JAKARTA(Media):Sebuah tim nasional segeradibentuk untuk mengem-bangkan bahan bakar nabati (bioenergi). Pengembangan bahan bakar untuk menggantikan bahan bakar minyak itu akan diatur keputusan presiden. Purnomo Yusgiantoro usai pertemu-an.
Alhilal Hamdi adalah mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmi-grasi pada era Abdurrahman Wahid, dan kini menjabat Komisaris Utama PT PLN (persero). Alhilal juga ter-catat sebagai Ketua Umum Masya- rakat Energi Hijau.
Purnomo menjelaskan tim ini mempunyai kewenangan menga-wasi pelaksanaan pengembangan bioenergi. Setelah itu, pemerintah membuat kebijakan yang mengacu Demikian hasil rapat terbatas ten- tang pengembangan bahan bakar nabati yang dipimpin Presiden Susi-lo Bambang Yudhoyono di Gedung Utama Sekretariat Negara, Jakarta, kemarin. Rapat ini merupakan ke- lanjutan rapat serupa di Losari, Ma- gelang, Jawa Tengah, awal Juli lalu.
"Dalam waktu satu atau dua hari ini akan diterbitkan keputusan pre siden (keppres) mengenai tim nasio nal pengembangan biofuel yang di- ketuai Alhil al Hamdi/' kata Menteri EnergiUah Sumber Daya Mineral pada lima faktor penting pengembangan bahan bakar nabati.
Kelima faktor penting adalah ke bijakan penyediaan lahan, infra- struktur, pabrikasi, pasar, dan pen- danaan. Semua itu akan dimasuk- kan dalam cetak biru pengembang an bahan bakar nabati nasional.
Alhilal menjelaskan p'engemba- ngan ini akan membutuhkan lahan yang banyak untuk menanam tana- man bahan baku. Sedikitnya, seba- nyak 6,5 juta hektare dibutuhkan untuk menanam kelapa sawit, jarak pagar, tebu, dan singkong. "Lahan yang disediakan tersebar dari Papua hingga Aceh," tegas Alhilal.
Pendanaan
Pengembangan energi ini mem butuhkan dana sekitar Rp200 triliun. Dana itu dibutuhkan untuk keper- luan budi daya tanaman dan peng-olahan industri.
Pada tahap budi daya, biaya me nanam kelapa sawit mencapai Rp30 juta per hektare (ha), tanaman tebu Rpl5 juta/ha, tanaman jarak pagar Rp3 juta / ha, dan tanaman singkong Rp3,5 juta/ha.
Perhitungan ini berdasarkan pe- ngalaman PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dan beberapa BUMN perkebunan lain.
"Total dana yang dibutuhkan un tuk investasi budi daya tanaman mencapai RplOO triliun. Ditambah dengan pengolahan, biayanya sekitar Rp200 triliun," jelasnya.
Pengembangan bioenergi ini ter- buka bagi pemodal dalam dan luar negeri. Sampai saat ini dukungan muncul dari bank-bank BUMN dan sejumlah bank nasional lain. Lem- baga-lembaga keuangan itu siap menyediakan dana sebesar RplOO triliun.
Pendanaan untuk tiga komoditas yakni kelapa sawit, tebu, dan sing kong, menurut Alhilal, telah niasuk dalam pantauan perbankan nasio nal. Nantinya, ketiga komoditas ini akan masuk skema pembiayaan bank yang standar.
Dirut Bank Mandiri Agus Marto- wardoyo mengungkapkan bentuk dukungan perbankan nasional ini akan difinalisasi dalam dua ming- gu untuk melihat kebutuhannya.
Dia menilai kalangan perbankan nasional pada dasarnya melihat bahan baku bioenergi sebagai komoditas yang menguntungkan. Menu-rut Alhilal, pemerintah juga tengah mempertimbangkan pemberian in-sentif fiskal berupa keringanan pa- jak bagi perusahaan yang mengha- silkan bioenergi. (Wis/OK/X-9)
Tanggal Tayang : 9-9-2006
Sumber :