Tak Lama Lagi Akan Ditentukan Pelaksanaannya
MAGELANG, KOMPAS - Selain dapat meningkatkan industri dalam negeri dan mengurangi impor bahan bakar minyak, pengembangan bio-energi juga dapat menciptakan lapangan kerja. Lahan tandus dapat kembali diolah, ditanami bahan baku bio-energi, sehingga arus urbanisasi ke kota dapat ditekan
Demikian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seusai se-nam pagi di halaman Losari Coffee Plantation Resort and Spa, di Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (2/7). Bersama sejumlah menteri, Presiden mengadakan retret di penginapan yang dikelilingi per- kebunan kopi itu untuk mem-bicarakan pengembangan bio-energi sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM).
Presiden mengatakan, dengan mengembangkan bio-energi, ke-kayaan alam Indonesia dapat di- manfaatkan secara optimal. "Kita merugi kalau kekayaan dan sumber yang ada tidak dikelola dengan baik, apalagi negara lain sudah ada yang berhasil men- jalankan ini," katanya.
"Semalam kami rapat, ada sua- tu master-plan bagaimana kita kembangkan bio-energi ini. Di samping meningkatkan industri dalam negeri, mengurangi impor BBM, mengembangkan bio-energi juga dapat menciptakan la pangan kerja," ujarnya.
Pengembangan bio-energi dapat juga menggerakkan ekonomi lokal. Usaha kecil dan menengah bisa tumbuh. "Dengan demikian, dapat mengurangi urbanisasi dan tak lagi membebani kota. Petani kembali ke tanah semula. Tanah tandus bisa diolah. Masyarakat yang hanya punya satu atau dua hektar tanah bisa diaktifkan kem bali," ungkapnya.
Bahan baku
Menteri Perindustrian Fahmi Idris menjelaskan, secara teknis pemerintah sudah menentukan arah penggunaan bio-energi dari segi bahan bakunya, seperti mi nyak jarak, kelapa sawit, dan eta- nol dari tebu. "Etanol merupakan produk sampingan gula. Ini juga bisa dari tebu, singkong, jagung, dan berbagai tanaman yang saat ini sudah ditemukan dan dikem- bangkan manfaatnya," katanya.
Yang paling ekonomis adalah minyak jarak karena minyak sa wit mentah (CPO) dari kelapa sawit masih diekspor, minyak je- lantah juga masih terbatas.
Masalahnya sekarang, lanjut Fahmi, tinggal bagaimana mem-produksi bio-energi secara mas- sal, berapa ton biji jarak dan berapa ribu hektar lahan yang dibutuhkan. Meski demikian, Fahmi meyakinkan, tak berapa lama—seusai retret ini—akan di tentukan pelaksanaannya.
"Produksi oleh beberapa pihak sudah mulai dilakukan, baik pe- merintah maupun swasta. Di Nu- sa Tenggara Timur, Nusa Tengga- ra Barat, dan beberapa daerah lain sudah memulai penanaman dan produksi," ujamya. j Departemen Perindustrian, katanya, ditugasi membuat de- I lapan pabrik minyak jarak yang I bisa mengolah biji jarak maupun I minyak sawit mentah. "Empatj pabrik kapasitas 6.000 ton pei tahun dan empat lagi kapasita; 300 ton sedang dirancang spe- sifikasi teknisnya," ungkapnya.
Fahmi menjelaskan, kini se dang dirancang daerah yang tepal untuk penempatan pabrik sesua persyaratan. "Sejauh ini yang bisc masuk pemetaan itu adalah Su- matera, Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan," ujarnya. (MDN
)
Tanggal Tayang : 9-9-2006
Sumber : Kompas