Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 
   
 

Counter Stats
   

MINYAK JARAK UNTUK MESIN DIESEL

 

Mulai awal tahun lalu, Presiden mengeluarkan Inpres No. 1/2006 yang intinya mengajak seluruh lapisan masyarakat birokrat dan pengusaha untuk menggiatkan penggunaan energi alternatif. Imbauan ini tentu saja untuk menghemat tabungan minyak nasional yang terus terkuras tiap harinya. Sebagai energi yang tidak terbarukan, minyak dalam beberapa waktu mendatang masih merupakan primadona.

Tapi dengan seruan untuk memakai dan memproduksi energi alternatif, masyarakat juga ikut terpacu untuk menggunakan bahan penggerak mesin ini. Yang penting, bahan pengganti tersebut harus punya kemampuan setara minyak, kalau bisa harganya lebih murah.

Beragam sumber energi alternatif telah banyak disampaikan seperti batu bara, angin, air, minyak sawit dan terakhir penggunaan pohon jarak (jatropha) yang bila diolah mampu menghasilkan energi biodiesel dan berkemampuan setara dengan solar.

Biji, batang dan daun pohon ini mampu menghasilkan minyak campuran untuk solar. Selain dari jarak pagar, pada dasarnya minyak yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan dapat dijadikan bahan campuran solar, misalnya kelapa sawit atau kedelai.

Dari percobaan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), campuran solar dan minyak nabati (biodisel) memiliki nilai cetane (oktane pada bensin) lebih tinggi dari pada solar murni. Solar yang dicampur dengan minyak nabati menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna dari pada solar murni sehingga emisi lebih aman bagi lingkungan.

“Jika solar murni nilai angka cetane nya sekitar 47, biodiesel antara 60 hingga 62,” kata Sony Solistia Wirawan, Kepala Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi BPPT di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Serpong, Selasa (14/2).

Dalam satu liter bahan bakar, komposisi minyak nabati yang dapat digunakan baru 30 persen agar tidak menggangu mesin yang dipakai kendaraan sekarang. Menurutnya, di bebrapa negara maju biodiesel bahkan telah digunakan 100 persen dengan modifikasi mesin. Bahan-bahan dari karet diganti dengan sintesis viton yang tahan minyak.

Meskipun percobaan baru dilakukan untuk minyak nabati dari bahan kelapa sawit, menurut Soni, hal tersebut dapat dilakukan juga untuk minyak jarak. Minyak mentah hasil perasan biji kering akan diolah dengan proses trans esterifikasi menggunakan metanol. Hampir 100 persen minyak dapat dimurnikan, bahkan menghasilkan produk samping gliserol yang juga bernilai elonomi.

“Satu pabrik ukuran kecil yang ada di Serpong dapat menghasilkan 1,5 ton minyak per hari,” kata Soni. Meskipun demikian, pihaknya sedang mengembangkan mesin pengolah berkekuatan berkapasitas lebih kecil maupun besar untuk kalangan industri. Biaya investasi untuk mesin saja diperkirakan sekitar 800 juta, sedangkan untuk mesin berkekuatan 3 ton perhari mungkin mencapai 2 hingga 3 miliar.

“Secara teknis prosesnya tidak jauh berbeda dengan pengolahan minyak goreng,” katanya. Hanya saja, pasokan bahan baku minyak nabati jumlahnya masih terbatas. Kelapa sawit masih ekonomis diolah menjadi minyak goreng meskipun minyak mentahnya (CPO) yang berkualitas rendah berpotensi untuk diolah menjadi biodiesel.

Jika dibandingkan, jarak pagar mungkin lebih berpotensi dari pada kelapa sawit. Jarak pagar yang dapat ditemukan di berbagai wilayah Indonesia baru digunakan sebagai pagar hidup. Tumbuhan bergetah ini dapat tumbuh dimana saja, hidup diberbagai kondisi tanah, dan tahan kekeringan, tidak seperti kelapa sawit, yang membutuhkan lahan khusus, ketinggian daerah, dan faktor iklim tertentu.

Oleh karena itu, para peneliti BPPT berharap bahwa pengembangan jarak pagar tidak diarahkan untuk merelokasi lahan subur, namun memberdayakan lahan kritis. “Produktifitasnya juga tidak jauh berbeda, dalam satu hektar lahan dapat dihasilkan sekitar 5 ton minyak per tahun ,” kata Nadirman Haska, Kepala Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT.

Sejak usia 5 hingga 8 bulan, buahnya matang sehingga di tahun pertama pun hasilnya dapat dinikmati. Meski demikian, lanjut Nadirman, mungkin baru dihasilkan sekitar 0,5 ton minyak. Seiring tumbuhnya tanaman, produksinya diharapkan terus meningkat lebih dari 10 ton sejak tahun keenam. (Kentos)

Tanggal Tayang : 27-9-2006
Sumber : Suara Karya

   
 
 
Ke Berita Sebelumnya                                     Ke Berita Selanjutnya
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia