Pada 2007 pemerintah akan mendirikan biofuel fund untuk membiayai proyek pengembangan bahan bakar nabati. Upaya ini merupakan bagian dari skenario pembiayaan energi alternatif.
Ketua Timnas Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) Al Hilal Hamdi, mengatakan hal itu di sela road show Palm Oil Expedition 2006, di Palembang, Rabu (20/12).
Biofuel fund, kata Hilal, berfungsi sebagai lembaga pembiayaan alternatif pengembangan energi berbasis nabati. Menurut rencana, sumber pendanaan akan diambil dari APBN. “Sumber pendanaannya, murni dari pemerintah,” tegas Hilal.
Pertimbangan pembentukan lembaga pembiayaan ini,menurut Hilal, terkait dengan beberapa target pencapaian di sektor energi alternatif. Untuk kemampuan produksi kelapa sawit, misalnya, pada 2007 pemerintah menargetkan 15 juta ton, atau naik 0,5 ton dari 2006 sebesar 14,5 juta ton. Untuk operasional, biofuel fund akan mencadangkan dana sebesar Rp 2 triliun.
Sementara itu, Menristek Kusmayanto Kadiman saat ditemui Investor Daily mengungkapkan, pemerintah telah menetapkan beberapa skenario pembiayaan energi alternatif. Selain biofuel fund, pemerintah juga telah membentuk konsorsium kredit pengembangan bahan bakar nabati. Konsorsium yang dipimpin BRI ini disokong oleh seluruh bank pemerintah. “Pada 2007, telah disiapkan kredit sebesar Rp 7 triliun,” tegas Kadiman.
Yang menarik, lanjut Kadiman, perusahaan pengaju kredit mendapat subsidi bunga. “Perusahaan yang mengajukan kredit cukup membayar bunga 10% per tahun. Sisanya akan disubsidi pemerintah,” ujar Kadiman.
Sulit Berkembang
Direktur Pembinaan Usaha Hilir Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Erie Sudarmo mengatakan, BBN cukup sulit dikembangkan sebagai pengganti BBM. Pasalnya, investasi yang harus dikeluarkan untuk mengembangkan BBN sangat tinggi. Selain itu, masyarakat masih merasa asing dengan BBN sehingga perlu dilakukan sosialisasi secara berkelanjutan
“Namun, biodiesel laku di luar negeri walaupun harganya tinggi. Ini disebabkan adanya aturan mengikat yaitu pengenaan pajak yang tinggi untuk penggunaan BBM. Hal ini memaksa masyarakat untuk menggunakan biofuel,” kata Erie.
Pasokan AGB Energy
Di tempat terpisah, perusahaan asal Korea Selatan, Asian Grade Bussiness(AGB Energy), siap memasok kebutuhan biodiesel bagi pembangkit di Maluku dan Papua. AGB telah menanam jarak pagar di lahan seluas 20 hektare di Maluku Utara.
Direktur Utama AGB Energy Kim Tae Sik mengatakan hal itu kepada wartawan usai penandatanganan kesepakatan bersama (memorandum of agreement/MoA) jual beli BBN dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN Persero), Kamis (21/12).
Menurut Kim, secara bertahap pihaknya akan meningkatkan luas area tanam jarak pagar di lokasi yang sama, menjadi 100.000–300.000 hektare. Untuk pengembangan tersebut, Kim memperkirakan investasi yang diperlukan mencapai Rp 1 triliun per 100.000 hektare.
“Selanjutnya, kami berencana mengembangkan tanaman penghasil bahan baku biodiesel itu di Papua dan Nusa Tenggara Timur,” ujarnya. Menurut dia, biodiesel dari tanaman jarak pagar (jathropa curcas) tersebut bisa berproduksi dalam waktu enam bulan.
Sementara itu, Direktur Pembangkitan dan Energi Primer PLN Ali Herman Ibrahim mengatakan, melalui MoA ini, PLN menyatakan siap menampung pasokan biodiesel dari AGB. Diharapkan, pasokan itu akan membantu mempercepat pemenuhan kebutuhan kelistrikan di Indonesia Timur, terutama Maluku, Nusa Tenggara dan Papua. (pam/ari/c94)
Tanggal Tayang : 2-1-2007
Sumber : Investordailly