KUPANG, RABU - Perusahaan Listrik Negara (PLN) siap menggunakan bahan bakar minyak (BBM) yang bersumber dari tanaman jarak pagar (Jatropa curcas) untuk melayani kebutuhan listrik penduduk Indonesia terutama yang bermukim di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
"BBM jarak pagar memang cocok untuk pelayanan kelistrikan di NTT karena potensinya memungkinkan. Kalau sudah ada produksi biji jarak menjadi bahan bakar dalam enam bulan ke depan tentu tahun depan kami gunakan," kata Manajer Pengembangan Energi Direktorat Pembangkit dan Energi Utama PLN, Ario Senoaji, di Atambua, Rabu (12/7).
Ia ikut dalam rombongan Jatropha Expedition 2006 atau uji coba kendaraan pengguna bahan bakar minyak jarak yang dimulai dari Atambua, Kabupaten Belu Provinsi NTT, menuju Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), SoE, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) hingga Kupang, ibukota Provinsi NTT.
Selanjutnya, menyeberang ke Larantuka Kabupaten Flores Timur kemudian menyusuri jalur darat menuju Ende, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat dan kembali menyeberang ke Bima, Lombok hingga Denpasar Bali dan meneruskan perjalanan darat ke Jakarta melalui Bandung, Jawa Barat.
Senoaji mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir ini PLN sudah mengembangkan sistem pelistrikan menggunakan bahan bakar bio-energi seperti BBM jatropha yang mulai dikembangkan di wilayah NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan daerah lainnya.
Bio-energi lainnya yang bersumber dari minyak pohon palm sudah diuji coba di Provinsi Lampung dalam tiga bulan terakhir ini dan hasilnya cukup memuaskan sehingga layak dikembangkan di daerah lainnya yang juga berpotensi menghasilkan BBM palm seperti di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
Uji coba minyak palm itu pun sudah ditindaklanjuti dengan instruksi kepada manajemen PLN di berbagai wilayah yang banyak memiliki sumber bahan bakar bio-diesel itu. Namun dalam penggunaannya dicampur dengan solar (minyak diesel).
"BBM jatropha cocok di NTT sementara `palm oil` lebih sesuai jika dipergunakan di Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Kita lihat saja perkembangannnya nanti, kalau potensi jatropha di wilayah NTT diberdayakan secara baik tentu membantu PLN meningkatkan pelayanan kelistrikan," ujarnya.
Ia optimis di masa mendatang BBM jatropha produksi NTT mampu mengganti peran bahan bakar minyak fosil yang jumlahnya relatif terbatas. Ketersediaan BBM jatropha itu akan sangat membantu PLN dalam meningkatkan pelayanan.
Sejauh ini, PLN Wilayah NTT belum melayani kebutuhan listrik di 20 kecamatan yang menyebar di 16 kabupaten/kota di daerah kepulauan NTT karena terbentur kendala distribusi bahan bakar hingga mencapai daerah pelosok.
"Selama ini kami kesulitan menjangkau daerah pelosok dalam penyediaan bahan bakar penunjang pelayanan kelistrikan. Kalau BBM jatropha sudah tersedia dalam kapasitas siap pakai tentu akan sangat membantu menjawab kebutuhan listrik seluruh masyarakat di daerah ini," jelasnya.
Sejak 25 Juni 2002, PT PLN Wilayah NTT dipercayakan menjadi unit bisnis mandiri atau terlepas dari cakupan PLN Wilayah Bali yang meliputi NTT dan NTB. Meskipun hingga kini PLN NTT baru memiliki empat kantor cabang, 15 ranting dan 83 sub ranting dengan 216.898 pelanggan.
|