Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 
   
 

Counter Stats
   

Kembangkan Jarak, Pemerintah Diminta Gandeng Hiswana Migas

 


JAKARTA- Pemerintah disarankan menggandeng pengusaha minyak dan gas yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Swasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) dalam menyukseskan program pengembangan energi terbarukan, khususnya yang berasal dari tanaman jarak.

"Hiswana Migas sudah memiliki jaringan yang sangat luas di seluruh wilayah tanah air. Jadi pemerintah bisa memanfaat- kannya sebagai pioneer di lapangan. Hiswana juga bisa mem-bantu pemerintah mensosialisasikan program ini ke masyarakat luas," kata Sekjen Komite Indonesia untuk Pengawasan dan Peng- hematan Energi (Kipper) Sofyano Z.Zakaria di Jakarta, Minggu

(16/7).

Untuk pengembangan jarak, kata Sofyano, pemerintah harus bisa memberikan bibit tanaman untuk disebar di seluruh wilayah. Selain itu, kata dia, pemerintah juga perlu menyediakan alat untuk mengolah jarak, minimal di setiap kecamatan agar jarak bisa diproses menjadi minyak.

Saat ini Institut Pertanian Bogor (IPB) sudah menciptakan alat pengolahan minyak jarak yang telah diujicobakan dan ternyata mampu menggerakkan mesin diesel berskala kecil. Mesin pengolah buatan IPB itu, kata Sofyano, dalam satu jam bisa menghasilkan 30 liter.

"Bayangkan dalam sebulan berapa ribu liter minyak solar yang dihasilkan oleh satu mesin. Mungkin jumlah tersebut sudah bisa memenuhi kebutuhan satu kelurahan. Kalaupun over produksi kan bisa ditampung oleh swasta misalnya. Di sini swasta akan bisa mengambil peranan," katanya.

Menurut Sofyano, dibanding biodiesel yang saat ini sudah di- pasarkan oleh Pertamina, minyak jarak masih lebih efisien. Pasalnya biodiesel yang sudah dijual di sejumlah SPBU itu, masih harus dicampur dengan solar sampai sekitar 95%. "Sementara minyak jarak tidak perlu campuran dan murni minyak jarak," katanya.

Dia menambahkan, apabila dihitung-hitung, penggunaan minyak sawit sebetulnya tidak mengurangi subsidi secara signifikan karena masih memerlukan campuran solar dalam jumlah cukup besar, sedangkan jarak tidak perlu dicampur dengan BBM. Hanya baja minyak jarak masih butuh waktu karena paling cepat 3 tahun baru bisa menghasilkan buah yang bagus.

"Tapi tidak apa-apa, kita harus mulai dari sekarang. Yang penting pemerintah mau mensubsidi alat pengolahannya terutama untuk skala-skala kecil, sehingga paling tidak di setiap kelurahan itu ada satu mesin," paparnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro mengatakan pengembangan bahan bakar nabati (biofuel) hingga 2010 diperkirakan menelan dana Rp 200 triliun. Investasi sebesar itu mencakup sektor hulu maupun hilir, terutama untuk membangun 11 pabrik biofuel dan membuka lahan penanaman seluas enam juta hektare di seluruh wilayah Indonesia.

Pendanaan untuk investasi tersebut, kata Purnomo akan dilakukan secara 'keroyokan' oleh pemerintah, pengusaha skala besar yang concern di sektor agroindustri, pengusaha skala besar dalam pembuatan pabrikan biofuel, kalangan koperasi, petani, dan rumah tangga, juga kalangan multilateral agency, (es)

Tanggal Tayang : 9-9-2006
Sumber : Kompas

   
 
 
Ke Berita Sebelumnya                                     Ke Berita Selanjutnya
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia