Bandung-Pemadaman listrik yang terjadi di kawasan Jabodetabek akhir-akhir ini disebabkan meningkatnya konsumsi listrik oleh sektor industri. Plt Direktur Utama PT PLN Juanda Nugraha Ibrahim mengatakan ada peningkatan konsumsi listrik hingga sekitar 2 persen.
Peningkatan konsumsi listrik menyebabkan terserapnya BBM lebih banyak lagi. Dengan begitu cadangan BBM yang ada menjadi menipis.
”Dari segi pengiriman BBM dari Pertamina sebenarnya tidak ada masalah,” kata Juanda.
Ketika ditemui seusai penandatanganan kerja sama antara PT PLN dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (27/7), Juanda mengakui lonjakan konsumsi listrik oleh industri ini tidak diantisipasi sebelumnya oleh PLN dalam hal penyiapan BBM. Oleh karena itu, ketika lonjakan, cadangan BBM tidak memadai.
Dengan cadangan BBM yang tidak memadai ini akhirnya menyebabkan terjadinya pemadaman listrik di sejumlah wilayah di Jabodetabek. Masalah ini kini telah dapat diatasi PLN.
PLN sendiri sebelum 10 Agustus nanti akan mengoperasikan Gardu Induk Tegangan Tinggi (Gitet) Depok. Gitet Depok ini masuk dalam transmisi Cibinong-Gandul. Dioperasikannya Gitet Cibinong ini akan menambah pasokan listrik ke kawasan Jakarta. ”Jadi kalau ada kekurangan pasokan karena BBM, dapat dipasok dari Gitet Depok,” terang Juanda.
Pada bagian lain Juanda mengungkapkan rencana penggunaan sampah sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Untuk pengembangan pemakaian sampah ini PLN bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi seperti ITB.
Menurut Juanda dalam enam bulan pihak ITB akan membuat desainnya terlebih dahulu. Setelah itu, dalam dua tahun mendatang diharapkan dapat dioperasikan pembangkit listrik berbahan bakar sampah.
Juanda mengatakan PLN siap memanfaatkan listrik yang dihasilkan dari pembangkit berbahan bakar sampah ini. Harga listrik yang dihasilkan dari pembangkit berbahan bakar sampah ini diperkirakan lebih tinggi dibandingkan harga listrik yang dihasilkan pembangkit berbahan bakar lainnya.
Investasi yang dibutuhkan untuk pembangkit listrik berbahan bakar sampah ini diperkirakan mencapai Rp 11 miliar untuk setiap 1 megawatt yang dihasilkan. ”Sudah banyak investor yang berminat, terutama investor lokal,” ujar Juanda.
(didit ernanto)
|