejatropha oil). Meski harus diproses satu tahap lagi untuk bisa menjadi biodiesel yang bersubsitusi dengan solar, minyak jarak sudah bisa menggantikan BBM jenis residu untuk bahan baku boiler pabrik. "Harga crudejatropha oil sa-ngat murah (Rp 2.400 per liter, red), sehingga kami memutuskan untuk menggunakannya sebagai pengganti BBM jenis residu atau nonsubsidi yang harganya sekitar Rp 4.800 per liter," ucap Rama.
Pasar Sangat Luas
Rama memaparkan, saat ini kebutuhan residu untuk bahan bakar pabrik RNI masih 9 juta liter. Semula kebutuhan residu RNI mencapai 16 juta liter. Namun^e_ : jak tiga tahun lalu perusahaari berbasis pekebunan tebu ini mulai menggunakan daun tebu kering dan ampas tebu (bagasse) untuk bahan bakar, sehingga kebutuhan residu turun.
Dengan tiga pabrik minyak jarak di Cirebon , Subang dan Madiun, tahun depan RNI sudah bisa menghasilkan 9 juta liter minyak jarak. Bahan bakunya berasal dari kebun sendiri dan biji jarak dari masyarakat, yang dihar-gai Rp 500 per kilogram (kg). Luasan jarak yang sudah ditanam RNI mencapai 1.100 ha, yakni 700 ha di Cirebon dan 400 ha di Subang.
Menurut Rama, pasar minyak jarak sangat luas. RNI sudah mengantongi kontrak ekspor 30 ribu ton minyak jarak tahun depan, dengan harga US$ 0,32 atau Rp 2.818 per liter. Di luar itu, masih ada permintaan kontrak 150 ribu ton minyak jarak dalam waktu tiga tahun, namun belum dapat dipenuhi perusahaan. (est)
Tanggal Tayang : 7-7-2006
Sumber :
KOMPAS