Jakarta, Bahan bakar dari minyak jarak bakal menjadi kenyataan. PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) akan segera merealisasikan produksi 10 juta liter minyak jarak mulai Juni 2006.
Untuk merealisasikannya, RNI akan segera melakukan kerjasama dengan Perum Perhutani dan Dinas Perkebunan Provinsi Jatim (Disbun Jatim) untuk pengolahan 3.000 hektar tanaman jarak.
Kerjasama RNI dengan dua instansi pemerintah ini merupakan bagian dari ekspansi usaha minyak jarak yang sudah dirintis RNI sejak pertengahan tahun 2005.
Menurut Dirut RNI, Rama Prihandana, dengan kerjasama ini RNI akan menampung dan membeli seluruh hasil biji jarak yang ditanam petani, baik yang dikoordinasikan oleh Perhutani maupun Disbun Jatim.
"Hasil tanaman jarak itu akan langsung diproses menjadi minyak jarak melalui teknologi yang dikembangkan RNI," kata Rama dalam siaran pers yang diterima detikcom, Jumat (23/12/2005).
RNI berharap, produksi minyak jarak yang akan menggantikan solar ini bisa meringankan beban perusahaannya. "Konsumsi solar industri kami mencapai 10 juta liter pada tahun 2005. Itu pun setelah dilakukan berbagai efisiensi," tambah Rama. RNI pada tahun 2002 tercatat mengkonsumsi solar hingga 16,4 juta liter.
Berdasarkan perhitungan bisnis pohon jarak, untuk perkebunan tanaman jarak seluas 1.200-1.250 hektar akan menghasilkan 3,25 juta kiloliter solar per tahun. Dan jika RNI menanam sekitar 3.000 hektar, maka seluruh kebutuhan bahan bakar pabrik gula RNI di seluruh Jawa akan terpenuhi.
Sejak Juni 2005, RNI sudah mengembangkan ratusan hektar tanaman jarak di lahan pabrik gula (PG) Jati Tujuh Indramayu dan PG Grati Agung, Pasuruan. Di dua lokasi itu, penanaman jarak diproses menjadi minyak bakar yang akan menggantikan solar di 9 pabrik gula milik RNI di Jawa Barat dan Jawa Timur.
Untuk tahun 2006, penyiapan bahan bakar untuk operasional giling pabrik gula ditargetkan mencapai 4,6 juta liter yang akan ditargetkan menjadi 10 juta liter pada tahun 2007 dan 2008.(qom/)