|
Menjadi industri gula yang kompetitif, RNI telah mengubah dirinya dari industri gula menuju industri tebu. Usaha utama adalah menekan harga pokok produksi melalui berbagai inovasi dengan konsep zero waste baik yang dilakukan di pabrik (off farm) maupun di kebun (on farm). Saat ini RNI telah mampu menekan harga pokok produksi dari Rp 3.400 pada tahun 2001 menjadi Rp 2.559 pada tahun 2004. Penurunan HPP gula tersebut dilakukan melalui penciptaan pertambahan nilai (value creation) di produk samping tebu (by product) dan produksi hilir (down stream product) sehingga terjadi transfer pricing harga pokok gula.
Beberapa produk yang telah dikembangkan adalah pakan ternak, partikel board, kampas rem, serta limbah PG yang dijadikan pupuk mixed. Sedangkan produk hilir adalah alkohol, arak dan spiritus. Seianjutnya menekan harga produksi dilakukan pula melalui penggunaan bahan bakar alternatif seperti pemakaian daduk (daun kering tebu), grajen, serta batu bara muda. Saat ini RNI sedang mengembangkan Bio-Energi melalui pengembangan tanaman jarak pagar {Jatropha curcas Linnaeus). Jatropha oil adalah alternatif energi hijau yang terbaik dibanding energi aiternatif lainnya. RNI menargetkan penggunaan Jatropha Oil menggantikan BBM fosil sebanyak 10 juta liter per tahun di 10 pabrikgula milik RNI.
Dengan dikembangkannya tanaman jarak pagar sebagai bahan bakar alternatif yang terbarukan (renewable) akan terbuka kesempatan lapangan pekerjaan baru dan peluang usaha dari sektor ini.
|
|
|
Peluang ini dimulai dari kepemilikan lahan, pembibitan, pemupukan, petik angkut hingga kepemiiikan unit pengolahan jarak.
Para petani dapat meningkatkan kesejahteraannya terutama di daerah marginal. Petani memiliki peluang pendapatan sebesar Rp 6.250.000 per hektar, dengan investasi Rp 3 juta - Rp 4 juta dapat memproduksi minyak jarak sendiri dengan cara pemerasan langsung untuk menghasilkan 40 liter minyak per hari. |
|