Demam bertanam jarak sebagai buntut dari kebijakan pengurangan subsidi bahan bakar benar-benar telah menggoncangkan seluruh komponen masyarakat, bahkan terkesan telah menimbulkan panik atau euforia. Banyak orang bermimpi-mimpi akan meraup untung besar dari bertanam jarak, yang lain sedang melakoni dan merancang aksi agar segera mendapat untung dari kepanikan orang dengan berlagak jadi akhli jarak pagar. Tidak heran kalau tawaran informasi apa saja tentang jarak pagar diburu orang. Informasi apapun yang diterima, apalagi kalau dikemas dalam bentuk simposium, seminar, pelatihan, dan lain-lain langsung ditelan bulat-bulat laksana membaca kitab suci. Tidak heran kalau hampir setiap minggu berbagai pihak seperti lembaga penelitian, perguruan tinggi, LSM, Yayasan, Pokja berlomba mengadakan seminar dan sejenisnya dengan bayaran yang menakjubkan. Sepertinya mutu informasinya berkorelasi positif dengan tarifnya, apalagi kalau penyelenggaranya dari lembaga yang punya reputasi (tentu saja di luar jarak).
Perlu dipahami bahwa sebelum krisis minyak bumi tahun 2005, tanaman jarak pagar tidak memiliki nilai ekonomi selain sebagai pagar kebun atau tanaman obat, sehingga tidak menjadi perioritas objek penelitian, khususnya di bidang budidaya. Oleh karena itu, informasi tentang teknologi budidayanya masih sangat terbatas, sehingga semua pihak harus hati-hati, baik yang menjadi sumber maupun yang memerlukan informasi tentang bercocok tanam jarak pagar. Banyak pihak yang bertanya atau meminta konfirmasi kepada kami tentang sejumlah informasi atau pernyataan para pembicara yang diterima dalam suatu seminar. Dengan demikian, banyak yang justru bingung setelah mengikuti banyak seminar. Hal ini dapat terjadi karena memang informasi yang disampaikan tidak benar, kurang akurat, atau karena pendengar yang salah menangkap atau salah persepsi.
Berikut ini (dalam tanda petik) beberapa contoh informasi atau pernyataan pakar atau pembicara dalam suatu seminar yang membingungkan pendengar, bahkan menyesatkan, setidak-tidaknya yang dipahami oleh pendengar.
- “Tanaman yang berasal dari setek tanaman tua (>20 tahun), potensi produksinya rendah karena sifat induk yang produktivitasnya sedang turun akan muncul pada tanaman eks setek batang tersebut” . Pernyataan ini jelas keliru dan menyesatkan, karena potensi produktivitas adalah sifat genetik. Meskipun produksi suatu tanaman unggul sudah rendah karena tua, dia tetap menyimpan potensi genetiknya, sehingga tanaman yang berasal dari seteknya akan tetap
memiliki kemampuan berproduksi tinggi asalkan ditanaman pada lingkungan yang optimal. Kalau pernyataan tersebut memang benar demikian (bukan karena pendengar yang salah menangkap), kemungkinan karena sipembuat pernyataan sebenarnya tidak memahami atau ada motif untuk menekankan bahwa bibit yang baik adalah produksi mereka (maklum banyak institusi dan perorangan sekarang menawarkan bibit unggul).
2 “Kami menyediakan bibit jarak pagar unggul dengan teknik kutur jaringan” Pernyataan ini jelas menyesatkan karena seolah-olah teknik kultur jaringan adalah jaminan atau penciri bibit unggul. Keunggulan tanaman adalah sifat genetik yang terbawa dalam suatu varietas dan diturunkan, sedangkan kultur jaringan adalah teknik memerbanyak bahan tanam. Jadi bibit kultur jaringan hanya berarti kalau sudah ada varietas unggul. Kalau belum ada varietas unggul, maka mutu bibit kultur jaringan sama saja dengan bibit asal setek, bahkan karena belum ada pengalaman kemungkinan bibit kultur jaringan ada kelemahannya seperti kemandulan pada bibit kelapa sawit hasil kultur jaringan. Pernyataan ini tampaknya didorong oleh aspek komersial.
3. “Kami menyediakan benih jarak pagar unggul grade A dengan daya kecambah 85 %”. Pernyataan ini mengesankan seolah-olah sudah memiliki kebun induk atau kebun benih. Budidaya jarak pagar, praktis baru dimulai tahun 2005, sehingga belum ada satu pihakpun yang yang memiliki kebun benih yang berproduksi sesuai ketentuan dan prosedur yang semestinya. Membangun kebun induk atau kebun benih harus mengikuti kaedah-kaedah ilmiah dan peraturan yang berlaku. Kebun benih dapat berasal dari varietas atau komposit yang dibangun sesuai dengan prosedur ilmiah. Jadi kalau ada yang menawarkan benih sekarang ini, dapat dipastikan bahwa benih tersbut merupakan benih yang dipungut dari tanaman yang tumbuh secara alamiah (sapuan) lalu disortir, atau dari tanaman penanaman pertengahan 2005 yang sudah mulai berbuah. Tampaknya motivasi dibalik pernyataan ini adalah hanya sisi komersialnya tanpa memberi informasi sebenarnya. Sejauh yang kami ketahui, baru Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan yang telah mulai membangun kebun benih komposit di 3 lokasi yang ditanam Januari – Februari 2006
Demikian beberapa cuplikan informasi yang mem-bingungkan masyarakat untuk nomor ini, nantikan cuplikan lainnya pada nomor berikutnya ( David Allorerung/Peneliti ).
Tanggal Tayang : 26-6-2006
Sumber :
Volume 1, Nomor 4, April 2006