Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 
   
 

Counter Stats
   

Masyarakat NTT Berharap Banyak Penanaman Jarak Sebaiknya di Lahan Kritis

 

KUPANG, KOMPAS - Masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur menyatakan harapan besar mereka agar pengembangan energi alternatif, khususnya minyak jarak, turut meningkatkan kesejahteraan mereka

"Kami ingin berkontribusi da- lam pengembangan energi ter-barukan secara nasional, tetapi sangat penting hal itu turut menggerakkan ekonomi pedesa-an dengan pengurangan kemis- kinan dan pembukaan lapangan kerja. Ujungnya, layanan . kese- hatan membaik dan pendidikan pun semakin memadai," kata Wa-kil Gubernur NTT Frans Lebu- raya ketika melepas secara resmi Jatropha Expedition 2006 di ha- laman Kantor Bupati Belu, Rabu (12/7).

Ekspedisi bahan bakar minyak jarak murni yang diprakarsai oleh Majalah National Geographic In­ donesia (NGI) ini menempuh ja­rak 3.000 kilometer.

Upacara ini dihadiri pula staf ahli Menteri Negara Riset dan Teknologi Bidang Energi Terba-rukan Martin Djamin, Bupati Be­ lu Joachim Lopez, Bupati Timor Tengah Utara Gabriel Manek, dan unsur Muspida. Sementara, rom- bongan ekspedisi diikuti bebe-rapa sponsor dan calon investor dari Indonesia dan Singapura.

Kepada kelompok tani yang turut hadir sebagai peserta upa­ cara, Frans mendukung pena­naman pohon jarak seluas 653 hektar di Desa Naisau, Kabu- paten Belu, dari potensi 95.000 hingga 100.000 hektar di seluruh Belu. Akan tetapi, ia menekankan agar petani hanya menanami la­han kritis dan tidak produktif, sedangkan lahan produktif tetap harus ditanami padi, jagung, dan kacang-kacangan.

Secara khusus, seperti diung- kapkan Joachim, pihaknya telah mencanangkan Gerakan Seren tak Menanam Jarak (Gertak) per- tengahan tahun 2006. Bahkan, kabupatennya bertekad menana­ mi sekitar 100.000 hektar lahan dengan tanaman jarak pagar (Jantropha curcas) itu.

Adapun potensi lahan kritis di wilayah NTT yang siap ditanami jarak pagar mencapai lebih dari 1,7 juta hektar. Seperti terlihat di sepanjang jalur Atambua-Ku- pang, sebagian besar hamparan perbukitan berbatu ditumbuhi semak dan rerumputan yang mu- lai mengering.

Sementara, berdasarkan pene-litian awal di berbagai pusat pe­nelitian, seperti Pusat Penelitian Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Puslit Bioteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB), jarak pagar yang tumbuh di kawasan NTT termasuk memiliki kan- dungan minyak tinggi antara 30-35 persen.

Antusiasme dan harapan besar masyarakat NTT juga tampak ke­ tika rombongan ekspedisi yang melintas diminta berhenti di tiga daerah, masing-masing di Desa Puna, Desa Tetaf, dan Desa Ben- lutu di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Masya­ rakat di tiga desa tersebut me- nyambut dengan tarian tra- disional dan menjamu rombong­ an.

Secara khusus, ratusan warga meminta agar segera disosiali-sasikan dan diimplementasikan pengembangan minyak jarak pa­ gar. Bahkan, warga di Desa Tetaf, Kecamatan Amanuban Barat, TTS, berinisiatif menanam jarak di dua hektar lahan kritis dari rencana sekitar 40 hektar.

Mereka menanam dengan cara tradisional, menancapkan ba- tang-batang jarak tanpa daun pa- da hamparan lahan berumput. Mereka mengaku siap mengganti tanaman yang ada dengan bibit lain, bila memang ada.

Prof Robert Manurung, pene- liti Puslit Bioteknologi ITB yang juga pengembang minyak jarak murni dan diuji dalam ekspedisi ini, menyatakan kepada warga, bahwa investor sedang menjajaki serius pengembangan minyak ja­ rak.

Pada kata sambutannya yang dibacakan staf ahli Martin Dja­ min, Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman menyatakan, ekspedisi saat ini agar ditindaklanjuti de­ngan serangkaian penelitian se­ perti pencarian bibit unggul, pro­ ses pemurnian hingga pendistri-busiannya. Sementara, pemerin- tah telah mencanangkan tahun 2010 penggunaan minyak nabati minimal 10 persen untuk skala nasional. Lima persen lainnya untuk energi terbarukan lain.

Berdasarkan uji pascaperjalan- an etape I Atambua-Kupang me­nempuh jarak 273,9 kilometer ditemukan, kendaraan bermesin Mitsubishi berbahan bakar kom-posisi 100 persen minyak jarak murni membutuhkan 29 liter (1 liter setara dengan 9,44 kilome­ter). Sedangkan yang berbahan bakar campuran solar-minyak ja­ rak murni butuh 31 liter untuk jarak sama (1 liter: 31,5 liter).

Hingga berita ini diturunkan, belum dihitung konsumsi bahan bakar kendaraan berbahan bakar 100 persen solar untuk jarak tem-puh yang sama. "Secara umum, kekurangan minyak jarak murni adalah kekentalannya yang masih tinggi untuk mesin diesel," kata Prabowo Kartoleksono, Direktur Manajer Agraprana yang ikut ek­ spedisi ini. (DOT/KOR/GSA)

Tanggal Tayang : 10-9-2006
Sumber :

   
 
 
Ke Berita Sebelumnya                                     Ke Berita Selanjutnya
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia