Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
   
   
   
   
   
   
   
   
Minyak Nabati, Energi Ramah Lingkungan
 


Alternatif Pengganti BBM----------
Minyak Nabati, Energi Ramah Lingkungan

Krisis minyak dan melonjaknya harga minyak dunia hingga 65 dolar per barel berpengaruh besar terhadap kebutuhan energi banyak negara. Dari sisi lingkungan, melonjaknya harga minyak dan semakin menipisnya persediaan minyak dunia membuat berkurangnya emisi karbon yang masuk ke dalam atmosfer. Bahkan, penggunaan minyak yang berbahan dasar tumbuh-tumbuhan kini semakin gencar dilakukan. Oleh karena itu, tak pelak ahli-ahli energi dunia terus-menerus meneliti tumbuh-tumbuhan sebagai pengganti BBM. Seperti apa bahan energi dari tumbuhan itu? Apa fungsinya bagi kehidupan masyarakat?

=======================================================

Terdapat dua minyak berbahan dasar tumbuhan yang saat ini mendapat perhatian besar dan penggunaannya cukup banyak di negara-negara maju, yaitu Biodiesel dan Bioethanol. Bahkan, di Indonesia kini mulai dikembangkan dan dimanfaatkannya tumbuh-tumbuhan sebagai energi alternatih yang ramah lingkungan.

Suplai ethanol sebagai bahan pencampur minyak fosil beberapa tahun belakangan ini menandakan dimulainya era bahan bakar hijau (green transport fuels). Produk minyak yang sangat ramah lingkungan ini lebih populer disebut gasohol. Gasohol diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan meningkatkan kesejahteraan jutaan petani singkong, sagu, jagung, dan tebu.

Di India, Eropa, dan Amerika, penggunaan campuran ethanol dengan premium sudah berlangsung. Bahkan di Brazil, mereka berhasil mengembangkan ethanol berbahan dasar tebu 100 persen sebagai bahan bakar kendaraan. Penggunaan campuran ethanol ini juga diatur dalam kebijakan Brazil. Di mana dimandatkan untuk menggunakan campuran ethanol dalam bahan bakar antara 24 sampai 26 persen.

Di Amerika Serikat, penggunaan campuran ethanol dalam bahan bakar dilakukan karena alasan lingkungan hidup. Guna memasyarakatkan penggunaan ethanol ini, pemerintah AS memberikan keringanan pajak sekitar 0,54 dolar per galon. Ditetapkan campuran ethanol sekitar 10 persen pada kota-kota yang memerlukan kontrol emisi karbon, terutama pada saat bulan-bulan musim dingin.

Lalu bagaimana dengan Indonesia sendiri? Di Indonesia penggunaan ethanol dan biodiesel masih sebatas penelitian dan uji coba. Padahal, dilihat dari luasnya areal perkebunan kelapa sawit Indonesia, peluang untuk menjadi produsen utama biodiesel dunia sangat besar.

Bungaran Saragih ketika masih menjabat sebagai Menteri Pertanian pernah mengatakan bahwa luas lahan sawit Indonesia mencapai empat juta hektar (ha) dan masih bisa ditingkatkan menjadi 10 juta ha. Dengan adanya luas lahan yang demikian tersebut, kemungkinan menjadi produsen biodiesel utama sangat besar.

Pengembangan teknologi bahan bakar dengan menggunakan kelapa sawit di Indonesia kini sedang dikembangkan dan sudah menggandeng Jerman. Bahkan, biodiesel ini sudah ditawarkan ke Jepang yang juga sedang mengembangkan teknologi berbahan bakar biodiesel. Di Jepang penelitian tentang hal itu sudah berlangsung, bahkan sudah mulai melakukan uji coba kendaraan berbahan bakar biodiesel. Di Tanah Air upaya pengembangan biodiesel sudah sampai pada tarap uji coba teknis di lapangan, namun proses produksi masih di tahap laboratorium.

Pengembangan gasohol pun masih dalam taraf yang sama. Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan, dilihat dari potensi yang ada di Indonesia, penggunaan ethanol sebagai campuran bahan bakar minyak sangat dimungkinkan. Hanya, pengembangan bioethanol dan biodiesel ke arah komersial saat ini masih terhambat persoalan subsidi bahan bakar fosil yang diberikan pemerintah. Pasalnya, dengan masih diberikannya subsidi bagi bahan bakar fosil, artinya harga biodiesel dan bioethanol tidak akan bisa bersaing dengan harga premium dan solar.

Lingkungan Lebih Bersih

Mencampurkan ethanol dan biodiesel pada bahan bakar minyak menyebabkan bertambahnya suplai oksigen ekstra yang akan menurunkan kadar monoksida. Akibatnya, akan semakin sedikit monoksida yang bisa menyebabkan polusi udara, sehingga lebih ramah lingkungan. Bahkan, motif utama digunakannya bahan bakar dari tumbuh-tumbuhan ini tidak lain untuk memperbaiki kualitas udara.

Banyak data dari berbagai negara yang sukses menguji coba penggunaan bioethanol dan biodiesel semakin memperkuat argumen ramah lingkungan tersebut. Faktor lain yang memicu peningkatan bahan bakar ethanol adalah berlakunya peraturan reduksi emisi gas rumah kaca, yaitu Clean Air Act 1990 (di Amerika Serikat) dan Protokol Kyoto, serta penghapusan MTBE untuk mereformulasi bensin di AS dan beberapa negara. Sementara itu, di dunia juga terjadi kecenderungan beralihnya konsumsi pada sumber energi ramah lingkungan dan terbarukan, seperti teknologi fuel-cell dan biomassa.

Di AS dan Eropa, pengujicobaan gasohol sudah dilakukan saat perang dunia II dan saat ini sangat dianjurkan pemakaiannya di negara-negara Uni Eropa. Bio-fuels saat ini sudah dipandang dari berbagai perpektif multi-dimensi sebagai pengganti bahan bakar fosil, lebih sehat untuk lingkungan, mampu menciptakan keamanan di bidang energi, dan menguntungkan secara ekonomi agrikultur. Dengan kata lain, bio-fuels ini diprediksikan mampu menciptakan pondasi kokoh di bidang industri minyak dan agrikultur selain menguntungkan bagi lingkungan

sudah tiba (3) Perlunya kerjasama yang erat dengan pihak industri otomotif untuk menyediakan kendaraan yang optimal bagi implementasi bahan bakar gasoline + ethanol (4) Perlu sinergi antar instansi serta antara pemerintah pusat dan daerah dalam rangka penyediaan bahan baku, pemrosesan, serta distribusi bahan bakar bioethanol.

Tanggal Tayang : 15-6-2006
Sumber : Berita Iptek

   
 
 
Ke Artikel Sebelumnya                                     Ke Artikel Selanjutnya
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia