Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
   
   
   
   
   
   
   
Pertanyaan di Sekitar Kita tentang jarak pagar
 


1. Siapakah pembeli biji atau minyak JarakPagar? Apa tidak bernasib seperti Cengkeh, Nilam atau tanaman lain yang ketika panen harga jatuh dan petani-lah yang dirugikan? Bagaimana harganya?

Jawab:

a. Pembeli biji atau terutama minyak JarakPagar adalah para pengguna atau pedagang energi, yakni kalangan industri, pemakai kendaraan bermotor, nelayan dan mereka yang selama ini memakai BBM Solar, Diesel, Minyak Tanah dan Minyak Bakar. BUMN pemakai energi terbesar adalah: PT PLN, PERTAMINA, PT Kereta Api, PT Perkebunan Nusantara, PT Rajawali Nusantara, Semen Gresik dan lainnya. Semua BUMN tersebut sudah menandatangani kesepakatan untuk "membeli", mengolah dan mengembangkan biji JarakPagar sebagai bahan pengganti BBM.

b. Biji atau Minyak JarakPagar tak akan bernasib seperti tanaman Cengkeh, Nilam atau Tembakau, sebab biji atau minyak JarakPagar dipakai sebagai bahan pengganti BBM. Sebab, BBM konvensional dari fosil harganya kian mahal mengingat kebutuhan kian tinggi sedangkan jumlahnya terbatas.

c. Harga minyak JarakPagar akan berkisar antara harga Minyak Bakar yang sekarang Rp 3870,- per liter dan minyak Solar/Diesel untuk angkutan yang Rp 4200,- per liter atau minyak diesel industri yang Rp 6000,- per liter dengan standar yang sesuai. Harga biji JarakPagar dapat diperkirakan dari harga jual minyaknya, atau antara Rp 500,­ hingga Rp 800,- per kilogram biji masak kering.

d. Buatan lokal sudah ada, dibuat oleh PINDAD, Rekayasa Industri dan PT Rizki Anugrah Putra lebih murah dan tidak kalah dari buatan India. Mulai dari mesin mini dengan kapasitas beberapa kilogram per hari; kapasitas kecil dengan 1 hingga 10 ton per hari; kapasitas sedang 15 hingga 50 ton per hari atau yang lebih tinggi lagi. Mesin-mesin dibuat untuk kapasitas sesuai luasan lahan dari I hektar hingga puluhan ribu hektar.

c. Untuk mesin mini harganya ratusan ribu rupiah; mesin ukuran kecil berharga antara Rp 20 juta hingga Rp 100 juta dan seterusnya.

2. Berapa orang tenaga kerja per hektar dari budidaya JarakPagar?

Jawab:

a. Satu keluarga bisa berkebun JarakPagar lebih dari satu hektar. Bahkan, bila pekerjaan penyiapan lahan dibantu traktor, satu keluarga bisa mengelola hingga 10 hektar atau bahkan lebih. Sehingga, pendapatan tarnbahan keluarga tani akan lebih besar.

b. Industri kecil rumahtangga yang melibatkan wanita bisa tumbuh untuk memproduksi sabun.

3. Berapa Iuasan lahan minimum untuk ditanami JarakPagar? Apakah ada mesin pengolah yang sudah bisa dibuat di Indonesia? Berapa harganya?

Jawab:

a. Berapapun luas lahan kosong atau terlantar bisa saja ditanami. Termasuk di pinggir jalan, bantaran sungai, pagar kebun, tumpangsari atau pinggiran hutan.

4. Dari mana dan bagaimana memperoleh bibit JarakPagar? Dari biji atau stek batang? Apakah tersedia buku pedoman dan petunjuk penanaman?

Jawab:

a. Bibit JarakPagar sebenarnya tersedia hampir di semua pelosok Indonesia, di kuburan-kuburan, sebagai pagar kebun di desa-desa, bahkan terkadang sebagai tanaman di pinggir halaman kota. Tanaman ini disebarkan oleh tentara Jepang awal tahun 1940-an ke seluruh Indonesia, untuk bahan bakar kendaraan militer Jepang, mengingat banyak ladang minyak ditinggalkan Belanda dalam keadaan rusak, tak bisa berproduksi. b. Bagi yang memerlukan bisa mengorganisir regu khusus untuk memburu bibit JarakPagar. Saat ini terdapat beberapa perusahaan yang menjual stek dalam polibag. c. Bibit bisa dari biji, stek batang dan "anakan" tanaman. Sekarang, kalangan perguruan tinggi seperti ITB, IPB dan beberapa kalangan swasta mengembangkan melalui teknik kultur jaringan. Juga, cara baru yang disebut dengan "insitu cloning" atau stek pucuk dikembangkan oleh kalangan peneliti Puspitek BPPT.

5. Apakah sudah tersedia bibit unggul JarakPagar?

Jawab:

a. BATAN, BPPT dan Departemen Pertanian sedang mengembangkan "bibit unggul" dengan sasaran produktivitas tinggi dan seragam, tahan hama dan dapat menyesuaikan diri di lahan kritis/tandus. Nantinya, sesudah memperoleh hasil galur unggul akan bibit dilepas ke petani tahun 2007.

b. Namun, beberapa kalangan ahli yang sudah meneliti dan berpengalaman mengembangkan budidaya JarakPagar di luar negeri sebenarnya memberi rekornendasi bahwa tanaman JarakPagar lokal dan liar itulah sumber bibit unggul. Sebab, tanaman tersebut sudah mengalami domestifikasi atau penyesuaian selama puluhan tahun dengan agroklimat lokal, menangkal hama atau memiliki bentuk kekebalan terhadap berbagai hama tanarnan. Yang perlu dilakukan tinggal perubahan perlakuan budidaya, sehingga produktivitas tanarnan naik. Selatna ini, sebagai tanaman pagar, produktivitas rendah akibat dari jarak tanam yang sangat rapat.

6. Apakah sudah ada tanaman JarakPagar yang dikelola seperti layaknya kebun di Indonesia ?

Jawab:

a. Sudah ada yang mulai, di NTB milik Pak Willy Wijaya yang memulai beberapa tahun lalu dengan tanaman Jarak Kaliki (ricinus) dan setahun terakhir mengembangkan JarakPagar beberapa hektar.

Koperasi Pegawai Propinsi Lampung sudah menanam seluas 20 hektar sebagai sentra bibit di Way Kanan.

PT PG Rajawali 11 Jatitujuh, Cirebon - Jawa Barat seluas tigaratusan hektar PG Rajawali I Grati Pasuruan - Jawa Timur menanam beberapa ratus hektar hingga akhir Desernber 2005.

Pt Enjin di Purwodadi dengan Pola pemberdayaan masyarakat telah memanfaatkan lahan kritis seluas 400 hektar untuk tanaman JarakPagar di Purwodadi dan

berikutnya PT.Enjin akan mengembangkan lahan yang lebih luas di Malingping Propinsi Banten .

7. Berapa biaya penanaman per hektar dan berapa jumlah tanaman JarakPagar? Dapatkah dilakukan tumpang sari dengan tanaman lain? Berapa lama mulai berbuah dan dipanen?

Jawab:

a. Kelompok tani di Lampung menanam 20 hektar sebagai sentra bibit JarakPagar mengeluarkan Rp 600 ribu per hektar. Jumlah tersebut sudah meliputi: biaya pembersihan semak di jalur yang akan ditanami; pembelian dan penyemprotan herbisida; biaya pengadaan bibit dari biji; biaya penanaman biji dengan cara "tugczl" seperti menanam biji jagung. Namun, angka tersebut akan bertambah Rp 400 ribu dengan menghitung biaya pupuk organik dan perawatan sampai satu tahun. Jumlah tanaman 2.500 pohon per hektar atau kerapatan 2x2 meter.

b. PT PG Rajawali menanam stek 2.500 batang per hektar dengan biaya Rp 1 juta dengan rincian: biaya bibit stek batang; biaya pengolahan lahan; biaya pupuk (urea dan NPK).

c. Cara tumpang sari bisa dilakukan, baik dengan jagung, kedelai, kacang panjang atau lainnya tergantung dari petani. Tidak ada dampak dengan turnpangsari, bahkan petani sekaligus dapat memperoleh manfaat ganda. Dengan hunpang sari akan menghemat biaya, karena perawatan dan pemetikan akan dilakukan berbarengan.

d. PG Rajawali menanain dari bibit stek batang, sejak akhir Juli 2005 dan mulai panen bulan Nopember 2005. PT RAP - Jakarta dan Haji Matondang, pengurus HKTI Sumatra Utara di Medan, mulai memetik buah JarakPagar sejak tanaman berumur 4 - 5 bulan (tanaman berasal dari biji).

 

8. Kapan sebaiknya mulai penanaman?

Jawab:

a. Saat yang tepat untuk penanaman sebaiknya pada pennulaan musim

hujan hingga paling lambat 1 bulan sebelum musim hujan berhenti.

b. Untuk penanaman skala besar persiapan dilakukan sebelum musim hujan tiba dengan menyiapkan bibit dalam polibag. Sehingga, ketika musim hujan tiba bibit tinggal dipindahkan ke kebun.

 

9. Apakah lahan yang mengandung gambut cocok untuk JarakPagar?

Jawab:

Hingga saat ini belmn ada infonnasi tanarnan JarakPagar yang ditanam di lahan gambut Padalial, lahan gambut kalau ditangani dengan baik akan merupakan lahan bagus dan produktif seperti di Pulau Sambu - Riau tanaman kelapa, sawit dan tanaman lainnya. Yang penting ditangani adalah pengelolaan air (drainase) serta tingkat keasaman tanah di lahan gambut. Mustinya, kalau tanaman lain bisa, maka JarakPagar juga akan bagus hasilnya.

10. Agroklimat, Reboisasi, Hama dan lainnya:

a. Bagaimana persyaratan iklim dan lahan untuk bertanam JarakPagar?.

JarakPagar akan tumbuh dan berproduksi optimal di lahan kering dataran rendah beriklim kering dengan ketinggian 0 - 500 m dpl dan curah hujan 300 - 1000 mm per tahun, suhu > 200° C. JarakPagar dapat tumbuh pada lahan2 marginal yang miskin hara, namun berdrainase dan aerasi yang baik. Produk4i optimal akan diperoleh pada lahan subur-terbaik pada tanah mengandung pasir 60 - 90 %, dan pH tanah 5.5 - 6.5 - atau dipupuk dengan cukup serta tersedia air pada musim kemarau

b. Apakah JarakPagar cocok untuk Penghijauan & Reboisasi?

Lahan margiiial dan kritis, biasanya kekurangan air, dan JarakPagar cocok ditanam di daerah ini karena ia tahan kering meskipun di kemarau yang terik, ia akan menggugurkan daunnya, akarnya mampu menahan air dan tanah. Sehingga, JarakPagar menjadi tanaman perintis dan tanarnan penahan erosi serta tanarnan yang dapat mengurangi kecepatan angin. Akar lateralnya yang menyebar dipennukaan tanah, bila ditanam bersarna tanaman akar wangi atau serai wangi akan mampu melindungi tanggul-tanggul keeil dari kerusakan erosi akibat aliran air pennukaan.

c. Apa ada Pohon JarakPagar Jantan atau Betina?

Terdapat "persepsi" bahwa ada pohon JarakPagar jantan, dan ada yang betina, sehingga ada pohon yang berbuah lebat dan ada yang tidak berbuah. Terdapat kekhawatiran apabila mengambil setek batang dari pohon jantan sebagai bibit, maka bibit JarakPagar tersebut dipastikan tidak akan berubah. Benarkah pendapat ini?

Untuk antisipasi hal ini, ambillah bibit atau bahan tanarn dari pohon induk.

d. Benarkah JarakPagar kebal serangan hama dan penyakit?

JarakPagar dikenal sebagai tanaman yang beracun dan mempunyai sifat­ sifat sebagai insektisida, karena itu ia relatif tahan hama dan penyakit. Tetapi diduga "daya tahan" tersebut juga karena ia masih ditanain bersama komoditas lain.

Di kebun-kebun PT Rajawali Nusantara Indonesia lokasi Jatitujuh memperlihatkan bahwa tanaman tumpangsari lebih bagus ketimbang monokultur. Pada tanaman monokultur nampak penyakit virus daun, sedangkan tumpangsari dengan kacang tanah sama sekali tidak menunjukkan ada serangan Virus daun.

Tanggal Tayang : 15-6-2006
Sumber : jarakpagar

   
 
 
Ke Artikel Sebelumnya                                     Ke Artikel Selanjutnya
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia