JAKARTA , KOMPAS - Stasiun pengisian bahan Dakar umum di Jakarta, mulai 20 Mei mendatang, akan menjual biodiesel lagi kendaraan bermotor Derbahan bakar solar. Bio- iiesel yang akan dipasar- kan itu terdiri atas cam-puran minyak solar 90 persen dan minyak sawit hasil esterifikasi dengan komposisi 5-10 persen.
"Penjualan biodiesel dilaksa- tiakan berkaitan dengan kerja 3ama antara Pemerintah Provinsi DKI dan Pertamina," kata Men- teri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman pada acara peluncuran Pemanfaatan Minyak Nabati (pure plant oz7/PPO) se- bagai bahan bakar alternatif di Jakarta, Selasa (9/5).
Pada peluncuran itu dipera- gakan penggunaan bahan bakar nabati (BBN) itu pada mesin die- sel berkapasitas 5 kVA dan 100 kVA serta kompor gas minyak tanah alias gasmit, dengan cam-puran PPO 5 hingga 15 persen serta kendaraan bermesin solar.
Penggunaan secara komersial BBN ini menyusul proses uji coba yang telah dilakukan BPPT dua tahun terakhir, termasuk pene- rapannya pada bus karyawan Ba- dan Pengkajian Penerapan Teknologi ini dan Departemen Ener- gi dan Sumber Daya Mineral. Uji coba menunjukkan secara teknis tidak ada perbedaan antara peng gunaan solar murni dan biodiesel, namun dapat mereduksi emisi gas karbon dan sulfur.
Upaya rintisan yang ditempuh oleh Pemerintah Provinsi DKI ini sejalan dengan program peme rintah mengurangi ketergan- tungan pada bahan bakar minyak, dalam hal ini solar, yang sebagian besar diimpor. Saat ini kebutuhan solar dalam negeri mencapai 14 juta kiloliter pep tahun.
Bisa kurangi subsidi
Dari hasil kajian ekonomi BPPT, pencampuran 10 persen BBN terhadap solar maka jumlah subsidi solar akan dapat diku- rangi sebesar Rp 2,56 triliun, se- dang jika pencampuran 10 persen BBN terhadap minyak tanah ma ka subsidi yang bisa dihemat hingga Rp 1,66 triliun per tahun.
Dalam mendorong penggunaan BBN, pemerintah telah me- netapkan Kebijakan Energi Na- sional dan mengeluarkan Inpres Bahan Bakar Nabati. Dengan ke-luarnya kebijakan peraturan dan instruksi presiden, Pertamina di- haruskan menjual biodiesel sebagai bahan bakar alternatif.
Penjualan biodiesel lewat SP BU di DKI, diingatkan Kusma yanto, hendaknya harus diper-hatikan kesinambungan dan ke- cukupan pasokannya. Dalam hal ini perlu diatur tata niaga per- usahaan yang telah mengantongi izin untuk memasoknya.
Saat ini, dilihat dari aspek har- ga biodiesel masih lebih mahal daripada harga solar, sehingga di- khawatirkan tidak menarik ma-syarakat untuk membeli meski-pun penggunaannya dapat me ngurangi pencemaran gas rumah kaca. Dengan masih adanya subsidi, harga solar Rp 4.300/ liter, sedangkan harga minyak sawit esterifikasi Rp" 6.000/liter. Ada-pun sebagai biodiesel 10 persen, harganya Rp 4.400/liter.
Dilihat dari biaya, produksi mi nyak jarak jauh lebih murah, ya- itu Rp 3.800/liter, tetapi tanaman jarak belum dibudidayakan se cara luas. Namun, saat ini kelapa sawit paling siap untuk diproses sebagai biofuel, karena telah ada enam juta hektar lahan tanaman itu.
Dalam mengembangkan penggunaan biodiesel, pemerintah te lah mengalokasikan anggaran Rp 300 miliar, Rp 60 miliar di an- taranya disediakan untuk pem-bangunan pabrik pembuatan ba han bakar itu. Saat ini ada be- berapa daerah yang layak bagi pendirian pabrik biodiesel, antara lain di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Riau, dan Sumatera Utara. Rencana pem- bangunan pabrik biodiesel di daerah akan dilakukan berdasarkan tender, yang akan diatur oleh Departemen Perindustrian.
Uji coba biodiesel
Dijelaskan oleh Dwi Husodo, Perekayasa Madya bidang Energi BPPT, uji coba biodiesel 10 per sen telah dilakukan pada ken daraan bermotor bermesin diesel. Hingga jarak tempuh 16.000 km, performasi daya dan torsi menggunakan bahan bakar bioesel tidak menunjukkan adanya per bedaan dibandingkan dengan mi nyak solar. Dilihat dari emisi kar bon, hidrokarbon dan partikulat penggunaan biodiesel lebih ren- dah. Dilihat pada nilai ekono-minya, penggunaan biodiesel le bih baik. Pada bahan bakar bio ini per liternya mencapai 10,14 km sedangkan solar 9,76 km.
Selain untuk kendaraan ber motor, ditambahkan Unggul Pri- yanto—Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT, bahan bakar nabati layak untuk pembangkit listrik dan mesin di industri. Kerja sama uji coba biodiesel kini telah di- jalin antara BPPT dengan be- berapa industri, termasuk dengan PLN dan PT Pindad.
Jika semua PLTD milik PLN menggunakan biodiesel, maka penghematan bisa mencapai Rp 30 triliun per tahun. Biaya yang dikeluarkan industri untuk solar memang tinggi, sebab, harga jual solar untuk industri lebih mahal dibandingkan untuk transportasi, yaitu Rp 5.000 per liter.
Padahal, pencampuran minyak tanah dengan BBN sebesar 10 persen saja dapat menghemat anggaran Rp 3 triliun per tahun. "Ini dimungkinkan karena subsidi untuk minyak tanah yang masih diimpor per tahun men capai Rp 30 triliun," ujar Kus mayanto. (YUN)
Tanggal Tayang : 9-9-2006
Sumber :