Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 
   
 

Counter Stats
   

Konsorsium Korsel Investasi US$ 1 M

 


JAKARTA- Grup Asian Great Business (AGB), konsorsium beranggotakan 20 pengusaha Ko­ rea Selatan (Korsel), segera mena- namkan modal sekitar US$ 1 miliar di Indonesia. Investasi itu untuk mengembangkan proyek biodiesel, pertambangan batu bara, perikanan, dan pariwisata di beberapa provinsi di Tanah Air.

Sebagian besar anggota konsor­sium sudah lama beroperasi di In­donesia dan sebagian lainnya ada- lah pemain bara. "Kami siap berin- vestasi lebih dari US$ 1 mOiar seiring membaiknya iklim investasi di In­donesia," ujarDirekturUtama Grup AGB Kim Tae Sik kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut dia, nilai investasi se- besar itu baru tahap awal. Penam- bahan investasi berikutnya tergan- tung suksesnya proyek pertama. Kim belum bersedia menjelaskan anggota konsorsium sebab ma- yoritas merupakan perusahaan publik di negara ginseng tersebut. Informasi lebih rinci baru di- umumkan akhir bulan ini setelah pertemuan di Korsel.

la menjelaskan, sebagian proyek yang ingin dikembangkan sudah mulai berjalan seperti pem- bangunan cold storage di Pluit dan Pulau Seribu, Jakarta Utara. Ke- dua proyek menelan investasi sekitar US$ 10 juta.

Untuk mengembangkan bisnis tanaman penghasil biodiesel dan bioethanol di Provinsi Maluku Utara, AGB mendirikan PT AGB Energy. Nota kesepahaman sudah diteken dengan sejumlah pemerin- tah daerah Maluku Utara pada 1 Agustus 2006. Nilai awal investasi pengembangan pohon jarak pagar dan tanaman lain mencapai US$ 100 juta. Luas lahan yang melibatkan petani lokal mencakup 300.000 hektare (ha).

Untuk tahap awal, kata dia, lahan yang akan dikembangkan seluas 100.000 ha. Sebanyak 80.000 ha dikerjakan petani lokal dan sisanya oleh AGB. Total investasi kedua proyek akan bertambah menjadi US$ 200 juta dalam beberapa tahun mendatang. Sebagai bukti keseriusan investasi, AGB sudah menyetor dana Rp 10 miliar ke PT Bank Maluku Cabang Ternate.

Selain menggarap biodiesel dan bioethanol, konsorsium itu me- ngembangkan tambang batu bara dan pariwisata seperti hotel dan resor. Kedua proyek diperkirakan mencapai US$ 600 juta. Namun investasi terbesar akan dialokasi- kan pada pertambangan batu bara.

Dipilihnya Maluku Tengah seba- gai pusat investasi, lanjut dia, ka- rena lokasinya yang cukup dekat dengan Korsel dan faktor keterse-diaan bahan baku. Sebagian besar hasil komoditas yang dihasilkan dari pabrik biodiesel dan bioethanol akan dipasarkan ke Korsel. "Kamijuga melirikpotensi pariwi­ sata di provinsi lain. Tapi detail baru diumumnkan akhir bulan ini," kata dia.

Menurut Kim, minat pengusaha Korsel berinvestasi di Indonesia cukup tinggi mengingat iklim in­vestasi Man membaik dibanding- kan lima tahun silam. Tapi dia mengakui, masih ada sejumlah hambatan yang menghalangi ma-suknya dana asing, antara tenaga kerja, kepastian hukum, dan per-pajakan.

Data Badan Koordinasi Pena- naman Modal (BKPM) menyebut- kan, Mitta Choi tengah memba- ngun pabrik bioenergi senilai US$ 1 miliar di Lampung. Pabrik milik pengusaha Korsel tersebut nanti- nya akan menjadi penghasil bioe­nergi terbesar di Indonesia.

Dae Joo juga telah tertarik mem- bangun galangan kapal di Pulau Rempang, Provinsi Kepri dengan komitmen investasi US$ 500 juta. Pembangunan kapal butuh areal seluas 500 ha. Sedangkan LG Elec­ tronics belum lama ini juga me- ningkatkan investasi di Indonesia senilai US$337 juta.

