Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
   
   
   
   
   
   
   
   
Teknologi Bioethanol
 


Kelangkaan BBM yang terjadi sekarang ini, membuat kita makin sering menengok kemungkinan sumber energi baru. Salah satunya merupakan alternatif bahan bakar yang dihasilkan dari berbagai produk biologi, yang banyak dikenal dengan nama biofuel. Keadaan stok energi kita bisa dibilang harus diwaspadai sekarang ini. Ini terbukti dengan banyaknya kasus kelangkaan BBM yang banyak terjadi di daerah-daerah.

Tercatat kota-kota seperti Yogyakarta, Jambi, Medan, Pontianak, Riau dan daerah lainnya memberitakan antrean-antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar yang satu ini. Bahkan indikasi ini makin diperkuat dengan upaya penghematan yang dilakukan beberapa kantor gubernuran, untuk meminimalisasi pemakaian energi berlebih (SH/11/7/05).

Hal ini kemudian makin diperparah dengan kenyataan bahwa stok bahan bakar kita yang makin menipis. Ini semakin jelas saat kita melihat kenyataan stok premium kita untuk 2005 yang hanya sebatas 41,1 juta liter per hari. Hal ini menurut berbagai kalangan merupakan nilai yang sangat kecil sekali. Sebab jika dikomparasikan dengan jumlah mobil yang ada di negeri ini, maka kebutuhan akan premium paling tidak mencapai angka 48 juta liter per hari.

Berarti ini makin mengindikasikan kuatnya asumsi bahwa keperluan bahan bakar di negeri ini mulai harus makin diperhatikan. "Perlu diketahui, bahwa setelah tahun 2005 kita mungkin tak jadi salah satu negara pengekspor minyak lagi," ungkap Kusmayanto Kadiman, dalam uraiannya di acara Gaikindo International Conference 2005, yang diadakan di Jakarta, Senin (11/7) lalu. Pengganti Kecenderungan-kecenderungan itulah yang akhirnya mengingatkan kita akan perlunya sebuah alternatif energi pengganti.

Menurut Kadiman, pihak pemerintah melalui BPPT telah melakukan beberapa uji coba mengenai masalah ini. Dan pada akhirnya ia menyimpulkan bahwa bahan bakar berjenis biofuel, menempati urutan pertama alternatif energi pengganti premium. "Bahan biofuel ini sangat mudah didapatkan," ujar Kadiman. Karena menurut pengamatannya, bahan-bahan biofuel ini bisa didapatkan dari hasil-hasil pertanian, atau bahkan dari sampah pertanian sekalipun. "Dari bahan pertanian kita bisa menggunakan CPO (Crude Palm Oil-red). Sedangkan dari sampah pertanian, kita bisa memanfaatkan limbah singkong," ujarnya. Sisi potensial bahan bakar pengganti ini juga terlihat bila kita mengamati data penghasilan kelapa sawit kita per tahunnya. Riau saja menghasilkan 2,5 juta ton per sekali panen.

Belum ditambah daerah-daerah lain seperti Kalimantan Barat yang menghasilkan 518.000 ton per tahun, Sumatra Selatan menghasilkan 1 juta ton per tahun, Sumatra Barat, Papua, dan berbagai daerah lainnya. Dengan potensi sebesar itu jelas pemanfaatan biofuel memiliki dasar pasokan yang termasuk stabil di negara ini. Sedikit Murah Dari bahan berjenis biofuel ini, kemudian menghasilkan bahan bakar bernama bioethanol dan biodiesel. Khusus untuk bioethanol kadang dikenal dengan nama gasohol. "Secara ekonomi kita memiliki sedikit selisih harga lebih murah, bila menggunakan bahan bakar jenis ini," ungkap Kadiman lagi. Hal ini menurutnya terbukti dengan komparasi harga bahan bakar biodiesel yang mencapai US$ 30 sen per liternya. "Harga ini di dapat bila jumlah pemakai biodiesel mencapai dua persen dari total keseluruhan pemilik kendaraan bermotor," imbuhnya.

Menurutnya pemakaian dua persen biodiesel oleh pengguna kendaraan bermotor ini berarti setara dengan pemakaian 800.000 kL biodiesel. Yang mana berarti setara dengan sejumlah 800.000 ton minyak sawit yang harus diolah. "Ini berarti kita butuh 230.000 hektar perkebunan baru," ujarnya. Hal ini juga berarti menambah lahan kerja baru yang paling tidak dibutuhkan 105.000 orang untuk mengurus kebun dan bekerja di pabrik pengolahan. Itu baru dari bahan biodiesel saja. Kemudian hal ini makin diperkuat bila kita menghitung keuntungan pemakaian bahan gasohol. Bila kita mampu menghasilkan 420 ribu kL gasohol per tahun saja, maka kita hanya memerlukan 2,5 juta ton singkong. Yang berarti kita membutuhkan 91.000 hektar, yang mampu membuka lapangan pekerjaan bagi 650.000 orang.

Tunggu Waktu Namun di antara berbagai kelebihan tersebut, banyak kalangan juga masih menyangsikan keberadaan bahan bakar alternatif tersebut. Beberapa beranggapan bahwa harga yang dimiliki biodiesel ternyata tak jauh berbeda dengan harga premium saat ini. Dengan asumsi US$ 30 sen setara dengan paling tidak Rp 3.000. "Namun paling tidak harga biodiesel ini merupakan harga bahan bakar paling murah yang bisa didapatkan, bila dibandingkan dengan bahan bakar alternatif lainnya," urai Kadiman. "Pemakaian biodiesel sebagai bahan bakar alternatif tampaknya hanya tinggal tunggu waktu saja," ujar Kadiman. Dengan selisih harga yang bersaing, yang dibutuhkan saat ini menurut Kadiman tinggal prototipe kendaraan saja. Selain juga upaya membangkitkan kesadaran kepada masyarakat mengenai hidup yang lebih ramah lingkungan dengan mengonsumsi bahan bakar biofuel


Tanggal Tayang : 15-6-2006
Sumber : Sinar Harapan

   
 
 
Ke Artikel Sebelumnya                                     Ke Artikel Selanjutnya
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia