Kenaikan harga bakar minyak (BBM) pada Maret 2005, mendorong industri beralih 100% menggunakan pasokan listrik PLN, akibatnya konsumsi meningkat 200 MW-300 MW per bulan.
Keruan saja PLN pun akan berlakukan tarif khusus untuk industri pada beban puncak mulai September, akibat tingginya lonjakan konsumsi listrik. PLN mencatat industri merupakan konsumen energi terbesar dibandingkan rumah tangga, komersial dan transportasi.
Sejak 1 Maret, harga minyak tanah untuk industri ditetapkan Rp2.200/liter naik dari sebelumnya Rp1.000/liter. Sedangkan per 1 Agustus harga solar industri dinaikkan menjadi Rp5.480/liter.
Sementara harga minyak mentah di pasar internasional terus bergerak naik di atas US$60-an, bahkan bukan tidak mungkin menurut para analis pasar, harga bisa menembus angka US$70-an. Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga minyak dunia nantinya akan berimbas pada kenaikan harga produk lainnya.
Orang nomor satu di republik ini pun menyerukan penghematan energi secara nasional, sehingga diharapkan mengurangi konsumsi BBM sebesar 5%-10%. Seruannya itu pun diluncurkan saat kunjungannya ke Beijing, China akhir Juli lalu.
Bahkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kian agresif mengkampanyekan penggunaan bio-oil sebagai alternatif di industri tekstil, karena diketahui bisa memberikan penghematan biaya produksi.
Sedangkan Manajemen PT Toyota Astra Motor menilai gasohol [campuran gasoline dan alkohol] layak dikembangkan menjadi energi alternatif, yang bersumber dari bahan baku singkong.
Deputi Menteri Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady mengatakan pemerintah akan memberikan insentif bagi pelaksana R&D biodiesel yang berbahan baku crude palm oil (CPO) sebagai pengganti solar. Selain CPO ada 40 jenis minyaklain yang dapat menjadi bahan baku biodiesel a.l. minyak kelapa, kapuk, jarak.
Makin tingginya harga BBM menuntut para pelaku ekonomi makin kreatif. Sebut saja dari mulai pengolahan minyak jelantah, minyak sawit yang dijadikan biodiesel, seolah menjadi keharusan bagi para produsen untuk kreatif memproduksi sumber energi alternatif.
Adalah PT Rajawali Nusantara Indonesia -BUMN yang mengelola delapan pabrik gula-yang juga mencoba menghasilkan sumber-sumber energi alternatif pengganti BBM dalam upaya langkah efisiensi.
Sebelumnya beberapa bahan bakar alternatif telah digunakan pabrik gula PT RNI a.l. bahan bakar daduk (daun kering tebu) dan kayu disamping ampas tebu dan residu (BBM), bahan bakar grajen (serutan kayu) dan batubara, serta sekam padi. Upaya efisiensi penggunaan energi telah dilakukan pabrik gula RNI sejak 2003. (lihat tabel)
Dari hasil efisiensi yang didapat dari energi alternatif penggunaan bahan bakar non BBM, berhasil menekan penggunaan residu/solar yang cukup signifikan, yaitu dari 16.411.654 liter pada 2002 menjadi 12.429.520 liter pada 2004. Dan pada 2005 ini diharapkan hanya sekitar 10 juta liter.
Meski konsumsi solar di RNI menurun, tetapi harga solar melonjak naik. Pada 2002, ketika harga solar masih Rp1.300 per liter, RNI harus mengeluarkan biaya Rp21,3 miliar, sedangkan konsumsi solar pada tahun ini diperkirakan 10 juta liter dengan harga solar Rp2.200 per liter maka pengeluaran menjadi Rp22 miliar.
Makin mahal
Apalagi mulai 1 Agustus 2005, pemerintah menaikan harga solar bagi industri menjadi Rp5.480 per liter maka pengeluaran RNI untuk BBM akan makin membengkak.
Untuk itulah pada tahun ini, PT RNI mencoba mengembangkan tanaman jarak (Jatropha curcas oil) yang bisa menghasilkan minyak sebagai bahan bakar alternatif dan akan dikembangkan secara komersial mulai 2006, dan akan digunakan dalam menggerakkan mesin pabrik dan prosesing nira menjadi gula.
Dalam proses produksi gula, RNI memang banyak menggunakan solar sebagai bahan bakar untuk menggerakan peralatan pabrik dan prosessing nira menjadi gula. Selain BBM, ampas tebu kerap digunakan sebagai sumber energi di pabrik gula. Karena bahan bakar dibutuhkan untuk menghasilkan tenaga uap pada boiler yang berguna untuk menggerakkan altenator (penghasil listrik), menggerakkan peralatan pabrik dan proses pembuataannira menjadi gulan.
Untuk itulah manajemen RNI, dalam waktu dekat akan bekerjasama dengan Pemda Purwakarta untuk mengembangkan tanaman jarak. Pemda tersebut yang akan menyediakan lahan kritis atau lahan gundul seluas 2.000 - 2.500 Ha untuk ditanami tanaman jarak, dan RNI akan investasi pabrik dan mesin pengolahan minyak jarak tersebut.
Konon untuk investasi tanaman jarak seluas 2.500 Ha, satu unit pabrik, tempat penyimpanan, lahan inti dan memberikan penyuluhan kepada petani tentang bagaimana menanam dan mengolah jarak membutuhkan dana sekitar Rp8 miliar.
Buah tanaman jaraknya akan dibeli RNI dan diolah untuk menjadi minyak yang akan digunakan untuk bahan bakar mesin pabrik RNI. Pabrik minyak jarak di Purwakarta itu sendiri diperkirakan mulai produksi pada Agustus 2006.
Saat ini, RNI sudah menanam pohon jarak di atas tanah seluas 850 Ha di Indramayu, di sekitar pabrik gula Jati VII. Penjajakan dengan Pemda Indramayu untuk memanfaatkan lahan kritis, atau gundul di sekitar daerah itu, untuk ditanami pohon jarak terus dilakukan RNI. Sementara pabrik pengolahannya pun akan dibangun di lokasi tersebut.
Pengembangan bisnis minyak jarak ini diyakini manajemen RNI dapat membantu petani di daerah pengembangan tanaman tersebut, dan juga mengatasi pengangguran. Menurut hitung-hitungan RNI, petani akan mendapatkan pendapatan tambahan sebesar Rp6,5 juta per hektar per tahun dari pengelolaan perkebunan pohon jarak.
Minyak jarak secara teknis dapat menggantikan minyak diesel karena cetane number minyak jarak lebih tinggi dari pada minyak diesel. Hanya viskositas minyak jarak lebih tinggi dibandingkan minyak diesel. Tetapi hal ini dapat diatasi dengan sistem pemanasan yang temperaturnya mencapai 70-80 derajat Celsius.
Sedangkan secara aspek ekonomis, dengan asumsi 1.000 Ha tanaman jarak pagar (2.500 pohon per Ha) bisa menghasilkan buah sebanyak 12.500 ton (hasil buah per pohon sekitar 5 kg/per/tahun).
Minyak yang dihasilkan minimal 2.925 ton solar dan 1.575 ton residu setiap tahun (rendeman 35%) setara dengan 4.755.435 liter minyak (BD minyak 0,92 kg/liter), sehingga harga pokok minyak jarak per liter diperkirakan mencapai Rp1.800.
Bila asumsi penggunaan solar yang akan diganti dengan minyak jarak sebanyak 10 juta liter per satu masa giling, maka penghematan yang diraih RNI mencapai Rp8 miliar (dengan asumsi harga solar untuk industri Rp2.600 per liter).
Menurut kajian Robert Manurung MEng, Departemen Teknik Kimia ITB dan Rama Prihadana, Direktur Utama PT RNI, setiap satu hektar lahan tanaman jarak dibutuhkan tiga orang tenaga kerja, dan untuk 1.000 Ha lahan diperlukan satu unit pengolahan minyak jarak (UPMJ). Sedangkan harga pengolahan produksi jarak untuk menjadi solar sekitar Rp1.500 per liter dan untuk residu Rp600 per liter.
Bila program penanaman jarak itu dilakukan secara massal di lahan gundul atau kritis, kajian itu menyebutkan, akan diperoleh dua hal yang sangat positif, yaitu reboisasi di lahan tandus/gundul dan menciptakan bahan bakar alterntif. Atau bahkan bila sebagai program secara nasional diharapkan dapat mengentaskan kemiskinan dan pembangunan pedesaan.