Biodiesel
   
  Bioethanol
   
  Biomass
   
   
   
   
   
   
   
   
   
Berkah darl Sebuah Kakus
 


Banyak peiajaran yang bisa dipetik dari kakus umum di Tangerang: ramah lingkungan dan menghasilkan biogas.

ISTRI Ade Juwarsa selalu cemberut jika sang suami ingin buang hajat be­sar. Maklum, Ade lebih memilih men­datangi sarana mandi-cuci-kakus (MCK) yang jaraknya 50 meter dari kediamannya. Padahal, di rumahnya ter­sedia kamar mandi itu.

   Usut punya usut, Ade ternyata kepin­cut dengan bangunan toilet umum yang lebih bersih dan asri. "Cukup bayar Rp 1.000, dapat sebatang rokok Dji Sam Soe," kata Ade, buruh pabrik itu, senang. Alhasil, setiap hari, dengan bercelana kolor dan kaus singlet, Ade menuju toilet umum langganannya itu.

   Sebenarnya yang istimewa dari toilet umum itu bukan soal bersih dan rapi. Tapi, inilah kakus yang ramah lingkung­an dan hemat energi. Kamar mandi yang terletak di sudut Kelurahan Jatake, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang, ini punya alat khusus untuk mengolah pup atau air deterjen sehingga bakteri dan deterjennya tak menyebar ke air ta­nah. Bahkan gas yang terbentuk dari pup itu dimanfaatkan menjadi bahan bakar.

   Jamban penghasil biogas ini dibangun Bina Ekonomi Sosial Terpadu (BEST) di kampung buruh yang padat. Tujuannya, apa lagi kalau bukan mengajarkan ten­tang pola hidup ramah lingkungan se­jak dari urusan buang hajat. Di Kota Tangerang, organisasi nirlaba pencinta lingkungan ini telah mendirikan 26 unit MCK plus-plus itu di berbagai perkam­pungan yang sesak. Mereka mendapat dana dari Bremen Overseas Research and Development Association (BORDA).

   Urusan buang hajat di kota seperti Tangerang dan Jakarta memang bikin repot. Banyak warga tak punya kakus dengan standar kesehatan yang mema­dai. Ada yang membuat kamar mandi menempel di sungai. Kehadiran jam­ban-jamban yang disebut "jamban heli­kopter" itu membuat sungai makin seka­rat. Mereka tercemar bahan padat dan, yang lebih gawat lagi, terkontaminasi bakteri Escheria coli. Alhasil, banyak sumur di Jakarta dan Tangerang yang tercemar bakteri penyebab diare ini. Se­tiap tahun di Jakarta tercatat sedikitnya 23 ribu orang dibawa ke rumah sakit ,karena penyakit ini, 23 di antaranya meninggal.

   Ide membersihkan sungai dan air ta­nah itulah yang mengilhami BEST. Me­reka pun membangun jamban plus-plus dengan menghabiskan dana Rp 250 juta per lokasi. Luasnya 38 meter persegi, ter­bagi menjadi enam kamar mandi dar enam kloset.

   Selain itu, adaruangmencucidanporr.­pa sedalam 100 meter. Di halaman di­letakkan pengolah biogas (digester) tipe kubah yang ditanam di bawah tanah.

   Semua kotoran manusia atau bahasa ilmiahnya black water ini disalurkan ke tempat yang kedap udara ini. Di dalam digester inilah bakteri metana mengolah limbah bio atau biomassa dan menghasil­kan biogas metana. Dengan pipa, gas ter­sebut dialirkan ke kompor yang terletak di dapur sang penjaga kakus plus-plus.

   Limbah cuci dan mandi (grey water) dan rembesan cairan tinja disaring se­belum dibuang ke selokan. "Karena ke­mampuan ini, kami menamakannya MCK plus-plus," kata Hamzah Harun Al-Rasyid, Direktur BEST, kepada Tem­ po tiga pekan lalu.

   Di MCK plus-plus itu, sekali buang ha­jat tarifnya cuma Rp 300, lebih murah dibanding toilet di terminal atau stasiun yang mematok bayaran Rp 1.000. Kalau bayar seribu, bisa dapat bonus sebatang rokok.

Menurut Hamzah, jamban ramah ling­kungan itu sengaja dibangun di permu­kiman kumuh yang selama ini dihuni para buruh dan hidup di bawah standar kesehatan.

Salah satu pelanggan kakus oke itu adalah Didi Sarwadi. Lelaki yang me­ngontrak rumah di samping MCK++

Jatake itu punya cerita unik. Menurut dia, sang pemilik kontrakan hanya me­nyediakan dua kamar mandi dan klo­set untuk 60 keluarga yang menempa­ti rumah petak. Alhasil, pada pagi dan malam hari, terjadi antrean panjang. Belum lagi jika musim kemarau, pom­pa tidak mampu menyedot air sehingga warga harus membeli air.

Kehadiran MCK++ di depan rumah­

nya menjadi berkah tersendiri. Buruh pabrik permen ini bisa mandi sepuas­nya, juga buang hajat dengan nyaman. "Anak saya bahkan sehari tiga kali ke MCK itu," ujar Didi menyebut Lidya Fe­brianti, anaknya yang berusia tujuh ta­hun. Untuk mandi, dikenakan tarif Rp 400, sedangkan mencuci biayanya Rp 300 tiap ember.

Berkah kehadiran MCK plus-plus ter­lihat di Kampung Alam Jaya, Tangerang. Faizin, sang penjaga toilet umum itu, bercerita, sebelumnya wilayah itu sangat kumuh. Warga menggunakan jamban helikopter di tepi sungai sehingga bau busuk dan lalat memenuhi udara, ter­utama saat kemarau. Kondisi ini lama­kelamaan membuat bisnis kontrakan lesu. "Tarif kontrakan sudah diturun­kan jadi Rp 30 ribu per bulan, tapi tak ada yang mau," katanya.

Setelah dibangun MCK plus-plus, kon­trakan pun laris. Bahkan harga sewa rumah petak satu kamar melonjak jadi Rp 120 ribu. Faizin dan pemilik kon­trakan pun sama-sama bungah kare­na mendapat berkat dari urusan buang hajat.

Tanggal Tayang : 20-6-2006
Sumber :

 
   
 
 
Ke Artikel Sebelumnya                                     Ke Artikel Selanjutnya
 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia