PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), BUMN yang mengelola delapan pabrik gula di Jawa, akan mengembangkan bisnis minyak jarak dari pohon jarak (jatropha curcas oil), yang akan digunakan untuk pengganti BBM dalam menggerakan mesin pabrik dan prosesing nira menjadi gula.
"Ekspansi usaha minyak jarak ini jelas bukan untuk menggeser bisnis inti kami yakni produksi gula, namun dalam proses produksi gula, kami banyak menggunakan solar sebagai bahan bakar untuk menggerakan peralatan pabrik dan prosessing nira menjadi gula. Sementara harga solar terus melonjak sehingga meningkatkan biaya produksi," kata Dirut Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Rama Prihandana, di Jakarta, Minggu (7/8).
RNI akan bekerjasama dengan Pemda Purwakarta yang akan menyediakan lahan kritis atau lahan gundul seluas 2.000 - 2.500 Ha untuk ditanami tanaman jarak, sedangkan BUMN yang memproduksi gula itu akan investasi pabrik dan mesin pengolahan minyak jarak.
"Buah tanaman jaraknya akan dibeli RNI dan kami olah untuk menjadi minyak jarak yang akan digunakan untuk bahan bakar mesin pabrik gula kami. Pabrik minyak jarak di Purwakarta diperkirakan mulai produksi pada Agustus 2006," ujar dia.
Selain di Purwakarta, RNI juga sudah menanam pohon jarak di atas tanah seluas 850 Ha di Indramayu, di sekitar pabrik gulanya Jati VII.
"Kami juga akan menjajaki Pemda Indramayu untuk memanfaatkan lahan kritis atau gundul di Indramayu guna ditanami pohon jarak. Nanti kami dirikan pabrik pengolahannya di sana," katanya.
Ekspansi bisnis minyak jarak ini akan membantu para petani di daerah dan juga pengangguran. Diperkirakan petani akan mendapatkan pendapatan tambahan sebesar Rp6,5 juta per hektar per tahun dari pengelolaan perkebunan pohon jarak, kata Rama.
Di samping itu, ekspansi bisnis minyak jarak juga untuk meningkatkan efisiensi produksi gula dan mendukung kebijakan pemerintah melakukan efisiensi BBM.
"Konsumsi solar pada industri gula kami mencapai 10 juta liter pada tahun 2005. Itu pun setelah dilakukan langkah efisiensi. Sebelumnya konsumsi solar mencapai 16,4 juta liter pada tahun 2002. Langkah efisiensi itu dilakukan dengan penggunaan bahan bakar non BBM," kata Rama.
Walau pun konsumsi solar di RNI menurun namun harga solar melonjak naik. Jadi penurunan konsumsi solar relatif tidak banyak menekan biaya pengeluaran.
Contohnya, tahun 2002, konsumsi solar produksi gula RNI mencapai 16,4 juta liter, harga solar masih Rp1.300 per liter, jadi pengeluarannya sekitar Rp21,3 miliar, sedangkan konsumsi solar tahun 2005 diperkirakan sebesar 10 juta liter dengan harga solar Rp2.200 per liter maka pengeluaran menjadi Rp22 miliar.
Hal itu menunjukan walaupun RNI sudah mengurangi konsumsi solar namun pengeluarannya lebih besar antara tahun 2005 dengan 2002.
Apalagi mulai 1 Agustus 2005, pemerintah menaikan harga solar bagi industri menjadi Rp5.480 per liter maka pengeluaran kami untuk BBM akan makin membengkak.
Mau tidak mau, RNI akan mengembangkan bisnis minyak jarak guna menggantikan BBM dalam proses produksi," kata Dirut RNI itu. (*/bun)