Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 
   
 

Counter Stats
   

Tanaman Jarak Jadi Primadona Bila Adopsi PIR

 


Dari tanaman liar yang terlupakan, jarak kini mulai mekar sebagai primadona baru industri bahan bakar di negeri ini. Momentum lonjakan harga dan menipisnya cadangan minyak mentah dunia membuat orang kembali berpaling pada ‘minyak tradisional’ sebagai ‘tambang’ bahan bakar biofuel.

Tanaman jarak sebagai bahan bakar sebenarnya pernah dimanfaatkan masyarakat pada zaman penjajahan Jepang. Dengan mewajibkan penduduk menanam jarak di pekarangan, rakyat kemudian memanfaatkannya sebagai bahan bakar penerangan (obor). Sementara itu, Jepang memakai minyaknya untuk melumasi mesin-mesin perang mereka.

Sebagai bahan baku biofuel jenis biodiesel, jarak mempunyai banyak keunggulan dibanding bahan baku lain seperti minyak sawit atau tebu. Selain tidak berkompetisi dengan kepentingan pemenuhan kebutuhan pangan, jarak juga gampang ditanam di tanah marginal atau lahan-lahan kritis. Bahkan, tanaman jarak ini bisa dijadikan pagar kebun palawija atau kebun karet yang rentan diganggu babi hutan, karena getahnya bisa mengusir babi.

“Bagi petani, jarak juga bisa menjadi tambahan penghasilan dari tanah-tanah yang selama ini tak produktif,” ujar Ketua Umum Kelompok Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir.

Menurut Direktur PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Rama Prihandana, jarak.paling cocok dikembangkan untuk membangun industri biofuel nasional, karena harga biodiesel minyak jarak jauh lebih murah ketimbang biodiesel sawit maupun bioethanol dari tebu. Hingga saat ini harga biodiesel sawit di dalam negeri masih sekitar Rp 4.600 per liter, di atas harga solar bersubsidi yang Rp 4.300 per liter.

Berbeda dengan tanaman sawit yang baru bisa dipanen setelah 4-5 tahun, jarak sudah mulai berbunga pada umur lima bulan. Tidak seperti tebu yang merupakan tanaman semusim (12-15 bulan), jarak merupakan tanaman tahunan yang bisa terus dipanen hingga 50 tahun.

Rama menjelaskan, untuk jenis jarak pagar setiap hektare tanaman bisa menghasilkan 4.300 liter minyak jarak per tahun, dengan asumsi 3 kg biji kering menghasilkan satu liter minyak jarak mentah (crude jatropha oil). Meski harus diproses satu tahap lagi untuk bisa menjadi biodiesel yang bersubsitusi dengan solar, minyak jarak sudah bisa menggantikan BBM jenis residu untuk menggerakkan boiler pabrik gula RNI.

“Harga crude jatropha oil sangat murah, hanya Rp 2.400 per liter. Maka itu, kami memutuskan untuk menggunakannya sebagai pengganti BBM residu (nonsubsidi) yang harganya sekitar Rp 4.800 per liter,” ucap Rama.

Menurut Rama, pasar minyak jarak juga sangat luas. Saat ini RNI sudah mengantongi kontrak ekspor 30 ribu ton minyak jarak untuk tahun depan, dengan harga US$ 0,32 atau Rp 2.818 per liter. Di luar itu, sebenarnya RNI masih diminta untuk memasok 150 ribu ton minyak jarak dalam kontrak 3 tahun, namun perusahaan belum dapat memenuhinya.

Butuh Jaminan Pasar

Namun demikian, menurut Direktur Eksekutif Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LPRI) Didiek Hadjar Goenadi, pengembangan biodiesel jarak ini terkendala rendahnya harga dan ketiadaan jaminan penyerapan pasar. Dengan harga biji jarak rata-rata 500 per kg, dalam setahun petani hanya bisa memperoleh pedapatan kotor Rp 2,5 juta per hektare atau Rp 208 ribu per bulan. Asumsinya, rata-rata produktivitas kebun 5 ton biji per hektare per tahun.

Di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, petani meminta agar harga jarak kering dinaikkan menjadi Rp 1.000 per kg. Meski jarak kering yang akan dipasok ke pabrik pengolah biji jarak di Ngaringan, Grobogan kini sudah dihargai Rp 800 per kg, mereka mengaku masih merugi.

Jaminan harga yang layak dan kepastian pasar ini penting dipikirkan, guna merangsang petani menanam jarak. Di sisi lain, pabrik juga perlu mendapat jaminan kecukupan pasokan bahan baku berkualitas, dengan harga pantas.

Hubungan itu dapat dikembangkan dalam kerangka kerja sama yang saling menguntungkan. Pola kemitraan ini bisa mengadopsi skema perkebunan inti rakyat (PIR) sawit yang sudah banyak mendulang sukses di berbagai daerah di Tanah Air.

Berdasarkan kajian Wayan R Susila dari LRPI, sekitar 95% petani PIR sawit mampu melunasi kreditnya. Di Desa Bukit Harapan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, transmigrasi berpola PIR mampu menjadi jalan tembus perbaikan nasib. Padahal, program transmigrasi lain yang digagas Soeharto di era Orde Baru meninggalkan banyak luka dan derita.

Di PIR-Trans PT Inti Indosawit Subur yang dikelola Asian Agri itu, petani plasma
semula diplot melunasi kredit pada tahun ke-11. Namun, dengan membaiknya harga minyak sawit mentah (CPO), mereka rata-rata sudah bisa melunasi utang pada tahun ketiga hingga kelima.

Menurut Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Bukit Harapan Harsono, rata-rata pendapatan petani sawit di desanya mencapai Rp 2,5 juta-12,5 juta per bulan, dengan kepemilikan kebun 2-10 hektare per keluarga. Harsono sendiri mempunyai 14 hektare kebun plasma dengan umur tanaman 15 tahun, ditambah 13 hektare kebun yang dikembangkan sendiri di luar desanya.

Harapan yang sama pantas dimunculkan di pengembangan jarak untuk biofuel, mengingat komoditas ini juga berprospek cerah dan sangat strategis. Selain untuk memasok kebutuhan bahan bakar nasional yang terus meningkat, harganya bisa dipastikan akan terus naik sejalan dengan pertumbuhan pasar energi dunia.
Dengan demikian, kali ini Indonesia akan bisa memanfaatkan potensi besarnya untuk membangun industri yang kompetitif, biofuel. (Ester Nuky URS)

Tanggal Tayang : 5-10-2006
Sumber :

   
 
 
Ke Berita Sebelumnya                                     Ke Berita Selanjutnya
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia