Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 
   
 

Counter Stats
   
   
   
   
   
   
   

Budi Acid Ekspansi ke Bisnis Bioethanol

 

PT Budi Acid Jaya Tbk akan mengembangkan bisnis energi alternatif bioethanol dengan menggunakan bahan baku ubi kayu. Proyek ini membutuhkan investasi sebesar US$ 30 juta atau setara Rp 270 miliar.

Ekspansi bisnis itu akan dimintakan persetujuan terlebih dahulu dari pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB).

“Pengembangan bioethanol membutuhkan waktu sekitar delapan hingga sembilan bulan, sehingga kontribusi terhadap pendapatan baru terealisasi tahun 2009. Belanja modal yang disiapkan mencapai US$ 30 juta, bisa diperoleh dari pinjaman bank atau rights issue,”kata Wakil Direktur Utama Budi Acid Jaya Sudarmo Tasmin dalam paparan publik perseroan di Jakarta, Kamis (21/12).

Sudarmo mengatakan bioethanol merupakan bisnis yang memiliki prospek menarik. Sebab, selain menghemat energi dan ramah lingkungan, proyek ini sudah mendapat dukungan penuh dari pemerintah.

Menurut dia, perseroan juga berencana mengembangkan bisnis biogas. Biogas yang berasal dari limbah cair industri perseroan berpotensi mendatangkan efisiensi biaya energi. Perusahaan selama ini menggunakan batu bara dan solar. “Biogas bisa menghemat biaya energi sebesar Rp 50 miliar pada 2008. Pada tahun berikutnya bisa meningkat menjadi Rp 75 miliar. Satu pabrik tapioka dengan kapasitas produksi 130 ribu ton dapat menghasilkan listrik sekitar lima mega watt,” tandas dia.

Pengembangan biogas, kata dia, merupakan hasil kerja sama perseroan dengan investor Jepang. Budi Acid hanya membiayai proyek percontohannya. Selanjutnya biaya proyek biogas merupakan tanggungan investor. Tapi hasil yang didapat dari biogas nantinya dibagi sama.

Mengenai kinerja keuangan hingga akhir tahun ini, dia memproyeksikan penjualan mencapai Rp 1,1 triliun dan laba bersih Rp 20 miliar. Sedangkan tahun 2007, penjualan dapat naik menjadi Rp 1,2 triliun dan laba bersih Rp 45 miliar.

Hingga akhir September 2006, perseroan membukukan penjualan Rp 804 miliar atau meningkat 3,9% dari periode sama tahun lalu Rp 774 miliar. Laba bersih naik menjadi Rp 15,6 miliar dari Rp 2,0 miliar. Kenaikan laba bersih terutama ditopang keuntungan selisih kurs.

Refinancing Utang

Sementara itu, PT Tunas Baru Lampung Tbk berencana melakukan refinancing utang, terutama sisa sindikasi. Pinjaman akan diubah menjadi pinjaman jangka panjang. “Rencana refinancing utang tetap akan dimintakan persetujuan terlebih dahulu dari pemegang saham dalam waktu dekat ini,”kata Sudarmo Tasmin yang juga wakil dirut perseroan.

Hingga 30 September 2006, sisa utang sindikasi Tunas Lampung tercatat US$ 8,5 juta dari sebelumnya US$ 40 juta.

Menurut dia, perseroan akan mengembangkan biodiesel dengan bahan baku minyak sawit mentah (CPO). Untuk mendukung biodiesel, perseroan membuka lahan perkebunan baru kelapa sawit seluas 5.000 hektare (ha), terdiri atas 4.000 ha tanaman inti dan 1.000 ha plasma.

Produsen minyak goreng nabati dan turunan ini menganggarkan belanja modal untuk biodisel senilai Rp 145 miliar pada 2007. Dana belanja modal berasal dari kas internal dan hasil rights issue belum lama ini.

Mengenai kinerja keuangan, jelas dia, perseroan memproyeksikan penjualan Rp 1,2 triliun dan laba bersih Rp 55 miliar tahun ini. Sedangkan pada 2007, penjualan bisa meningkat Rp 1,4 triliun dan laba bersih Rp 65 miliar.

Hingga akhir September 2006, Tunas Lampung mencatat penjualan Rp 853,89 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 908,40 miliar. Margin laba kotor tercatat 21% dan margin laba usaha 12%. Laba bersih mencapai Rp 38,01 miliar atau naik drastis dari sebelumnya Rp 478 juta. (rad)


Tanggal Tayang : 2-1-2007
Sumber : Investordailly

 
Ke Berita Sebelumnya                                     Ke Berita Selanjutnya
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia