Provinsi Jambi, akan dimulai Oktober 2006 mendatang dan diperkirakan mulai beroperasi awal 2007. Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pembangunan pabrik ini antara Pemprov Jambi dengan Pemerintah Pusat, telah dilaksanakan Kamis (7/9) lalu di Kantor BPPT, Jakarta.
Penandatanganan ini langsung dilakukan oleh Bupati Muaro Jambi, Burhanuddin Mahir, Sekretaris Utama BPPT Jumain Appe dan Deputi Kepala Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material BPPT, Marwan Aziz.
Pembangunan pabrik tersebut merupakan yang kedua di Sumatera, setelah pabrik di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Satu pabrik lainnya dibangun di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat.
Untuk pembangunan fisiknya, pembangunan pabrik itu akan memakan dana Rp 2 miliar yang akan diambil dari APBN. Pada tahap awal, pabrik tersebut berkapasitas 1.500 liter per hari dengan bahan baku crude palm oil (CPO), dan 3.000 liter per hari dalam beberapa bulan berikutnya.
Deputi Kepala Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material BPPT, Marwan Aziz, menjelaskan sasaran awal hasil produksi biodiesel hingga 2010, yang terbesar dari singkong sejumlah 12,750 juta ton, bioethanol (tebu) 7,680 juta ton, tanaman jarak 3,154 juta ton, dan sawit 1,364 juta ton.
Pembangunan pabrik biodiesel oleh pemerintah, menurut Koordinator Perencanaan Pembangunan Pabrik Biodiesel Kabupaten Muaro Jambi, Dasra, untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di Indonesia yang semakin lama semakin tinggi, sementara pasokan BBM tidak mencukupi.
Untuk jangka panjang
, produksi biodiesel dari tiga pabrik yang dibangun di Indonesia diharapkan mampu menekan subsidi BBM premium, kerosin (minyak tanah) dan solar sebesar Rp 9 triliun.
Selain itu diharapkan menekan impor BBM sebesar US$ 4,96 miliar, menciptakan lapangan kerja bagi 3,6 juta warga Indonesia, mengurangi 5 hektare lahan telantar, dan akhirnya menekan angka kemiskinan hinga 16 persen.
Tanggal Tayang : 18--9-2006
Sumber :