JAKARTA: PT PLN menandatangani letter of intent dengan lima perusahaan pemasok batu bara kalori rendah dengan volume 21,12 juta ton per tahun.
Batu bara tersebut dipasok sebagai bahan bakar pembangkit untuk program percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT PLN sebesar 10.000 MW.
Deputi Direktur Energi Primer PLN Tonny Agus Mulyantono mengatakan nilai kontrak dengan kelima perusahaan tersebut berkisar Rp239.296 hingga Rp274.999 per ton dan tergantung pada lokasi pembangkit listrik PLTU.
"Dengan kelima perusahaan ini kami menandatangani letter of intent [LoI], sedangkan tanda tangan kontrak menunggu penandatanganan kontrak PLTU, ini penting untuk sinkronisasi jadwal," ujarnya, kemarin.
Tonny mengatakan dari enam perusahaan/konsorsium yang memasukkan dokumen penawaran, hanya lima yang berhasil lolos evaluasi. Kelima perusahaan itu adalah PT Surya Sakti Darma Kencana (Kalsel), PT Baramutiara Prima (Sumsel), Konsorsium PT Kasih Industri Indonesia dan PT Senamas Energindo Mulia (Kalsel), PT Titan Mining Energy (Jambi), serta Konsorsium PT Arutmin Indonesia dan PT Darma Henwa. (lihat tabel)
Sedangkan PT Padang Bara Sukses Makmur dinyatakan tidak sah karena tidak memasukkan performance bond.
Berdasarkan catatan Bisnis, PT Arutmin Indonesia menjadi the lower price leader dalam tender pangadaan batu bara untuk proyek PLTU 10.000 MW di lima lokasi.
Tonny menjelaskan the lower price leader dijadikan acuan harga bagi peserta lainnya, karena untuk satu PLTU dibutuhkan empat pemasok dengan komposisi 50%, 30%, 15%, dan 5%.
"Demi security of supply maka satu PLTU harus dipasok empat perusahaan, karena itu tidak ada pemenang tunggal, kami hanya menetapkan the lower price leader sebagai pemenang dengan harga terendah yang dijadikan patokan bagi perusahaan lain jika ingin tetap menjadi pemasok," jelasnya. (Bisnis, 7 Oktober)
Tender lagi
Menurut Tony yang juga Ketua Tim Lelang Pengadaan Batubara PT PLN, BUMN kelistrikan tersebut paling lambat Januari 2007 akan kembali melakukan tender tambahan pengadaan batu bara kalori rendah dengan volume 3,82 juta. Pasalnya, tender batu bara kali ini belum mampu memenuhi kebutuhan sebesar 24,9 juta ton per tahun, sehingga kekurangannya akan dipenuhi melalui tender baru.
"Pasokan dari lima perusahaan itu hanya memenuhi 85% dari kebutuhan."
Tonny mengakui memang terdapat beberapa perusahaan seperti PT Baramutiara Prima, PT Kasih Industri Indonesia-PT Senamas Energindo Mulia dan PT Titan mining Energy yang masih berstatus belum memproduksi batu bara kalori rendah, karena pasar batu bara kalori rendah baru ada saat ini.
"Makanya LoI terbit sekarang, deliver-nya 2009, diharapkan pada waktu 3 tahun mereka persiapkan segala sesuatunya yaitu infrastruktur penambangan."
Dia menjelaskan pengiriman pertama untuk pasokan batu bara baru akan dilakukan sekitar November 2009 bersamaan dengan selesainya pembangunan PLTU.
Menurut Tonny, dalam proses prakualifikasi sudah dilakukan uji tuntas bahwa perusahaan yang berhasil lolos adalah perusahaan yang mempunyai cadangan minimum 150 juta ton, karena kontraknya untuk jangka waktu 20 tahun.
Ketika ditanyakan bagaimana jika perusahaan tersebut ada yang tidak mampu memenuhi komitmen, Tonny mengatakan pihaknya akan mencairkan performance bond. "Sesuai dengan kontrak pada saat kontrak ditandatangani mereka menyampaikan jaminan pelaksanaan, atau performance bond. Itu komitmen pemasok. Kalau mereka gagal, itu tadi dapat dicairkan."
Sementara itu, Ketua Tim Percepatan Pembangunan Pembangkit 10.000 MW Yogo Pratomo mengatakan pekan ini pihaknya akan menyelesaikan evaluasi teknis terhadap pihak yang memasukkan dokumen untuk PLTU Suralaya Baru dan Paiton yang masing-masing berkapasitas 1x600 MW. Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan memasukkan penawaran harga.
Selain itu, dia menambahkan dalam beberapa hari ini direksi PLN tengah memproses bahan-bahan yang akan disampaikan kepada Kejaksaan Agung terkait dugaan tidak sahnya tender PLTU batu bara kapasitas 300-400 MW, sehingga untuk proses tersebut belum ada keputusan.
Namun, dia meyakini hal itu tidak akan memperlambat percepatan pembangunan pembangkit 10.000 MW. "Kelas 300-400 MW kan rencananya selesai 30 bulan, kalau kita harapkan selesai Oktober 2009, berarti konstruksi itu harus dimulai Juni 2007, jadi kita masih punya waktu." (08) (redaksi@bisnis.co.id) |