JAKARTA - Departemen Pertanian menyiapkan pembangunan pabrik biodiesel sebagai bahan bakar alternatif dengan kapasitas 7.300 ton per tahun berlokasi di Medan , Sumatera Utara.
Menurut Kcpala Badan Pene-litian dan Pengembangan Departemen Pertanian (Deptan) Ach-madSniyana. persiapan dan pern-banguiian pabrik biodiesel dari minyak sawit mentah (crude palm Oil -CPO) itu membutuhkan waktu sekitar setahun.
Tahap pertama, akan dibangun pabrik biodiesel dengan kapasitas 20 ton per hari, untuk memasok bahan bakar kapal nelayan. "Diperkirakan dua-tiga tahun lagi biodiesel bisa dikembangkan sccara luas untuk keperlnan uniiini, ka-rena pasaniya sudah cukup ko-mersial," ujar Achmad usai acara penyerahan Biodiesel Minyak Sawit B-100 kepada nelayan di Pan-deglang, Javva Barat, Kamis (n/8).
Direktur Pusat Penelitian Kela-pa Sa\vit (PPKS) Medan Wirjaksana Darmosarkoro mengatakan, saat ini pihaknya sudah memba-ngun pabrik biodiesel di Medan dengan kapasitas i ton per hari, dengan investasi Rp i nu'liar. Menurutnya; sumberdaya, investasi, maupun teknologi pengemba-ngan pabrik biodiesel bisa dita-ngani sendiri oleh anak bangsa.
Kepala Biro Riset Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI) Cede Wibawa inengatakan, biodiesel seeara teoritis bisa dipakai 100% sebagai bahan bakar inc.sin. Nainuii deniikian, pengujian yang dilakukan seka-rang masih terbatas pada pema-kaian biodiesel sebagai campuran BBM. Misalnya untuk kapal nelayan, direkomendasikan penggunaan 10%-3O% dengan pencam-pur 10%-90% solar. Pada tingkat ini, sistem mesinnya sama sekali tidak perlu modifikasi.
Untuk penggunaan campuran biodesel dan solar dengan per-bandingan 50%:5O%, harus dilakukan penggantian selang berba-han karet alam ke karet sintetis. Bila tidak man melakukan modifikasi, penggunaan biodiesel yang aman sampai level 30%.
Achmad menjelaskan, seeara umum biodiesel dapat digunakan untuk semua mesin; baik kapal, mobil, pompa air maupun diesel. Dengan tingkat harga CPO sekarang US$ 375-USS 400 per ton,harga biodiesel minyak sawit Rp 5.700 per liter ). Mengingat harga solar untuk industri besar men-capai Rp 5.480 per 1, maka kon-sumen yang kini siap memakai biodiesel adalah industri besar."Jika industri besar sekarang di-hadapkan pada persoalan kelangkaan solar, mereka bisa memakai biodiesel sebagai campuran solar. Selain harganya tidak terpaut jauh, biodisel ini bahan bakar yang ramah lingkungan," ujar Achmad.
Amankan Harga CPO
Lebih jauh Achmad mengung-kapkan, pengembangan pabrik biodisel nantinya akan dilakukan di banyak tempat. Hal ini juga menjadi strategi pemerintah untuk menjamin harga CPO tidak ja-tuh. Saat harga CPO anjlok karena kelebihan suplai, maka kelebihan-nya dapat diserap untuk membuat biodiesel. Berdasarkan data Deptan, tahun ini area! kebun sawit Indonesia 5,34 juta hekare (ha).
Itulah sebabnya, lanjut Achmad, pilihan pengembangan biodiesel di Indonesia dari bahan minyak sawit, bukan jagung. Sebab, setiap tahun Indonesia masih hrus mengimpor jagung dalam jumlah besar.
Witjaksana menjelaskan, pengembangan biodisel bisa dimanfaatkan untuk memangkas impor solar yang kini sekitar 23 juta ton per tahun. Impor yang memboroskan devisa negara ini, bisa di-gantikan dengan produksi bidisel di dalam negeri setara 2,4 juta ton CPO. CPO yang dibut kan ini bisa dihasilkan dari ke! sawit seluas 700 ribu ha.
Menurut Witjaksana, CPO , menjadi bahan baku menghasilkan 90% biodiesel dan 10% hal lain, seperti gliseril. Gliseril masih bernilai ekonomi. untuk ban industri kosmetik.
Pabrik biodisel juga tidak hai menyedot dana investasi tinggi Dengan kapasitas produksi 201 per hari, pabrik sudah menemukan skala ekonomisnya. Pabrik ini juga tidak memakan tempat, untuk kapasitas sama hanya membut kan tempat sekitar 18 meter persegi (m3).(est)
Tanggal Tayang :10-7-2006
Sumber :