Investasi Koresel Meningkat

Kim optimistis, jika pemerintah Indonesia berhasil memperbaiki iklim investasi, jumlah investasi Korsel dan negara asing lain bisa meningkat drastis di masa menda- tang. Sebab, selama ini pebisnis Korsel lebih banyak berinvestasi ke Cina, Thailand, Malaysia, dan Viet­nam. "Tapi belakangan ini, kami sudah menjadikan Indonesia seba- gai tujuan investasi cukup menarik di Asia," kata dia.

Hal senada diungkapkan Dirut PT Korea World Trade Center Gi Man Song, yang menilai minat pe­bisnis Korsel berinvestasi ke Indo­ nesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun, khususnya tiga ta­ hun belakangan ini. Hal tersebut tidak lepas dari mulai stabilnya situasi politik dan keamanan pascakrisis moneter.

Guna merangsang lebih banyak investor, lanjut Song, pemerintah diminta segera membenahi per- pajakan, kepastian hukum, tenaga kerja, dan infrastruktur. Pasalnya, keempat masalah tersebut paling sering dikeluhkan pengusaha lokal dan asing.

Menurut dia, belakangan ini pengusaha Korsel tidak lagikonsen- trasi pada bisnis tekstil dan sepatu, tapi mulai beralih kepada elektro­ nik, otomotif, dan teknologi infor-masi. "Untukmengakomodasiting- ginya minat pengusaha kecil dan menengah berinvestasi, kami te­ ngah merampungkan Korea World Trade Center di kawasan Pulo Mas, Jakarta Timur," tandas dia.

Proyek senilai Rp 60 miliar, di luar harga tanah, akan menyedia- kan sarana pameran bagi otomo­ tif, teknologi informasi (TI), olah raga dan budaya serta mampu menampung sekitar 400 perusa- haan. Salah satu perusahaan ritel terbesar asal Korsel siap membuka gerai di areal 3,5 ha tersebut.

Dia memprediksi, kawasan ini berpotensi menarik investasi dari Korsel sekitar US$ 100 juta dalam dua tahun mendatang.

Menanggapi semakin besarnya minat pebisnis Korsel, Sekretaris Utama BKPM Yus'an mengaku, investor Korsel belakangan ini memang memperhitungkan Indo-

nesia sebagai salah satu tujuan in- vestasinya pascakrisis moneter.

Yus'an menjelaskan, jenis in- dustri yang dikembangkan bukan lagi tekstil dan sepatu, melainkan elektronik, otomotif, dan manufak- tur lain. Hal tersebut didorong se­makin canggihnya perkembangan teknologi negara tersebut yang di- dukung peranan riset pengem- bangan oleh perusahaan-perusa- haan papan atas seperti Samsung dan LG Electronics.

Insentif

Agar industri elektronik Indone­ sia mampu bersaing di pasar glo­ bal dan memberikan nilai tambah, lanjut dia, pemerintah akan men-dorong asing untuk menciptakan desain-desain baru dengan mem­ berikan insentif yang atraktif. Se­ bab, selama ini mayoritas asing cen­ derung memproduksi desain elek­ tronik yang sama seperti di negara asal. Padahal, Indonesia membu- tuhkan desain produkyang inovatif.

Data BKPM menunjukkan, sejak 1967-2004 total realiasasi investasi Korsel mencapai US$ 10,2 miliar dan masuk dalam 10 besar. Dari segi realisasi investasi tetap (IUT) hingga semester I 2006, Korsel berada di urutan kedua dari lima negara.

Pada 2005, nilai persetujuan in­vestasi mencapai US$ 4,73 miliar atau naik dari tahun sebelumnya US$ 4,10 miliar. Jumlah perusaha­ an mencapai lebih dari 600. Bah- kan, sampai semester 12006, Kor­ sel berada di urutan keempat ne­ gara asing terbesar dari nilai perse­ tujuan investasi, disusul Singapura, Malaysia, dan Inggris. Nilai proyek berjumlah 172 dengan komitmen investasi sekitar US$ 500 juta.

Kim, Song dan Yus'an mengaku, meski beberapa investor Korsel hengkang dari Indonesia, jumlah yang masuk jauh lebih besar. Keluar masuknya investor, menurut mereka, merupakan fenomena biasa dan tidak hanya terjadi di Indonesia, (kp)

Tanggal Tayang : 9-9-2006
Sumber :

   
 
 
Ke Berita Sebelumnya                                     Ke Berita Selanjutnya
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia